My Future Husband

My Future Husband
BAB 17


__ADS_3

Febri berangkat ke kampus. Hari ini ada beberapa jadwal kuliah yang harus ia ikuti. Ia tadi berangkat bersama Arkan. Tapi ia minta di turunkan di depan kampus karena ia tidak ingin pernikahannya diketahui siapapun. Ia malu menikah dengan Arkan. Ketika Febri ingin ke kelas. Ia terkejut mendapati sosok yang selama ini mendebarkan hatinya. Langkah Febri terhenti. Ia menatap sosok itu dengan penuh tanda tanya.


"Apa yang pria itu lakukan disini?"


"Untuk perlu apa pria itu mencarinya?"


Jantung Febri berdebar melihat sosok Dikau berada di depan kelasnya. Darimana pria itu tahu jadwal kuliahnya, sejak pernikahannya kemarin hati Febri jadi tidak tenang untuk melakukan apapun. Febri berharap Dikau tidak tahu pernikahannya, pria itu tersenyum manis menyamut kehadiran Febri. Sepertinya memang tidak ada yang tahu tentang pernikahannya.


"Assalamu'alaikum..." sapa Dikau dengan senyum manis kasnya. Ia senang akhirnya bisa menemui Febri walau ia harus mencari informasi dimana kelas gadis itu kepada orang-orang. Ia tidak masalah asal bisa bertemu dengan Febri. Ia sudah sangat tidak sabar.


"Waalaikumsalam.. Mas dikau mau apa kesini cari Febri?" Tanya Febri dengan raut wajah bingung.


"Ponsel kamu aku hubungi tidak bisa," ujar Dikau yang mengalami kesulitan dalam menghubungi Febri. Padahal ia ingin mengajak Febri jalan-jalan bersama. Misalnya nonton, makan dan sebagainya. Pasti akan sangat menyenangkan bisa bersama gadis itu.


Febri menelan ludah ia bingung untuk menjawab apa, tidak mungkin ia mengatakan kalau ponselnya di sita Arkan yang sekarang telah menjadi suaminya. Pasti Dikau akan curiga padanya.


"Ponselku hilang," ucap Febri sambil menundukkan kepalanya. Dalam hati Febri merutuki ucapannya. 'Maafin Febri ya Allah suka berbohong... Febri janji ngak bohong lagi.."

__ADS_1


"Syukurlah aku kira kamu tidak mau menghubungi ku lagi." Febri langsung menggelengkan kepalanya cepat.


Dikau bernapas lega ia kira Febri tidak ingin berkomunikasi dengannya lagi. lantas ia mengembangkan senyumnya. "Waktu itu aku lihat kamu sama Pak Arkan di restaurant. Ketika aku ingin menghampiri kalian, Pak Arkan malah membawa kamu pergi. Sebenarnya ada hubungan apa kamu sama Pak Arkan," tanya Dikau ingin memastikan jika Febri dan Arkan tidak ada hubungan apa-apa.


"Tidak ada apa-apa kok," ujar Febri panik. Astaga hampir saja.


"Yasudah kalau begitu, aku mau pergi. Semangat kuliahnya," Ucap Dikau pamit pada Febri. Karena ia juga ada kelas.


"Jaga diri kamu baik-baik,'


"Kakak juga," balas Febri dengan senyum malu-malu.


Febri menghela napas panjang, kehidupannya sudah tak sebebas dulu. Tadi ketika ia terbangun mendapati Arkan memeluknya Febri langsung melepaskan diri. Ia tidak Suak dipeluk Arkan. Ia merasa ini hanyalah motif Arkan untuk bisa menikah dengannya.


Apakah benar Arkan memiliki masalalu yang penting bersamanya jika ia kenapa Febri tidak pernah mengingatnya? Lagi pula apa motivasi pria tersebut menikahinya saja Febri tidak tahu. Ia harus berbicara empat mata dengan Arkan. Dan menanyakan kebenaran nya. Ia tidak ingin terjebak terlalu lama dengan pernikahan yang tidak menyenangkan ini. Febri tidak ingin terus begini rasanya ia ingin menangis....


