
Malam semakin larut. Dinginnya malam hari ini tidak seperti biasanya. Ada sebuah rasa tegang yang menghantui hati masing-masing penduduk kota itu.
Sama seperti di keluarga Sanjaya. Hari ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah sakit.
Proses operasi sudah selesai. Akan tetapi Dimas masih berada di alam bawahnya. Mungkin obat bius itu belum habis makanya Dimas belum sadar.
Sanjaya meminta agar Dimas di pindahkan di ruang vip yang paling nomor satu di rumah sakit itu.
Suster pun menurut memindahkan Dimas ke ruangan ber-AC dan juga memiliki satu sofa panjang dan juga ranjang kecil untuk yang menjenguk.
Kenzo memilih mengalah dan tidur di sofa panjang. Rasa kantuknya itu sudah berat. Dia sedari tadi sudah aktif kesana kemari tanpa batas. Mengurus Sean dan juga menangani evakuasi itu sampai selesai.
Rasanya tubuhnya pegal semua. Ia memilih tidur lebih dahulu.
Sanjaya dan Delima masuk ke ruangan Dimas. Dari situ terlihat wajah Dimas sangat memilukan. Penuh dengan alat-alat dan juga perban.
Sanjaya tak tega melihat itu. Dia pria yang paling jahat sudah membuat Dimas terluka. Tapi setidaknya dia sekarang sudah bertanggung jawab.
Delima masuk terlebih dahulu. Membiarkan suaminya itu melihat Dimas secara seksama.
Delima berjalan ke arah soda memberikan selimut bed cover yang dia bawa tadi. Kasian jika Kenzo harus tidur kedinginan. Apalagi anaknya itu sudah mau mengalah untu tidur di sofa.
Senyum Delima terulas menatap Kenzo. "Mimpi indah anak mama. Chup." Kening Kenzo dicium oleh Delima.
Setelah itu dia memutuskan untuk membersihkan ranjang yang akan dia gunakan untuk tidur. Muali dari menebahi kasur hingga merapikan sprei.
Delima berjalan ke arah suaminya itu. Kasian sekali pasti beban berat sedang Sanjaya rasakan. Dia masih mengurus perusahaan dan juga kasus hilangnya Kinara.
Sanjaya tidak menyadari jika Delima ada dibelakangnya. Saking fokus terhadap Dimas. Ia begitu merasa bersalah bahkan sampai kapanpun rasa itu tidak pernah hilang.
Dengan manja Delima memeluk Sanjaya, wajah Delima dan tubuhnya menempel erat di punggung suaminya itu.
Bau mint tercium di hidung Delima. Aroma Sanjaya memang buat candi sejak dahulu sampai sekarang.
Sanjaya tersenyum mengelus punggung tangan yang melingkar di pinggang Sanjaya.
"Ada apa? Apa kamu merasa lapar?." Tanya Sanjaya memberi perhatian kepada Delima.
__ADS_1
Meski perasannya sedang kacau ia tak ingin Delima merasa dicueki. Sebagai suami yang baik Sanjaya akan terus memberikan perhatian kepada Delima.
"Tidak! Tadi kan sudah makan." Ucap Delima.
"Lalu ini kenapa? Apa Delima sayang ingin sesuatu?." Tanya Sanjaya tersenyum. Dia mencoba melihat wajah istrinya itu. Tali sekuat tenaga delima menghindari.
"Mas bisa cerita dengan Delima semua masalah hari ini atau yang buat mas keberatan menanggung sendiri. Jangan diumpeti, Delima tak suka mas....." Ucap Delima.
"Mas tidak apa-apa sayang. Semua terkendali dengan aman." Kilah Sanjaya tersenyum. Tak ingin istrinya itu merasa terbebani biarkan semua dia tanggung sendiri.
"Bohong!! Delima mau mas jujur sekarang." Saut Delima cepat.
Akhirnya Sanjaya berbalik dan menatap ke arah Delima.
"Lebih baik kita istirahat juga. Takutnya Dimas bangun karena merasa terganggu." Jawab Sanjaya lembut. Dia mendorong tubuh Delima kea dah ranjang mereka. Tentu saja disertai senyum yang begitu manis agar delima menurut.
Bukan Delima yang langsung nurut begitu saja. Wanita itu melepas tangan Sanjaya dengan keras. Sepertinya sedang marah.
