My Future Husband

My Future Husband
Bab 46


__ADS_3

Arkan membuatkan Febri teh hangat. Ia tidak tega melihat istrinya mual-mual. Ia jadi teringat awal kehamilan Febri yang seperti itu. Apa jangan-jangan Febri hamil? tapi jika hamil kenapa istrinya itu tidak memberitahu dirinya. Kalau Febri Hamil gadis itu tidak akan bisa berkutik lagi. Tentunya kesempatan nya untuk berbaikan akan semakin terbuka lebar.


Arkan memberikan secangkir teh kepada Febri. Istrinya itu sedang duduk di pinggir kasur sambil memijat kepala. Ada rasa kasihan melihat itu. Apalagi wajah pucat Febri.


"aku buatkan teh untukmu sayang."


"Kamu hamil?" tanya Arkan to the point.


Febri terdiam jangan sampai Arkan tahu jika ia sedang hamil.


"aku hanya masuk angin." kelah Febri berusaha menutupi kehamilannya.


"Aku kira hamil. Jika benar maka aku akan bahagia."


"Memang kalau aku hamil itu sudah pasti anak mu?" Arkan terkekeh mendengar ucapan Febri.


"siapa lagi pria yang menyentuhmu selain aku. Lagi pula asal kamu tahu, aku selalu mengikutinya kemana-mana. Aku tahu kamu begitu mencintaiku Febri jadi kamu tidak akan membiarkan pria lain menyentuhmu." Febri mendengus mendengar itu. Apalagi raut wajah percaya diri Arkan membuatnya kesal. Pria bisanya begitu.


"Terserah! ngak jelas ngomong sama aki-aki."

__ADS_1


Balas Febri dengan nada kesal. Percuma saja bicara dengan Arkan. Ia harus mencari bahasan lain. Agar Arkan tidak terus-menerus mendesaknya. Ia belum ingin memberitahu kehamilannya sekarang. Nanti Arkan bisa besar kepala. Tentunya semakin percaya diri.


"Kamu sudah upload videomu mas yang tadi malam." ucapan Febri membuat Arkan mati kutu. Sialan! ia kira istrinya itu sudah lupa mengenai videonya yang sedang menari ala Korea itu. Padahal ia sudah senang sepanjang malam. Karena aibnya tidak tersebar.


"belum kan mas?" desak Febri seakan tahu apa yang ada di pikiran Arkan.


"Belum." ujar Arkan sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Upload sekarang kalau tidak mau kamu bisa pergi dari sini!" Ancam Febri.


Arkan mengambil ponselnya di atas meja dekat tempat tidur. Febri menatapnya tajam dari samping seolah-olah sedang mengawasinya. Arkan mencari video tersebut. Ia sungguh tidak rela meng-upload video itu. Pasti akan banyak orang yang mengejeknya. Termasuk rekan-rekan nya di kampus.


"iya, iya.. tapi kamu udah maafin aku kan."


"HM.." balas Febri, yang sebenarnya masih ingin mengerjai Arkan sebelum memaafkannya.


Arkan memaki dalam hati. Istrinya itu benar-benar licik tahu saja akal busuknya. Tamatlah citranya sebagai dosen dingin yang cool karena sehabis ini mereka akan menjulukinya dengan sebutan yang aneh-aneh. Bahkan ia tidak sanggup menonton dirinya sendiri yang sedang menari tidak jelas seperti itu. Lihat saja ia akan membalas Febri.


Febri tersenyum penuh makna! Rasakan itu Pak tua! itu adalah akibat karena tidak pernah mendengarkan istrinya yang cantik itu!

__ADS_1


"Nih sudah aku upload. Berarti kita sudah baikan." Dan dengan cepat Arkan mendaratkan kecupan di bibir Febri. hal itu membuat Febri terkejut. Ia menatap Arkan galak.


"Siapa bilang kita sudah baikan!" Ia mengelap bibirnya yang habis di cium Arkan. Sialan suaminya itu suka sekali nyosor-nyosor.


"Kamu tadi yang bilang. Lagian aku juga sudah terima hukuman. Jadi mau sampai lagi kita marahan sayang. kamu ngak kasihan sama Alwan dan Cessa yang kekurangan kasih sayang dari ayahnya." Febri memutar bola matanya mendengar itu.


"Memang kamu tahu aku marah karena apa mas?"


"Karena berita kemarin. Lagipula itu juga ngak bener sayang. aku di jebak."


Febri berdecih. "Bukan karena itu!!"


"Lah terus karena apa?" Tanya Arkan bingung. Sialan! jadi apa penyebab istirnya marah. Kenapa wanita sulit di mengerti sih.


ambyarrrr...


'itu karena kamu ngak pernah tegas jika ada mahasiswi yang genit sama kamu!' ucap Febri dalam hati.


"Kamu pikir aja sendiri! Kalau udah tahu baru aku maafin." Setelah mengatakan itu febri kembali tidur meninggikan Arkan yang diam seperti orang bodoh.

__ADS_1


__ADS_2