
Arkan merasa tidurnya di ganggu. Bahkan ada cipratan air yang membasahi wajahnya. Arkan membuka matanya kasar. Ia terpana melihat istrinya tertawa cekikikan begitu. Wajah Febri seperti tanpa dosa.
"Ada apa sayang?"
"Ini jam berapa?" Rasanya Arkan baru tidur sebentar.
"Jam dua pagi mas.. ayo mas jalan-jalan mas udah janji loh.." Mata Arkan yang tadinya mengantuk terbuka seketika. Wajahnya melirik sebentar ke arah jam. Ternyata benar sekarang pukul 2 malam. Astaga istrinya itu benar-benar merealisasikan keinginan nya. Padahal Arkan kira semalam itu hanya bercanda.
"Tapi di luar dingin sayang.. ngak bagus buat kamu...." Mulut Febri mengerucut sebal. Ia benci ketika keinginannya tidak dituruti. Bahkan airmatanya mengalir tanpa ia duga.
"Jahat... hikss... mas Arkan jahat.. Febri benci...." Astaga Arkan melongo melihat bagaimana Febri ngambek.
"Maaf sayang.. maksud mas bukan begitu... nanti aja jalan-jalannya habis subuh aja.."
"Maunya sekarang.. mas nggak kasihan apa sama di si kecil yang minta di gendong.."
"Si kecil itu siapa?" Tanya Arkan bingung..
"Si kecil itu anak kita mas..."
__ADS_1
Astaga istrinya itu... memberikan sebutan aneh pada anaknya.. Arkan hanya bisa menghela napas.
"Kalau mas nggak mau yaudah.. berarti si kecil itu cuma anak aku. Mas ngak boleh ngakuin. si kecil cuma punya aku."
"Tapi kan mas juga ikut buat dek."
"Tapi aku yang hamil bukan mas."
"Yakali mas hamil."
"Yaudah berarti mas ngak boleh ngakuin si kecil sebagai anak mas!!" Arkan mendesah kalau sudah begini ia bisa apa coba. Lagipula istrinya itu hamil ulah siapa coba. Kalau Arkan tidak ikut andil mana bisa hamil.
****
"Mas gendong!! inget janji!!" Seru Febri ketika mereka di luar rumah.
Arkan merapatkan jaketnya karena udara dingin dimalam hari. Hanya ada lampu penerangan menyinari mereka dan juga cahaya bulan astaga istrinya itu. Apa tidak takut ada setan apa! Misal hansip lewat lihat tingkah mereka malu sudah harga dirinya. Sebutan dosen kalem hilang sudah dalam dirinya.
"Kamu ngak takut jatuh apa sayang..ada si kecil loh nanti kalau si kecill sakit gimana.."
__ADS_1
"Kan ada mas yang megangin mas pasti jaga aku dan si kecill biar ngak jatuh." Arkan menghela napas mendengar itu. Istrinya tetap saja keras kepala.
"Mas udah tua sayang.. nanti pinggang mas encok loh.. umur mas udah lima puluh tahun lebih..." Arkan berusaha membujuk istrinya. Namun wajah sendu Febri membuat Arkan mengalah.
"Tapi jangan lama-lama ya." Kemudian Arkan menundukkan tubuhnya membiarkan Febri naik di atas punggungnya.
"Pegangan yang kuat."
"Iya mas. jangan lupa loh mas keliling kompleks.."
"Iya sayang ku cintaku.. yang cantik Dewe..." doakan saja mas mu ini kuat.
"Kamu kok tambah berat sih sayang..." ujar Arkan merasakan tubuh Febri yang berat sekali di gendongan nya.
"Enak aja.. aku langsing seksi begini..." Febri memukul kepala botak Arkan yang sudah ditumbuhi rambut kecil. Istrinya itu suka sekali memintanya untuk di botak semenjak kejadian dulu.. Arkan hanya bisa menurut dari pada melihat Febri mengambek tidak jelas..
"Iya kamu enteng kok.." sampai-sampai tulang saya mau remuk. batin Arkan melanjutkan perjalanannya. Semoga ini tidak lama.
****
__ADS_1
Setelah ini kalian hanya akan membaca adegan tanpa konflik pelakor dan berat-berat lainnya... jadi hanya ada adegan manis