My Future Husband

My Future Husband
Masih Ragu


__ADS_3

Kinara sudah sampai di depan pintu ruangan yang akan dia gunakan untuk operasi nanti. Jujur saja saat melihat bagian dalam disana yang terpampang jelas alat-alat medis itu membuat Kinara ciut nyalinya.


Dito yang ada di belakang Kinara menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa? Lo takut?." Tanya Dito.


Kinara berbalik badan melihat wajah Dito dengan seksama. Perasaan Kinara sangat kacau sekarang.


Sekuat apapun itu Kinara memang akan takut jika harus berhadapan dengan alat-alat mengerikan itu.


Padahal operasi belum mulai entah kenapa rasanya tak sanggup menjalani ini semua.


"Apa semua sudah siap?" Tanya Kinara pelan. Berharap jika dirinya masih menunggu Joe.


"Ya. Joe sudah di dalam menunggu ko sedari tadi. Masuklah, agar tidak membuang waktu." Jawab Dito datar. Dia hendak meraih gagang pintu agar itu tapi di tahan oleh Kinara.


"Tunggu! Bisa kah gue berdoa dulu?." Pinta Kinara dengan mata memanas.


Dito menggangguk "cepatlah!."


Dengan hati yang tak karuan Kinara ingin menyerahkan semua masalah kepada Tuhan.


Mungkin dengan berbicara pada Tuhan akan membuat Kinara sedikit tenang. Lagi pula Kinara tak ingin operasi ini terjadi begitu saja.


Betapa bahagianya Joe jika rencana jahatnya itu dengan mudah dikabulkan Tuhan.


Ini hak Kinara. Wajah Kinara itu adalah hak manusia yang mutlak tidak dapat diambil siapapun itu. Sama seperti Joe yang bersih keras ingin mengambil wajah Kinara.


Akhirnya dengan ragu-ragu Kinara menarik gagang pintu itu.


"Hei! Apa Lo udah siap?." Tanya Bimo datang menghampiri Kinara dengan wajah datar dan kakunya.


"Darimana aja!! Lo harus menunggu putri!!." Desis Dito menatap tajam.


Bimo tersenyum sembari menggaruk tengkuknya itu yang tidak gatal.


"Maaf. Gue baru saja ke toilet buang hajat." Jawab Bimo.


Dito memutar bola matanya dengan malas. Bimo memang tidak bisa diandalkan.


"Yasuda ayok masuk!." Perintah Dito tegas.


Kinara langsung membuka pintu itu. Dengan rasa gugup yang sangat kuat biasa.


Bahkan tangan dan kaki Kinara mengeluarkan keringat dingin. Cuaca tidak panas, tapi Kinara merasa hawa dingin dan panas menyatu di tubuhnya. Mungkin dia terlalu gugup sekarang.


Ceklek

__ADS_1


Pintu terbuka dengan lebar. Kinara mendorong pintu itu dengan gerakan sangat lamban. Berharap jika dia tidak melihat Joe.


Matanya terpejam tatkala melihat Joe yang sudah terbaring di brangkar. Kinara merasakan aura yang berbeda di ruangan itu.


Disana sudah ada dokter pria yang menunggu Kinara. Mungkin benar jika Kinara memang sudah di tunggu lama.


"Selamat pagi nona Kinara, mari silahkan masuk." Pinta dokter Darma dengan sopan.


Kinara membuka matanya pelan. Rasa gugup itu semakin menjadi ketika Kinara melihat berbagai alat yang begitu megah dan menyeramkan.


Tubuh Kinara bergetar. Dirinya terhuyung ke belakang karena tidak bisa menahan keseimbangan.


Dito dan Bimo dengan cepat menahan tubuh Kinara.


"Lo nggak papa?." Tanya Dito.


"Tidak. Sepertinya lantainya sedikit licin." Cengir Kinara tanpa dosa.


Bimo segera berjongkok mengecek keadaan lantai. Apakah benar jika lantainya itu belum kering atau malah sepatu Kinara yang tipis.


Tapi sepertinya memang benar. Karena tadi para maid baru saja membersihkan tempat itu.


"Sudah tidak apa-apa." Ucap Bimo.


Kinara tersenyum menggangguk ke arah Bimo dan Dito.


"Tidak apa!."


Darma mendekati Kinara. "Mari nona, segera berbaring disini." Tunjuknya ke arah brangkar sebelah kanan.


"Baiklah." Jawab Kinara. Dia segera mendekat ke arah brangkar dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.