Febri hanya mengingat dulu ia memiliki seorang kakak laki-laki yang tampan yang selalu melindunginya tapi laki-laki itu pergi meninggalkannya tanpa jejak. Lagipula wajah laki-laki tersebut berbeda dengan Arkan. Febri membuka kotak makan tersebut lalu memakan nasi goreng pemberian Dikau. Andai saja ia bisa memilih ia akan memilih Dikau dengan seribu perhatiannya. Lagi pula ini bukan pernikahan yang dia inginkan, tidak ada cinta di antara kami berdua lalu apa salahnya berhubungan dengan Dikau. Febri tiba-tiba tersenyum, ia masih memiliki kesempatan bersama Dikau. Arkan tidak memiliki hak untuk mengaturnya. Ia bebas menentukan pilihannya. Termasuk siapa orang yang bisa menikahinya nanti.

__ADS_1


****


Arkan mengeram melihat pemandangan itu, baru kemarin mereka menikah. Tapi Febri masih berani berhubungan dengan Pria itu. tangan Arkan mengepal kuat, ia berusaha mengontrol emosinya, ternyata jatuh cinta itu tidak menyenangkan apalagi menjadi pria pencemburu seperti ini. Arkan berbalik meninggalkan mereka, ia berjanji akan membuat Febri sepenuhnya menjadi miliknya. Ia tidak suka melihat Febri dengan pria itu. Kenapa juga Febri masih berdekatan dengan Dikau?


Apa Febri lupa jika ia sudah memiliki suami?


Apa Febri tidak menganggap nya ada?


Lalu apa arti pernikahan mereka kemarin?


Padahal niatnya ingin menemui Febri untuk mengajaknya bicara, ia malah disuguhi pemandangan yang membuat hatinya panas. Kenapa Febri menjadi sosok yang pembangkang begini, ia tidak menyukai fakta Febri tidak menerimanya. Mulai sikapnya tadi pagi yang seperti tidak menganggapnya ada, dan bermain kucing-kucingan dengannya.


Sudah cukup!!


Kesabaran Arkan sudah pada batasnya. Ia sebagai suami tidak akan membiarkan dirinya tidak di hargai. Febri harus di beri peringatan untuk memahami posisinya sekarang jika ia sudah menjadi istri Arkan. Ya Arkan harus melakukan itu. Ia tidak ingin Febri melunjak dan berbuat ulah. Bagaimana pun Febri sudah menjadi tanggung jawabnya sekarang. Ayah Febri sudah melepaskan tanggung jawab anaknya kepada-nya. Dan Arkan tidak ingin di bilang suaminya yang tidak bertanggung jawab yang tak bisa mengurus istrinya sendiri.


Arkan memasuki ruangannya, keningnya sangat pening. Lalu duduk di kursi kebesarannya. Ia memijat dahinya pelan, ia harus mencari cara agar Febri bertekuk lutut padanya. Mungkin satu-satunya cara adalah membuat Febri mengingat kembali siapa Arkan, tapi apakah Febri masih mencintai sosoknya dulu sedangkan dia pernah pergi meninggalkan Febri tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Atau cara itu malah membuat Febri tambah membencinya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?" ujar Arkan di tengah keheningan.


Tapi Arkan tidak bisa melihat Febri bermain dengan Dikau di belakangnya. Pria mana yang rela melihat istrinya bermesraan dengan pria lain. Terkutuklah Arkan yang lagi-lagi gagal menjadi seorang suami dan tidak bisa membimbing istri-nya sendiri. Ternyata menikah tidak semudah yang ia bayangkan. Semoga ibu-nya tidak tahu masalah ini, jika ia pasti ibu-nya akan kecewa pada dirinya. Arkan tidak ingin menambah beban pada ibu-nya. Cukup ia saja yang tahu masalah ini. Tidak dengan orang lain ataupun keluarganya. Arkan tidak ingin menambah masalah lagi.


__ADS_2