My Future Husband

My Future Husband
BAB 69


__ADS_3

Arkan memeluk Febri yang sedang tertidur. Hari ini mereka habiskan waktu untuk berdua. Cessa sudah ia titipkan kepada Neneknya sekaligus agar bisa bermain dengan Abimanyu. Ia hanya tidak ingin anaknya merasa sendirian akan sosok kakak. Jadi Abimanyu bisa menjadi sosok pengganti Alwan untuk anak perempuannya itu.


Setelah Febri tertidur. Arkan bangkit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia belum sempat memberikan nilai akhir semester pada mahasiswa nya. Jadi ia harus menginput nilai malam ini. Akhir-akhir ini sulit sekali mengatur waktu antara pekerjaan dan juga menjaga Febri. Ia tidak bisa meninggalkan Febri sendiri, pasti ia akan depresi dan terus menangis. Arkan tak ingin hal itu terjadi.


Jujur dibilang jika ia tidak sedih. Ia sangat terpukul dan merasa tidak becus menjadi ayah. Orang tua mana yang tidak akan terluka kehilangan dua anaknya sekaligus di waktu yang sama. Ia berusaha tegar dan tidak menangis di depan Febri. Kalau ia saja sedih bagaimana dia membuat Febri kuat.


Arkan terdiam menatap layar laptop dan lembaran kertas yang sudah berisi nilai. Ia jadi tidak fokus untuk kerja. Air matanya tiba-tiba menetes. Ia terkekeh bisa-bisanya ia menangis. Ia harus kuat, ia tidak boleh menangis seperti ini. Ia bukan lelaki lemah. Ia harus kuat demi keluarganya. Ia tidak boleh sedih. Namun semakin berusaha air matanya semakin mengalir bahkan isak nya keluar. Nafas Arkan menjadi sesak. Ia tak mampu bernafas. Ia sangat menyesal. Siapa yang tidak menyesal jika ia hanya bisa diam tanpa bisa melindungi keluarganya. Ia hanya seorang pria brengsek yang tidak bisa bertanggung jawab.


"Maafkan aku sayang.. hiks.."


"maafkan aku..."


"Maaaf..." Arkan terjatuh dari kursi memeluk tubuhnya sendiri menangis di kesendirian malam. Biarkanlah kali ini saja menangis untuk terakhir kalinya.


*****

__ADS_1


"Papa... Bundaa" Panggil Cessa melambaikan tangan ketika ayahnya menjemputnya ke sekolah bersama sang Ibu.


Arkan dan Febri tersenyum membalas anaknya. Lalu ia berjalan menghampiri Cessa. Arkan menggendong Cessa ke dalam pelukannya.


"Cessa kangen papa.." Cessa melingkarkan tangannya di leher Arkan.


"Sama bunda nggak kangen?" goda Febri.


"Kangennn banget.... Sama Kak Al juga..." Suasana menjadi hening mendengar kalimat akhir Cessa. Ia tahu pasti Cessa akan menanyakan sang kakak.


"Kita jalan-jalan yuk.." Tangan Arkan yang bebas mengelus punggung Febri menenangkan.


"Yey..."


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Febri duduk di depan samping Arkan sedangkan Cessa di belakang. Febri masih diam, rasanya memang sulit hidup seakan-akan semuanya baik-baik saja. Padahal hatinya selalu menangis tidak bisa lari dari bayang-bayang masa lalu.

__ADS_1


"Papa.. Cessa mau adik boleh?" ucap Cessa tiba-tiba.


Tadi suasana yang hening tiba-tiba mencengkram. Febri dan Arkan saling memandang satu sama lain. Semenjak kejadian itu mereka tidak berpikiran untuk program lagi. Masih ada trauma di dalam Febri untuk mengandung. Wanita itu takut kehilangan.


"Biar Cessa nggak kesepian.. biar kayak temen-temen Cessa. Mereka punya adik yang lucu-lucu. Cessa mau.. pa.. Bun..." Rengek Cessa.


Arkan kemudian tersenyum, ia mengelus rambut anaknya pelan. "Cessa pasti nanti punya adik. Cessa sabar ya.. Cessa harus jadi anak baik dulu. Jangan nakal, trus jangan banyak menangis dan manja. Soalnya kalau punya adik berarti Cessa harus kuat buat lindungin adik Cessa."


"Sama seperti kayak Kak Al yang lindungin Cessa pa.."


Febri memalingkan wajahnya mendengar obrolan itu. Airmatanya sudah menetes tanpa sadar. Ia menahan isaknya agar tak terdengar anaknya. Ia tersiksa dengan situasi ini. Ia tidak tahu harus apa.


"Iya." Arkan menggenggam tangan Febri menguatkan. Ia tahu Febri pasti sangat terluka.


"Cessa akan jadi anak baik."

__ADS_1


__ADS_2