My Future Husband

My Future Husband
BAB 70


__ADS_3

Febri bingung ketika Arkan menutup matanya dengan penutup mata. Ketika ia baru saja bangun dari tidur tiba-tiba suaminya itu menutup matanya dan membawanya pergi. Katanya ingin memberinya sebuah kejutan. Malam ini Febri merasa aneh dengan tingkah Arkan. Apa yang pria itu rencanakan?


"Mas kita mau kemana sih?"


"Rahasia."


"Mas jangan bercanda. Febri nanya serius ini."


"Ketempat dimana kamu tidak akan sedih lagi." Ujar Arkan sambil menggenggam tangan Febri. Mobilnya saat ini tengah melaju di jalan raya.


"Kamu harus bahagia sayang. Aku tidak sanggup untuk terus melihatmu sedih." Febri tersenyum mendengar itu.


"Malam ini kita harus bersenang-senang."

__ADS_1


Setelah lebih dari satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai. Arkan menuntun Febri keluar dari mobil dan membawanya ke sebuah tempat.


Febri benar-benar penasaran. Kemana Arkan membawanya pergi. Febri hanya menurut ketika Arkan menuntunnya keluar. Sampai ia merasakan terpaan angin mengenai kulitnya. Lalu penutup matanya terbuka. Febri terpana melihat lilin-lilin berbentuk love yang terpajang di dekat kolam renang. Lalu ia menatap sekeliling ternyata Arkan menyewa sebuah Villa yang langsung menghadap pantai. Disana juga ada meja dan tempat duduk untuk mereka makan dengan bunga yang menghiasi di tengah. Febri terpana ia menatap Arkan tidak percaya.


"Kamu suka?" Tanya Arkan.


Febri mengangguk senang. Kemudian ia memeluk erat Arkan sambil mencium pipi kanan pria itu. Ia begitu senang. Sudah lama sekali Arkan tidak melakukan hal seperti ini padanya.


"Ada yang terlupa." Febri menatap Arkan bingung. Apa lagi yang pria itu siapkan? Dilihatnya Arkan berjalan mengambil sesuatu. Febri tersenyum melihat Arkan membawa sebuah boneka panda besar. Astaga dia sudah besar sudah jadi ibu. Kenapa suaminya itu malah memberikannya sebuah boneka? Febri tertawa melihat itu.


"Kamu ih mas ada-ada aja ngasih hadiah ginian."


"Biar kamu kayak Febri yang dulu. Febri yang cerewet, berisik suka bawel dan nggak pernah sedih. Aku pengen kamu jadi Febri yang dulu yang ceria. Bukannya yang kaya sekarang. Melihat kamu selalu menangis setiap malam membuat aku membenci diri aku sendiri sayang. Aku merasa menjadi suami yang nggak berguna karena udah buat kamu menangis." Febri terdiam mendengar itu. Perkataan Arkan menyentuh hatinya. Febri memeluk Arkan erat. Seakan takut kehilangannya.

__ADS_1


"Maaf... hiks... hiks... Maafin Febri." Arkan membalas pelukan itu.


"Jangan nangis kok kamu jadi nangis. Mas kan pengen buat kamu seneng."


"Febri cuma terharu.."


"Kamu jangan nangis lagi sayang. Jangan pernah merasa sendirian, karena ada mas yang selalu ada di samping kamu. Mas nggak mau kamu hidup dalam kesedihan. Mas tahu semua yang terjadi belakangan ini berat buat kita. Tapi kita harus ikhlas dan yakin jika kelak Allah akan memberikan hal yang lebih indah." Setelah mengatakan itu Arkan mengecup kening Febri lama. Sudah lama sekali mereka tidak pernah quality time berdua. Sepertinya mereka memang butuh liburan. Bukan terus mengurung diri di rumah.


"I Love you Febri."


"Love you to mas Arkan."


Kemudian Arkan melepaskan pelukannya. Dilihatnya langit malam yang bertabur penuh bintang. Indah sekali malam ini.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita kabulkan permintaan Cessa untuk punya adik?" Ujar Febri tiba-tiba.


Arkan terdiam lama. Ia menatap Febri tidak yakin. "Kamu serius?" Febri mengangguk semangat. Ia yakin ia bisa bangkit dari masalalunya dan tidak akan takut lagi. Ia harus membuat rumah tangga ini lebih berwarna lagi. Walau tak ada Alwan di keluarga mereka.


__ADS_2