My Future Husband

My Future Husband
BAB 66


__ADS_3

Arkan memeluk Febri dari belakang saat ini mereka sedang berdiri di balkon menikmati angin malam. Setelah makan kue dan menghabiskan waktu bersama anaknya. Kini mereka menghabiskan waktu berdua.


"Terima kasih sayang kejutannya. Diumur ku yang ke 41 tahun ini."


"Mas cepat sekali tuanya sudah mau jadi kakek." ledek Febri pada Arkan. Mendengar itu Arkan langsung memeluk Febri erat lalu menggelitiki perut istrinya itu.


"Mas berhenti mas... ampun... mas.. ampun... geli... hiks.. Febri cuma berrrccaaandaaa...." Febri tidak kuat.


"Bilang mas ganteng dulu."


"iyyya."

__ADS_1


"Iya apa?" Goda Arkan semakin cepat menggelitik.


"Mas Arkan ganteng." Puas dengan apa yang Febri ucapkan. Arkan menghentikan aktivitas nya. Ia langsung mengecup kening Febri.


"Nah gitu dong. Masa suami sendiri di jelek-jelekin."


"Mas tadi aku ketemu Dikau. Ternyata Anaknya udah sebesar Cessa sekarang. Terus anaknya tadi cium pipinya Cessa. Lucu bangetkan." Febri menceritakan apa saja yang terjadi tadi pagi pada suaminya. Momen langka bertemu Dikau.


Langkah Arkan berhenti. Baru saja ia ingin berbaring ke tempat tidur. Kupingnya tiba-tiba panas mendengar Febri menyebut laki-laki lain. Pria yang pernah menjadi saingannya dulu dalam merebut hati Febri. Rahang Arkan mengerang marah mendengar itu. Ia langsung berbalik ke arah Febri.


"Iya ketemu anaknya juga. Kenapa emangnya mas? Lagipula aku kan cuma anggap Dikau teman. Dia udah punya istri mas." Arkan mendengus tidak suka.

__ADS_1


"Berarti kalau dia tidak punya istri kamu mau sama dia?" ujar Arkan dengan kesal.


"Aduh mas kok kamu sensitif banget sih kayak pantat bayi." ucap Febri terkikik geli melihat tingkah Arkan yang sensitif. Lagian mana mungkin dia mencintai Dikau. Kalau hatinya saja sudah terkunci untuk pria di hadapannya. Pria yang menemani masa-masa sulitnya. Bahkan disaat ia kehilangan semuanya hanya Arkan yang mau menerima nya apa adanya. Pria itu menggenggam tangannya. Memberinya semangat di setiap kali ia ingin menyerah.


Mendengar jawaban Febri. Arkan berbalik kembali ke kasur. Ia membaringkan diri di sana. Arkan tidur tanpa ingin bicara lagi. Febri yang melihat perubahan sikap suaminya. Langsung mengejar. Ia tidak menyangka Arkan masih saja menyimpan rasa cemburunya pada Dikau. Padahal ia sudah bilang berkali-kali pada pria itu jika ia tidak ada lagi perasaan untuk Dikau. Tapi masih aja Arkan begitu. Katanya kita itu harus sigap terhadap mantan. Karena mantan itu kadang bisa ngajak balikan karena teringat kenangan indah dulu. Bodohnya ia malah menanggapi Arkan dengan tawa. Mungkin Arkan trauma. Ia takut istrinya meninggalkan nya lagi sama seperti dulu. Dimana istri pertamanya meninggalkan nya.


"Maaf." bisik Febri di telinga Arkan. Wanita itu memeluk tubuh tegap Arkan dari belakang sambil berbaring di kasur. Arkan hanya diam tanpa membalas.


"Kamu cemburu mas?" Febri mengutuk perkataan nya kenapa ia malah bertanya seperti ini. Pertanyaan yang jawabannya sudah pasti ia.


"Maafin Febri ya mas. Tadi itu Febri nggak sengaja ketemu Dikau. Lagian Dikau itu udah Febri anggap temen aja, Febri nggak punya perasaan apapun. Buktinya Febri cerita ke mas. Kalau Febri nggak cerita berartikan Febri nggak jujur sama mas." Arkan masih diam.

__ADS_1


"Lagian cinta Febri itu cuma sama mas. Hanya mas yang ada di saat Febri duka ataupun suka. Febri hanya mencintai mas seorang. Jangan marah lagi..." Arkan berbalik menghadap Febri kemudian membalas pelukan gadis itu. Membawa Febri ke dalam dekapannya yang erat.


"Lain kali kalau bertemu Dikau pura-pura aja tidak kenal." Ucap Arkan pada akhirnya. Lalu pria itu mencium bibir Febri lembut. Sebagai jawaban jika ia sudah memaafkan gadis itu. Febi hanya tersenyum mendengar itu. bisa-bisanya suaminya itu menyuruh nya melakukan hal seperti itu.


__ADS_2