My Future Husband

My Future Husband
BAB 7


__ADS_3

BAB 7



Febri masuk ke dalam ruangan Arkan, jujur dia masih malu dengan kejadian semalam. Tapi ia harus bisa menahan rasa malunya untuk menemui Arkan, ia harus mendapatkan ponselnya sebelum Arkan mengetahui semua rahasianya. Febri mendesah semoga saja pria tua itu tidak memiliki sifat kepo yang sering membuka ponsel orang. Ternyata Arkan sudah tiba di sana duduk di sofa dengan mata terpejam, wajahnya terlihat kuyu, ada apa dengan Pak Arkan.



"Pak Arkan," panggil Febri pelan.



Tidak ada jawaban pria itu tetap pada posisinya, Febri mendekat mengguncang bahu Arkan namun sekali lagi pria itu tak menjawab. Febri mendesah, astaga tumben sekali pria itu tertidur, apa ia sedang kelelahan. Sejujurnya Febri tidak tega membangunkan, tapi demi ponsel dia siap melakukan apapun.



Febri menguncang lebih keras, hingga tangan Arkan menyentuh tangannya. Mata hitam nan pekat itu terbuka menatap Febri. Febri tersentak ia ingin melepaskan namun pria itu mengenggamnya erat kemudian membawanya ke dalam pelukan pria itu. febri menegang berada di dekapan pria itu, ia ingin melepaskan namun rasa nyaman itu membuatnya candu. Ia menyukai pelukan Arkan, pelukan yang tidak pernah ia dapatkan dari laki-laki manapun. Febri menyembunyikan wajahnya di dada Arkan, ia bisa merasakan degub irama pria itu.



Arkan mendekap tubuh mungil itu seakan-akan tidak ingin melepaskan. Ia merasa rapuh dipelukan gadis itu, ia ingin gadis itu menyembuhkan luka-lukanya di masalalu, ia merasakan tangan Febri membalas dekapannya. Terasa hangat dan menyenangkan, Arkan seperti merasakan ruang yang kosong di hatinya terisi.



"Kenapa kamu bisa membuat saya gila seperti ini," Arkan langsung melepaskan pelukannya, ia berdiri meninggalkan Febri yang terpaku dengan perkataan Arkan, ia merasa kehilangan ketika arkan melepaskan pelukan itu. Arkan merubah wajah sendunya menjadi datar. Ia lagi-lagi melanggar batas dengan menyentuh Febri.



"Kamu mau ponsel kamu saya kembalikan?" tanya Arkan pada Febri.



Febri langsung mengangguk cepat, walau jantungnya berdegub dengan kencangnya. Namun fikirannya masih berada pada pelukan hangat tadi, apa Arkan menyukainya? Febri menggeleng, mungkin Arkan sedang banyak masalah. Yang terpenting saat ini adalah ponselnya kembali ia tidak ingin Arkan mengetahui aibnya. Pokoknya ponselnya harus kembali.



"Jadi asisten saya selama satu semester," ucap Arkan dengan nada serius tanpa penolakan.


__ADS_1


"Maaf pak maksud bapak." Febri meminta Arkan mengulangi kalimatnya, tidak mungkin seorang Arkan memintanya menjadi Asisten. Itu sama saja bunuh diri.



"Jadi asisten saya, taukan kamu tugas asisten." Arkan menyeringai setelah mendapati wajah kaku Febri. Yang diucapkan Arkan nyata, Febri langsung membayangkan hari-harinya berlalu bersama pria tua ditaktor itu. itu tidak boleh terjadi, habislah hidupnya. Pria itu akan dengan bebas menyuruhnya kesana kemari tanpa ampun.



"Asisten," cicit Febri.



"Iya, jadi kamu bekerja sama saya selama satu semester tanpa dibayar." Arkan menyeringai akhirnya dia punya kesempatan balas dendam akibat ulah Febri kemarin yang menyimpan foto-foto sialan itu. pokoknya ia harus membuat gadis itu berada di bawah kendalinya.



"Tapi pak?" Febri menolak, astaga satu semester yang benar saja. Tugas dari dosen saja dia sudah kewalahan mengatur waktunya, ini ditambah menjadi asisten. Tidak dapat bayar lagi. Inimah namanya perbudakan.



"Kalau kamu tidak mau yasudah, ponsel kamu tidak saya kembalikan selama-lamanya," tantang Arkan.