Sanjaya memilih mengalah. Delima memang tau semua tentang Sanjaya baik luar maupun dalam. Memang istri idaman.
"Baiklah sayang, papa akan cerita." Ujar Sanjaya pasrah.
Sanjaya menurut dengan perintah Delima. Dia merangkai kata untuk bercerita setelah ini.
"Ada apa mas?." Tanya Delima.
"Mas sedang banyak masalah sayang. Dan selain itu rada bersalah selalu buat papa tidak bisa tenang. Papa sekarang kurang fokus karena semua bagi papa penting." Jawab Sanjaya tertunduk lemas.
"Apa yang terjadi?."
"Papa harus menghandle perusahaan, Dimas, serta Kinara. Apa papa mungkin bisa melakukan itu sendirian?." Tanya Sanjaya.
Delima tersenyum manis. Pantas saja sejak tadi Sanjaya agak malas makan dan lain-lainnya. Rupanya Sanjaya sedang Bersedih.
Maklum saja itu semua Sanjaya pikirkan. Sanjaya adalah tipe orang yang tanggung jawab.
"Urusan rumah sakit biar mama yang handel semua pah."
__ADS_1
"Lalu perusahaan?."
Delima sedikit berpikir. Tapi matanya melirik ke arah Kenzo yang sudah tertidur pulas. Sudah saatnya kan Kenzo membantu Sanjaya?.
"Kenzo pah!! Pasti Kenzo bisa, dia bisa ambil kuliah online." Saran Delima.
Sanjaya memikirkan apa yang Delima katakan tadi. Semua itu ada benarnya juga jika dia bisa membagi masalahnya itu. Pasti akan segera terselesaikan dengan cepat.
Urusan perusahaan Sanjaya tidak akan lepas semua untuk Kenzo. Dia pasti masih membantu perusahaan itu. Mengingat sekarang perusahaan Sanjaya sedang meluncurkan produk yang akan terkenal.
"Baiklah. Papa setuju kalau begitu. Tapi sepertinya papa harus tanya dahulu kepada Kenzo." Jawab Sanjaya. Dia tersenyum ke arah istrinya itu yang sudah memberikan saran.
Dela membalas senyum lembut suaminya itu. "Semoga Kinara bisa ditemukan segera ya pah, Rasanya mama tak sanggup lagi."
"Mamah sabar ya, papa janji akan segera menemukan Kinara. Tali sebelum itu papa harus cari dahulu biodata Joe, gadis kejam itu."
"Iya papa, tenang saja ya. Mama janji akan mengurus masalah di rumah sakit dengan hati-hati dan telaten. Mamah nggak akan capek-capek." Janji Delima memberikan jari kelingking nya itu ke arah Sanjaya.
Sanjaya pasti akan sangat khawatir jika Delima terlalu capek dengan tugasnya sekarang.
"Baiklah. Ayok tidur. Kita perlu istirahat, besok masih harus berjuang. Semoga Tuhan melancarkan semuanya." Saut Sanjaya.
"Iya mas, amin." Jawab Delima tersenyum manis.
Sanjaya segera merebahkan tubuhnya di sisi ranjang. Setelah itu baru Delima menyusul dan memeluk dada bidang Sanjaya. Dia mencari kehangatan dari Sanjaya.
Dengan tangan Sanjaya yang satu untuk bantalan dan yang satu mengelus pipi Delima.
"Tidurlah! Mimpi indah ya sayangku, chup." Ucap Sanjaya sembari mencium pipi Delima.
Sementara Delima sudah tidur. Entah itu belum sepenuhnya atau sudah sampai ke alam bawah sadar.
Sekarang Sanjaya memutuskan menyusul Delima yang terlelap. Pria itu juga merasakan tubuhnya sudah lelah.
Besok masih ada banyak yang ia persiapkan. Semua itu akan Sanjaya dan keluarga-nya sendiri lakukan masalah-nya.
Semoga besok salah satu dari masalah segera kelar. Dan Kenzo mau menerima permintaan Sanjaya untuk mengganti jabatan papanya sendiri.
__ADS_1
Perlahan Sanjaya menutup matanya dan mulai mengarungi alam mimpinya. Malam itu di ruangan Dimas semua sudah terlelap dengan mimpi masing-masing.