
Arkan menunggu dokter keluar. Febri saat ini sudah ditangani. Sedangkan Alwan dan Cessa sudah di bawa ibu dan adiknya juga Abimanyu adik Febri. Anak-anaknya itu terus menangis menanyakan keadaan Febri. Arkan menunggu dalam diam. Reno dan Risa kedua orang tua Febri juga ikut menunggu.
Arkan tiada henti untuk berdoa. Dalam hatinya sungguh khawatir apa yang terjadi. Ia tidak berani menebak-nebak. Reno ayah mertuanya memberi dukungan meyakinkan bahwa Febri baik-baik aja.
Suara langkah kaki membuat Arkan bangkit. Ia menghampiri dokter itu diikuti ke dua mertuanya yang menatap dokter tersebut penuh harap.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Arkan.
"Bagaimana keadaaan Febri anak saya?" ucap Reno secara bersamaan.
"Siapa keluarganya?"
"Saya suaminya dok." Dengan cepat Arkan menjawab.
__ADS_1
"Istri anda baik-baik saja, tapi maaf kami tidak bisa menyelamatkan janin yang berada di kandungan istri anda." Jawab dokter tersebut dengan rasa bersalah.
"Apa janin?" Arkan terkejut, begitu juga dengan Reno dan Risa.
Arkan sama sekali tidak mengetahui kehamilan istrinya. Hatinya terasa sakit saat ia tahu ia kehilangan calon anaknya. Orangtua mana yang bahagia jika harus kehilangan anaknya. Dugaannya selama ini benar jika Febri hamil. Namun istrinya itu tidak memberitahunya atau Febri yang tidak tahu mengenai kehamilannya sendiri sama seperti dirinya. Ia menyesal sungguh menyesal andai saja ini tidak terjadi pasti ia sudah memiliki anak lagi. Nyawa yang tidak bersalah, namun dia harus pergi tanpa belum sempat mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Dari dirinya bahkan ia belum sempat menyapa anaknya itu.
"Usianya sudah tiga bulan, selain itu ada kemungkinan buruk yang akan terjadi pada ibu Febri." Lanjut dokter.
"Istri anda akan mengalami lumpuh akibat kecelakaan." Tubuh Arkan menegang kehilangan anaknya saja sudah membuatnya drop, dan ucapan dokter barusan membuatnya tambah nyeri. Ia tidak bisa membayangkan reaksi Febri jika ia sadar nanti jika ia tahu ia kehilangan bayi dan kakinya. Febri pasti akan sangat sedih, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan ini, Febri selalu hidup dengan menderita.
Terlalu banyak darah dan airmata dipernikahan mereka, apa mereka tidak ditakdirkan tuhan untuk bersama? Atau Febri menderita semua karenanya. Andai ia tidak muncul di kehidupan Febri, pasti sekarang Febri akan bahagia dengan Dikau tanpa harus menanggung semua beban ini, beban menikah dengan laki-laki bodoh sepertinya. Bodoh dia tidak pernah berhenti membuat Febri menderita karenanya. Ia tidak berguna. Hanya bisa mengatakan cinta tapi tak bisa membahagiakan istrinya.
"Tapi anda tenang, ada kemungkinan Ibu Febri masih bisa berjalan lagi seperti semula jika ia rutin melakukan terapi." Kemudian dokter berlalu meninggalkan mereka setelah mengucapkan beberapa hal.
__ADS_1
Badan Arkan meluruh ke lantai, ia terbaring menatap langit-langit rumah sakit. Hatinya remuk, begitu sakit. Ia gagal menjadi seorang suami, tanpa sadar airmata Arkan tumpah dari kelopak matanya.
"Kenapa?" isak Arkan.
"Aku gagal menjadi seorang suami, aku gagal menjadi seorang ayah yang bahkan tidak menyadari kehadiran anaknya sendiri. Hiks...hiks... aku gagal menjadi seorang suami yang bahkan tidak bisa menjaga istrinya sendiri."
"Tenang Arkan ini bukan salahmu. Ini takdir Tuhan. Kita hanya bisa tunduk dan patuh atas apa yang telah Allah kehendaki." Reno mencoba menenangkan. Ia juga meminta istrinya Risa untuk membeli minuman untuk menenangkan Arkan.
"Hiks.. tapi kenapa harus Febri...yah... Andai saja tadi aku melarang Alwan untuk membeli minuman sendiri pasti ini tidak akan terjadi. hiks...hiks.. Andai aku tahu jika Febri hamil aku pasti tidak akan membiarkan dirinya pergi."
"Aku bodoh.. hiks... aku tidak peka... aku tidak bisa menjaga anak dan istriku sendiri..." Arkan semakin terbawa dalam tangisannya. Reno membawa Arkan dalam pelukannya menenangkan menantu kesayangannya itu.
"Lebih baik kita sholat dulu. Lebih baik Kita berdoa kepada Allah dari pada menyesal seperti ini. Menyesal tidak akan menyelesaikan masalah." Arkan mengangguk dan menyetujui ucapan Reno ayah mertuanya.
__ADS_1