
BAB 29
Arkan terbangun dari tidur-nya, ia ketiduran di kamar anaknya. Semalam ketika ia menemani Febri tidur. Suara tangis Al yang menggelegar di kamar sebelah membuatnya terpaksa meninggalkan istrinya untuk menenangkan anaknya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, pertama kali di hidupnya bangun kesiangan, biasanya ia akan bangun shubuh dan menyempatkan diri sholat berjamaah di masjid. Biasa-nya ia tidak pernah bangun kesiangan, Arkan lekas membersihkan wajahnya sebelum melihat keadaan Febri. Ia berharap istrinya lekas membaik.
Arkan mengernyit ketika tidak menemukan Febri di kasur. Bukankah semalam gadis itu tertidur pulas di sana. Dada Arkan berdebar tidak nyaman, ia takut Febri meninggalkannya. Febri tidak mungkin meninggalkannya, Arkan berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Arkan mencari keseluruh penjuru rumah tapi ia tak menemukan gadis itu. Arkan memijat pelipisnya, ini tidak mungkin.
Demi Tuhan gadis itu sedang sakit, dan Febri masih bisa-bisanya pergi. Arkan merutuki kebodohannya yang menyembunyikan masalalunya. Ia berpikir itu hanyalah masalalu, tak pernah terpikirkan jika Febri akan marah bahkan meninggalkannya.
Andai dia menjelaskan semuanya dari awal ini tidak mungkin terjadi. Karena kenyataan sebenarnya tidaklah sama seperti apa yang terjadi saat ini. Febri tidak mengetahui kenyataan sebenarnya. Hal itu membuat Febri salah pahamm terhadapnya.
Nafas Arkan memburu, tubuhnya luruh ke lantai. Melihat pagar dan pintu rumahnya tak terkunci, semuanya sudah menjawab jika Febri benar-benar muak terhadapnya. Ia merasa dunianya menghilang, hatinya terasa sakit meraskan orang yang dicintai pergi tanpa jejak. Arkan mengusap wajahnya kasar, ia memukul tangannya sendiri ke lantai dengan keras. Airmatanya ikut turun tanpa disadarinya.
"Febri kamu kemana?" ucap Arkan pedih.
"Maafkan Saya," Arkan merutuki dirinya berulang kali, setelah ini Arkan akan memperjuangkan cintanya. Cukup dulu Arkan pergi meninggalkan Febri karena sikap pengecutnya. Ia berjanji akan menemukan Febri, ia akan terus mencari Febri sampai mati.
*****
"Sebenarnya ada apa?" ujar Dikau. Mereka sudah sampai di sebuah Villa milik Dikau.
Febri terdiam sejenak matanya tak henti-henti mengamati pegunungan di sekitar Villa. Ia tidak bisa terus menerus menyimpan rahasia ini pada Dikau. Ia tidak ingin terkesan seperti wanita yang memanfaatkan kebaikan orang yang mencintainya sedangkan orang itu tidak mencintainya.
__ADS_1
"Mas Dikau tapi janji setelah Febri menjelaskan semuanya. Mas Dikau tidak akan marah pada Febri."
Dikau menganggukkan kepalanya, lagipula apa untungnya marah dengan orang yang begitu ia cintainya. Ia tidak akan sanggup melakukan hal itu, bahkan ia tak bisa membayangkan jika Febri menangis. Dikau hanya ingin melihat senyum manis terukir di bibir Febri, kebahagiaan Febri adalah hal terpenting di hidupnya.
"Jadi ada apa?" Tanya Dikau bingung.
"Sebenarnya Febri sudah menikah," terang Febri.
"Apa?" Dikau memejamkan matanya pengakuan Febri barusan membuat oksigen disekelilingnya menghilang. Napasnya terasa sesak ia tidak pernah merasa sesesak ini.
"Maaf," Ujar Febri ketika melihat reaksi terluka Dikau. Ia tidak memiliki niat untuk menyakiti pria tersebut.
"Sejak Kapan?" tanya Dikau penasaran, apakah selama ini Febri sudah menjalin hubungan dengan Arkan tanpa diketahuinya.
Apa Febri hanya mempermainkan perasaannya? Padahal ia sangat tulus mencintai Febri.