Berbaring menatap ke atas. Tuhan semoga operasi ini tidak terjadi. Kinara mohon kepada Tuhan! Kinara ingin hidup bahagia bersama keluarga dan juga Sean. Berikan jalan yang terbaik Tuhan. Bathin Kinara berdoa agar Tuhan mau mengabulkan apa yang dia minta.


"Pak Dito, Bimo, saya akan melakukan operasi plastik ini sekarang. Silahkan anda tunggu di luar." Ucap Darma dengan sopan.


"Putri, kami keluar terlebih dahulu. Jika ada apa-apa saya di luar."


"Baiklah." Saut Joe.


Dito dan Bimo menggangguk patuh. Mereka berdua keluar ruangan. Memberikan akses agar Darma bisa fokus terhadap pekerjaan nya.


Setelah pintu tertutup dengan rapat Darma melihat Kinara dan Joe secara bergantian.


Tuhan, lancarkan semua urusan ini agar nyawa saya bisa selamat. Bathin Darma menarik nafas panjang.


"Apa semua sudah siap?." Tanya Darma tersenyum ke arah Kinara dan juga Joe.

__ADS_1


"Siap!." Jawab Joe tegas. Dia sudah siap melakukan operasi ini. Walau ada rasa takut, tapi sebisa mungkin Joe bisa menghilangkan perasaan itu.


"Bagaimana dengan anda?." Tanya Darma ke arah Kinara.


Sepertinya Kinara memang tegang. Terlihat sangat jelas dari wajah Kinara. Mungkin dia belum terbiasa melihat alat-alat medis seperti ini.


"Sa...ya em-mm, baik-baik saja." Saut Kinara.


"Apa anda takut?."


"Sedikit." Cicit Kinara ragu. Dia melirik ke arah Joe yang menatapnya dengan tajam.


"Tarik nafas dulu ya nona Kinara. Percaya sama Tuhan dan saya. Jika operasi ini bisa berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan." Ucap Darma.


Kinara mengikuti semua yang dianjurkan oleh Darma. Untuk sesaat perasaannya sudah tenang. Tapi kadang rasa itu datang tiba-tiba tak menentu. Kinara juga bingung, dia sangat takut untuk saat ini


"Tenanglah! Jangan takut Kinara!." Ucap Joe tegas. "Ingat perjanjian kita!."


Kinara menatap Joe tajam. Ini belum mendapat persutujuan dari Kinara, tali Joe sudah memaksa.


Perjanjian apa?! Gue nggak mau melakukan ini. Bagaimana pun ini wajah gue!! Dan hak gue!. Bathin Kinara menahan kesal.


Darma segera melerai empat tatapan mata tajam itu. Dia buru mengambil suntikan dan memberikan obat bius.


Obat itu sangat berfungsi untuk melancarkan operasi itu nanti.


Dengan begitu Kinara dan Joe tidak akan merasakan sakit saat sayatan pisau mulai merobek wajah.


"Baiklah. Tenang ya nona Kinara dan Joe..... Saya akan menyuntik ini di pergelangan tangan." Ucap Darma tersenyum lembut.


Darma berjalan di pinggir brangkar Joe. "Maaf putri, untuk saat ini biar saya ambil wajah nona Kinara terlebih dahulu. Jadi putri Joe bisa tenangkan diri di luar."


Joe segera bangkit dari posisinya. Dia menatap dokter itu dengan tegas.


"Pastikan semua baik-baik saja!." Ucap tegas Joe.


Darma tersenyum. "Tenang saja, semua tergantung takdir dari Tuhan."


Kinara malah semakin gugup untuk sekarang. Rasanya kepala Kinara serasa ingin melayang kemana-mana. Rasa pusing yang berat disertai keringat yang bercucuran.


Sungguh Kinara sangat takut untuk melakukan operasi plastik ini.


"Kinara, ingat perjanjian kita. Jika operasi ini berhasil Lo selamat!." Tegas Joe menatap nyalang.


Kinara membalas tatapan itu dengan tajam juga. Sepertinya Joe sangat berharap ini semua terjadi.


Joe segera memutuskan kontak mata itu. Ia berjalan ke luar ruangan dengan langkah panjang. Darma menatap kepergian Joe dengan lega. Akhirnya detak jantungnya sedikit tenang.

__ADS_1


Bukan hanya Kinara saja yang takut. Tapi juga dengan Darma. Dia tak ingin hilang nyawa setelah ini.


__ADS_2