
Cessa terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mencari Alwan kakaknya. Ia ingin mengajak Alwan bermain sebelum kepergian kakak laki-laki nya itu. Namun dia tidak menemukan Alwan di kamarnya. Cessa mendadak panik. Ia juga tidak mendapati beberapa barang Alwan. Apa Kakaknya sudah pergi?
Mendengar suara tangis membuat Cessa sadar. Bundanya Febri menangis sedih. Cessa menghampiri sang bunda. Terlihat Arkan yang memeluk Febri erat di ruang tamu.
"Bun... kak Al kemana?" Tanya Cessa.
Suara Cessa membuat ke dua orang itu terdiam mendongak menatap anak perempuan mereka. Febri menghapus air matanya ia boleh menangis namun di depan Cessa ia tidak boleh menunjukkan kesedihannya. Kalau ia ikut sedih lalu siapa yang akan menguatkan anaknya.
"Sini sayang..." Febri meminta Cessa mendekat. Anak perempuan itu menuruti apa yang Febri inginkan.
"Kak Al sekarang sudah tidak bersama kita lagi."
"Kenapa Bun? kakak tidak sayang lagi dengan Cessa?" Febri menggeleng.
__ADS_1
"Bukan karena itu Princessa sayang. Kak Al pergi karena ayah kak Al sayang kakak. Ayah kak Al ingin tinggal bersama kakak."
"Jadi kak Al tidak akan kembali lagi kesini." ucap Cessa. Febri menjawab dengan anggukan mendengar itu Cessa menangis sesenggukan. Febri memeluk anaknya menenangkan. Tentu saja ini berat untuk Cessa. Apalagi anak perempuannya itu selalu bersama Alwan kemana-mana dari kecil.
*****
"Bagaimana Cessa sudah tidur?" Tanya Febri ketika Arkan keluar dari kamar.
"Aku khawatir Cessa belum bisa menerima kepergian Alwan." Ucap Febri dengan cemas.
"Bagaimana kita bawa Abimanyu adikmu untuk tinggal disini sementara agar bisa menghibur Cessa. Mas yakin kehadiran Abimanyu sebagai kakak laki-laki pasti akan bisa membuat perhatian Cessa teralihkan." usul Arkan.
"Mas benar nanti Febri hubungi Mama untuk membawa Abimanyu kesini."
__ADS_1
"Bagaimana kalau mas juga pekerjakan orang untuk menjagamu disaat mas kerja. Kamu mau kan? kalau tidak mas bisa suruh ibu untuk tinggal disini."
"Jangan ibu mas, aku tidak ingin merepotkan ibu. Lebih baik mas suruh orang saja." cegah Febri. Ia tidak ingin mertuanya kesusahan hanya untuk merawatnya yang cacat ini.
"Baiklah."
"Sayang. Berjanjilah pada mas untuk tetap kuat. Kamu harus bertahan demi Cessa anak kita." Arkan mencoba menguatkan Febri yang murung. Ia tahu Febri butuh waktu untuk menerima keadaannya yang tidak sempurna ini. Ia hanya tidak ingin Febri merasa sendiri. Ia ingin Febri tahu ada dia yang akan terus menemani wanita itu.
"Iya mas, lagi pula Febri tidak bisa melihat Cessa terluka. Febri tidak ingin kehilangan Cessa seperti Febri kehilangan anak-anak Febri yang lain." Arkan mengecup kening Febri. Lalu mengangkat Febri ke dalam gendongannya untuk membawanya ke kamar. Mereka harus istirahat. Arkan membaringkan Febri di kasur lalu memeluknya erat.
"Jangan pernah merasa sendiri sayang. Ingatlah mas akan terus ada bersamamu. Mas akan menemanimu disaat duka mu dan sukamu. Karena hanya kau satu-satunya wanita yang akan mas genggam tangan nya setiap waktu." Bisik Arkan pada Febri. Tangannya menggenggam erat tangan Febri. Febri yang mendengar itu hanya bisa tersenyum. Ia beruntung memiliki Arkan.
Febri berusaha memejamkan matanya. Hidup ini terlalu berat untuk nya ia kehilangan semuanya. Ia kehilangan anak-anaknya lalu kehilangan kakinya. Hanya Arkan dan Cessa yang tersisa Febri berjanji akan menjaga mereka. Ia tidak ingin kehilangan mereka karena mereka adalah harta yang paling berharga untuknya.
__ADS_1