My Future Husband

My Future Husband
BAB 90


__ADS_3

Arkan mengendarai mobil. Setelah pertengkaran tadi tiba-tiba Febri minta pergi jalan-jalan. Sebenarnya Arkan tidak terlalu suka badannya masih pegal dan mengantuk lebih baik tidur di ranjang semalaman. Namun apa daya kalau sudah berkedok si kecil anak mereka, Arkan bisa apa. Daripada nanti ia tidak dianggap ayah dari anaknya sendiri.


"Sayang dari tadi kita udah muter-muter loh.. kamu sebenarnya mau kemana sih?" Tanya Arkan lembut dan berusaha sabar. Ia sudah lelah berjalan tanpa arah. Namun istrinya itu tampak santai tanpa beban menikmati pemandangan dari luar.


"Belum tahu mas, Febri masih mikir enaknya ngapain?"


Astaga


Bolehkah Arkan berkata kasar?


"Jadi dari tadi kamu belum tahu mau ngajak mas kemana?" Arkan menepuk jidatnya kemudian menggelengkan kepala mendengar itu.


Astaga!!

__ADS_1


RIP Arkan!


Febri hanya menyengir tanpa dosa. Lalu kembali menatap pemandangan. Arkan menghela napas panjang menenangkan dirinya bahwa ini adalah hal yang biasa. Badai pasti berlalu kalau kata orang.


"Jadi kamu mau kemana sayang? Mau beli makanan atau mau beli sesuatu?" Arkan bertanya agar lebih memudahkan Febri berpikir.


"Bentar mas tunggu si kecil mau apa? Jadi Febri lihat-lihat dulu ada apa mas di jalan kalau ada yang menarik perhatian si kecilil baru kita beli." Arkan mengangguk menuruti keinginan Febri. Ia sudah menebak pasti Febri tidak akan jauh-jauh dari si kecil. Sebenarnya ia risih mendengar istrinya memanggil anak mereka dengan si kecil tapi mau bagaimana lagi ia harus terbiasa bahkan Febri akan memarahinya kalau ia tidak memanggil si kecil.


Sebuah panggilan masuk membuat Arkan menatap istrinya.


"Cessa mas. Bentar aku ngobrol dulu sama kakak, mas lanjut aja nyetirnya jangan berhenti sebelum aku mau berhenti ya mas." Ucap Febri tanpa tahu Arkan sudah Bosan. Astaga berulang kali Arkan mengucapakan istighfar dalam hati. Sedangkan Febri sibuk berbicara dengan Cessa. Semenjak hamil ini Febri merubah panggilan Cessa menjadi Kakak biasanya panggilnya nama doang atau ngk dedek tapi sekarang tidak.


Tiga puluh menit kemudian Febri akhirnya mengakhiri panggilan. Arkan menatap istrinya tak percaya apa yang mereka bicarakan hingga selama itu apa semua wanita seperti itu? mengobrol tanpa mengenal waktu.

__ADS_1


Dan kalian tahu berapa lama ia mengendarai mobil satu jam dan mereka belum menemukan tempat tujuan.


"Jadi kamu mau apa sayang? kita udah satu jam loh keliling-keliling tapi belum ada hasilnya."


"Kita ke tukang bakso deket kompleks aja yuk mas.. Si keciil tiba-tiba mau makan bakso yang seger-seger gitu mas... kayaknya enak deh.." Febri mengatakan itu sambil membayangkan bakso yang biasanya ia beli di sana.


Arkan melongo mendengar itu bahkan menghentikan mobilnya tiba-tiba. Hampir saja Febri terhantuk dasboard kalau Arkan tidak menggunakan tangannya untuk menahan gadis itu.


"Mas bisa bawa mobil ngak sih.."


"Maaf.." hanya itu yang Arkan katakan. Ia speechless mendengar ucapan Febri tadi yang mengatakan ingin makan bakso di dekat rumah mereka. Jadi apa gunanya tadi mereka mutar-mutar satu jam tanpa arah. Ingin rasanya Arkan berkata kasar.


"Ayo mas Febri Penngen banget..." ingin rasanya Arkan bilang jadi yang pengen itu Cil atau kamu sih sayang. Jangan siksa mas kayak gini dong..

__ADS_1


Beginilah kalau sudah jadi BUCIN. Arkan bisa apa selain menurut bukan ia tidak tegas. Tapi ia tidak tega membuat wanita yang ia cintai ini sedih karenanya.


__ADS_2