Arkan memang sengaja menjadikan Febri sebagai Asistennya ia ingin mengenal calon istrinya sekaligus membimbing gadis itu agar tau kebiasaan calon suaminya sekalian mengerjai gadis itu. Semoga saja Febri tidak menyadarinya, dan juga belum mengetahui jika ia adalah calon suaminya.



"Saya mau pak, pliss jangan sita ponsel saya," tanpa piki panjang Febri menyetujui ide gila itu, biarlah dia menjadi pembantu Arkan yang terpenting ponselnya. Dia tidak ingin Arkan mengetahui jika ia sering memfoto pria itu diam-diam. Tamatlah riwayatnya jika Arkan tahu, pasti Arkan akan mentertawainya habis-habisan lebih parah dia akan di cap sebagai penguntit pria itu atau penggemar. Febri melakukan itu bukan atas rasa tertarik, tapi dia itu memang penggemar pria tampan, dan dia tidak akan melewatkan satupun pria tampan. Termasuk Rakan suami sahabatnya Savira. Menginat Rakan, ia jadi merindukan Savira temannya itu sedang di rawat di rumah sakit dan ia belum sempat menjenguknya karena terlalu sibuk berhadapan dengan pria tua di depannya ini.



Sial, padahal dulu ia yang ingin balas dendam kenapa sekarang ia yang ditindas oleh Pak Arkan. Ingin rasanya Febri mengutuk pria tua itu menjadi jomblo akut selamanya, mungkin saja dulu istrinya meminta cerai karena tidak tahan dengan sikap Arkan yang Arogant seperti itu. Dia saja tidak betah, semoga saja dia tidak mendapatkan jodoh seperti Arkan bisa mati muda dia.



"Oke deal." Seru Arkan senang.

__ADS_1



"Kamu tanda tangani surat perjanjian ini." Arkan menyerahkan sebuah berkas yang berisikan perjanjian mereka dimana dalam surat itu berisi surat perjanjian kesedian Febri menjadi Asisten Arkan selama satu semester. Febri mengambil surat itu dan menandatanganinya cepat tanpa membaca isinya. Arkan menggeleng-geleng melihatnya, sifat ceroboh gadis itu memang tidak bisa dihilangkan, lihat saja gadis itu dengan mudah mendatangani tanpa membaca. Andai dia bukan orang baik pasti dia sudah memanfaatkan Febri dengan surat itu.



"Lain kali dibaca dulu, jangan asal tanda tangan." Febri cemberut dia tidak mempedulikan omongan Arkan.



"Mana ponsel saya pak," pinta Febri sambil menyerahkan surat itu pada Arkan. Biarlah jadi asisten, yang penting ponselnya kembali.



Dia sudah kesal dengan pria ditaktor seperti Arkan. Pria itu bisa berbuat seenaknya pada dirinya, padahal ayahnya saja tidak pernah melakukan itu padanya. Febri rasanya ingin menangis tapi dia tidak boleh cengeng. Dia harus kuat berhadapan dengan Arkan,kenapa pula takdir menemukannya dengan Arkan.



"Ini. jangan lupa kamu belikan saya makan siang." Perintah Arkan sambil mengembalikan ponsel Febri. Febri tersenyum bahagia, akhirnya ponselnya kembali. Febri memeluk dan mencium ponselnya. Hidupnya akhir-akhir ini terasa hampa tanpa adanya ponsel tersebut.



"Siap pak!!" Ucap Febri. Ketika ia ingin bangkit, Arkan mengucapkan kalimat yang membuat tubuhnya membeku di tempat.



"Saya tahu saya tampan, kamu jangan sering-sering memfoto saya diam-diam nanti kamu jatuh cinta sama saya," ucap Arkan sambil menaik turunkan alisnya menggoda Febri.



Febri yang mencerna kalimat itu langsung gugup, sialan percuma dong perjuangannya selama ini untuk mendapatkan ponselnya kembali jika Arkan saja sudah tahu isinya. Huah mau ditaruh dimana mukanya sekarang. Pasti Arkan akan terus menggodanya.



"Kalau begitu saya cari makan buat bapak dulu." Febri langsung pergi meninggalkan Arkan yang tertawa terbahak-bahak melihatnya.



***

__ADS_1


follow Instagram @wgulla_


__ADS_2