My Future Husband

My Future Husband
Bab 41


__ADS_3

Arkan menghentikan mobilnya di sekolah anaknya. ia ingin menjemput putra putrinya. Ia rindu kebersamaan mereka. Arkan keluar dari mobil tepat dugaannya bel berbunyi. saat itulah anak-anak berseragam merah putih keluar dari sekolah. Arkan tersenyum melihat itu. Rindu sekali ia pada putri dan putranya.


Cessa yang tidak sengaja melihat ayahnya. Langsung berlari memeluk Arkan. Ia rindu dengan Arkan karena hampir tiga Minggu mereka tidak saling bertemu.


"Papa..." Seru Cessa.


Arkan tersentak kaget dengan pelukan Cessa. Diikuti Alwan juga. Kedua anaknya itu menatapnya senang. Sudah lama sekali papa tidak memeluk kalian.


"Papa kemana aja." Arkan mengangkat Cessa ke dalam gendongannya. Lalu mencium kening anak itu.


"Kata mama, papa lagi main kangen-kangenan. Katanya yang kangen duluan nanti di hukum. Terus papa disini kangen Kitakan. Berarti papa kalah, harus di hukum." Sahut Alwan.


Arkan terdiam dengan ucapan Alwan. Dalam hati ia tersenyum. jadi ini yang di katakan Febri pada anak-anaknya. Paling tidak Febri tidak menghasut anaknya untuk membencinya. Arkan lega.

__ADS_1


"Karena papa kalah. Sekarang papa mau nraktir kalian es krim. Mau ngak?" Ujar Arkan.


"Mau pa! Cessa mau!!" Jawab Cessa dengan antusias ia senang sekali akhirnya bisa makan es krim bersama ayahnya.


"Al juga pa."


"nanti sekalian beli mainan ya pa." Lanjut Alwan.


"Siap!! Kalian mau beli apa aja papa belikan."


"Siap ayo kita meluncur." Kemudian Arkan menuntun Anaknya untuk masuk ke dalam mobil pergi. Ia sudah tidak sabar untuk melepas rindu. Akan sangat menyenangkan membuat anak-anak nya bahagia.


****

__ADS_1


Febri melirik jam sekarang sudah pukul dua belas lewat lima puluh menit. Ia terlambat menjemput anaknya. Ia berdoa dalam hati semoga saja mereka masih disana. Ia takut anaknya pulang sendiri. Karena Alwan pernah melakukan itu bersama Cessa. Untung mereka tidak apa-apa. Ia telat karena harus mengurus paketan terlebih dahulu. Hari ini banyak sekali pesanan. Jadi ia juga harus mempacking barangnya sendiri juga. Ia belum berani menyewa pekerja.


Kening Febri berkernyit. Ketika ia turun dari taksi online. Sekolah sudah sepi. Jantung Febri berdebar karena takut. Ia melangkah menuju pos satpam untuk memastikan anak-anak nya. Untung saja ia sudah kenal dengan satpam nya karena biasanya ia suka menitipkan anak-anaknya jika telat menjemput.


"Pak lihat Cessa dan Alwan." Tanya Febri dengan panik. Ia melihat sekeliling sekolah sepi seperti tak berpenghuni.


"Sudah pulang Bu. Tadi saya suruh tunggu sini. Tapi karena ada ayahnya mereka langsung pulang bareng Pak Arkan." Dalam hati Febri mengumpat kepada Arkan yang asal menjemput anaknya tanpa memberi kabar. Padahal ia sudah was-was takut terjadi apa-apa pada ke dua anak nya itu.


"Baik pak. Makasih ya.." Ucap Febri membalas satpam tersebut.


Febri pergi melangkah dengan kesal. Ia tidak suka dengan Arkan yang seenaknya. Pasti dia sekarang sudah mempengaruhi ke dua anaknya. Agar mudah masuk ke dalam hidup nya lagi. Awas saja kau pria tua! umpat Febri dalam hati.


Ia menarik napas sabar. Tangannya mengelus perutnya lembut. "Sabar ya nak. Papa mu itu memang suka buat bunda susah."

__ADS_1


****


jangan lupa Follow Instagram Author @wgulla_


__ADS_2