"Febri menikah dengan Mas Arkan. Sebenarnya kami menikah karena dijodohkan." Ada sedikit kelegaan di hati Dikau, berarti mereka menikah bukan karena cinta. Berarti Febri memang tidak berniat untuk mempermainkan hatinya. gadis itu pasti hanya bingung untuk memilih. Karena dinikahkan secara paksa. Pantas saja waktu itu Arkan menatapnya tajam seakan-akan ingin membunuhnya, bahkan pria tua itu selalu datang ke rumah Febri.
"Jadi kenapa kamu pergi?" Dikau menatap Febri dalam, hatinya bergejolak ia bingung apa yang harus ia lakukan. Walau hatinya sangat mencintai Febri, namun melihat Fakta jika Febri sudah menikah membuatnya sedih. Ia juga tidak mungkin merebut ataupun menghancurkan pernikahan oranglain. Itu adalah hal yang Dikau hindari di hidupnya.
"Febri merasa Arkan tidak pernah menganggap Febri istrinya, bahkan Febri tidak pernah diberitahu seperti apa masalalunya, bahkan anaknya. Pria itu memiliki anak dari istri pertamanya dan dia juga memutuskan untuk merawat anaknya tanpa memberikan alasan. Bahkan disaat Febri sakit pria itu pergi dan lebih memilih bersama anaknya. Febri merasa tidak ada artinya di hidup pria itu." Febri menatap kosong ke depan, Dikau terdiam ia bingung ingin mengatakan apa. Jika mendengar penuturan gadis itu, terselip rasa cemburu di sana. Apakah Febri jatuh cinta pada Arkan?
__ADS_1
Tiba-tiba Febri merasakan mual di perutnya, perutnya bergejolak ia merasa ingin muntah. Ia langsung lari meninggalkan Dikau, raut wajah terluka Dikau langsung berubah menjadi khawatir melihat Febri muntah-muntah di watafel kamar mandi.
"Kamu baik-baik saja," ujar Dikau melihat raut pucat milik Febri. Gadis itu menggeleng, kemudian kembali lagi berusaha mengeluarkan cairan di mulutnya namun tidak ada satupun yang keluar.
"Mas panggilkan dokter yah," pinta Dikau tidak tega melihat Febri yang terlihat begitu tersiksa.
Febri mengangguk menuruti perkataan Dikau, ia sudah tidak kuat lagi dengan gejolak ini. Ada yang aneh dengan tubuhnya.
*****
"Jadi bagaimana keadaan teman saya dokter?" tanya Dikau pada dokter langganannya. Ia takut Febri kenapa-kenapa, wajah Febri terllihat pucat tidak seperti biasanya. Dikau tidak ingin Febri terjadi apa-apa.
"Sepertinya dia hamil," jelas dokter tersebut.
"Apa?" Dikau rasa semuanya terjawab jelas, ia memang harus mengikhlaskan Febri. Tidak mungkin ia tega memisahkan seorang anak dengan ayah kandungnya. Dikau berusaha menahan rasa sakit di hatinya, bukankah kebahagian Febri adalah keinginannya. Yang terpenting saat ini adalah membuat Febri bahagia meski gadis itu tidak akan pernah bisa ia miliki. Dikau rasa ia perlu menemui Arkan untuk membicarakan ini.
Febri mendengar itu terdiam kaku, tangannya reflek mengelus perutnya sendiri. Disini tumbuh buah cintanya dengan Arkan. Apakah keputusannya tepat pergi meninggalkan Arkan? Febri terdiam, tapi ia belum bisa memaafkan Arkan. Mungkin ia hanya perlu waktu untuk menyendiri setelah itu ia akan menyelesaikan semua ini dan meminta penjelasan Arkan. Jika pria itu tidak berniat untuk menjelaskannya Febri akan pergi dari kehidupan pria itu dan memulai hidup baru.
"Coba periksakan ke rumah sakit untuk melihat hasil yang lebih akurat." Anjur Dokter tersebut sambil pamit setelah memberikan beberapa vitamin untuk Febri. Dikau hanya mengangguk ia terlalu terkejut dengan berbagai fakta yang baru ia temukan.
***
__ADS_1
jangan lupa follow Instagram author @wgulla_ ♥️♥️
love you ♥️