My Future Husband

My Future Husband
Bab 94


__ADS_3

Setelah selesai menggunakan masker, Arkan mandi begitu juga dengan Febri bergantian. Namun tiba-tiba Febri ingin donat, padahal mereka sudah bersiap-siap untuk tidur bahkan piyama sudah melekat pada tubuh mereka.


"Mas, si kecil mau donat." Pinta Febri sambil mengelus perutnya.


"Beli lewat gojek aja ya."


"Ih ngak mau, si kecil maunya mas yang beli."


"Mas jahat nggak sayang aku sama si kecil." Pipi Febri memerah karena sedih. Bahkan airmatanya keluar tanpa henti. Arkan tidak tega melihat itu.


Arkan melihat jam di dinding. Lalu mendesah setelah melihat waktu. "Toko donat masih buka nggak ya jam segini?"


"Kayaknya tutupnya tiga puluh menit lagi deh mas." Balas Febri melihat di layanan pesan antar.


"Yasudah mas beli dulu ya." Arkan mengganti piyama nya dengan baju dan jaket.


"Kamu mau rasa apa?"


"Rasa apa aja yang penting nggak ada lobangnya." Arkan mengangguk sambil memasukkan dompet di saku celana.

__ADS_1


"Hati-hati ya mas."


Febri menunggu di ruang tamu dengan cemas. Sudah lebih dari empat puluh menit tapi suaminya itu tak kunjung datang. Febri takut terjadi apa-apa dengan anaknya. Febri menggigit bibirnya, untunglah saat itu suara deru mobil datang. Suaminya sudah sampai. Febri dengan antusias membuka pintu. Dilihatnya sang suami membawa bungkusan yang Febri nantikan sedari tadi.


"Alhamdulillah, masih dapet." Ujar Arkan, wajahnya terlihat lemah lelah mencari donat sesuai keinginan Febri. Hampir sepuluh toko Arkan putari untuk mencari donat sesuai dengan keinginan Febri. Apalagi juga ada beberapa toko yang sudah tutup.


"Mas so sweet deh." Febri mencium pipi Arkan terharu. Namun ketika kotak donat dengan berbagai macam rasa itu terbuka, keinginan Febri untuk memakan donat itu musnah entah kemana. Ternyata yang dia inginkan adalah melihat Arkan membeli donat bukan untuk memakan donat. Ia tidak ingin memakan donat itu.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Arkan melihat Febri tidak kunjung memakannya. istri nya itu malah sibuk menyuapi Arkan untuk memakannya.


"Nggak mau." tolak Febri enggan memakannya.


"Kok nggak mau, aku belinya penuh perjuangan loh sayang." Ujar Arkan dengan nada sedih. Paling tidak ia ingin perjuangannya di hargai Febri.


"Maafin aku ya mas..." ucap Febri merasa bersalah.


"Aku suapin ya." Arkan mengelus rambut Febri. saat ini mereka di meja makan menikmati donat yang Arkan beli tadi.


Febri membuka mulutnya, ia menerima suapan itu sambil menangis. Ia terharu dengan sikap Arkan yang begitu sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakannya.

__ADS_1


"Kamu itu udah tua, masih cengeng aja. Jelek loh nanti." Arkan menghapus air mata Febri.


"Febri terharu mas baik banget." Arkan hanya tersenyum menanggapi itu. Seolah hal itu memanglah kewajibannya.


"Makan lagi ya, dari tadi kamu belum makan." Arkan memotong donat itu dengan kecil lalu menyuapi Febri dengan sayang.


"Makannya sambil pegangan tangan ya mas." pinta Febri menggenggam tangan kiri Arkan yang bebas. "Kamu itu ada-ada aja sayang."


"Biar mas ngak bisa kemana-mana. Pokoknya mas harus sama Febri terus. Nggak boleh pergi."


"Kamu itu lucu sekali sayang, mas nggak akan kemana-mana tanpa kamu."


"Mas nggak bisa hidup tanpa kamu." Lalu Arkan mengecup bibir Febri sayang.


****


Minal aidzin wal fa idzin, mohon maaf lahir dan batin..


dari

__ADS_1


gulla


istri sahnya Lee min ho


__ADS_2