My Future Husband

My Future Husband
BAB 9 part 1


__ADS_3

BAB 9


Febri berjalan menuruni tangga gedung A Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Febri termenung akan kejadian yang telah ia alami tadi. Arkan memperlakukannya seperti seorang pria yang cemburu, tapi mereka tidak menjalin hubungan. Apa Arkan menyukainya? Febri terus berjalan hingga ia tidak sengaja menabrak punggung tegap seseorang.


"Maaf," ucapnya.


Febri mendongak, matanya terkejut melihat sosok Dikau di hadapannya. Jantungnya tiba-tiba berdebar tanpa ia minta. Sosok itu tampak tampan dengan senyum yang membingkai bibirnya.


"Kamu mau pulang?" tanya Dikau pada Febri dengan senyum manisnya. Ia membenarkan letak kacamatanya.


Febri mengangguk, membenarkan. Senyum di wajah Dikau semakin lebar membuat Febri salah tingkah melihat ketampanan pria itu, senyum yang tidak pernah Arkan tunjukan padanya selain pandangan tajam padanya. Febri menggelengkan kepala, kenapa di saat seperti ini ia malah memikirkan Arkan pria yang mengesalkan itu.


"Saya antar yah," pinta Dikau pada Febri.


Mereka berdua jalan memasuki mobil milik Dikau yang terparkir pas di depan gedung. Febri seakan dipenuhi pertayaan, apa jurusan Dikau sampai dia berada di gedung ini. Apa mereka satu fakultas.


"Kak dikau, aku boleh tanya?" Febri mengajukan pertanyaan.


Dikau tersenyum, lalu terkikik geli. Membuat Febri mengernyit dengan kikikan Dikau apa ada yang salah dengan kalimatnya. Dikau merasa tertarik dengan gadis ini ketika pertama kali bertemu dengan gadis ini. Ia merasa berada di dunia baru yang lebih berwarna hidupnya yang dulu kelam seolah-olah dihiasi dengan keceriaan yang di bawa gadis itu.


"Kamu itu lucu yah, kamu itu tanpa sadar udah mengucapakan kalimat pertanyaan ke aku," ucap Dikau.


Febri termenung mencerna kalimat Dikau, kemudian dia jadi salah tingkah ketika dia menyadari kalimat awal yang dia ajukan pada Dikau adalah sebuah pertanyaan.


"Mau tanya apa," ucap Dikau, ia melirik Febri sebentar sambil mengemudikan mobilnya setelah lampu merah berubah menjadi warna hijau.

__ADS_1


"Kakak jurusan apa?" tanya Febri penasaran, karena ia tidak pernah melihat Dikau disekitar FITK.


"Aku jurusan Manajemen Syariah, anak Fakultas Ekonmi Bisnis." ucap Dikau pada Febri.


"Kok bisa sampai Fakultas FITK markirnya." Ucap Febri bingung melihat mobil Dikau tadi yang berada di depan gedung Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.


"Tadi ngak sengaja, siapa tahu aja ketemu kamu. Eh ternyata jadi kenyataan." Febri tersipu mendengar ucapan barusan mobil yang mereka naiki sudah hampir mendekati arah rumahnya. Apakah Kak Dikau tertarik padanya?


"Kak Dikau mau jadi temen aku," ucap Febri malu-malu. Dikau tertawa pelan mendengar ucapan Febri barusan.


"Jadi temen hidup kamu aja aku mau."


Febri tidak sanggup berkata-kata, hatinya seakan melambung tinggi. Apakah ini yang dinamakan cinta? beruntungnya aku ketemu Kak Dikau. Jadi Asisten Pak Arkan ternyata membawa keberuntungan juga yah. Apa aku harus berterima kasih pada Pak Arkan. Febri menggeleng lagi-lagi ia memikirkan pria itu.


"Kak nanti berhenti di perumahan sana yak," pinta Febri pada pria itu. Rasanya sebuah keberuntungan datang pada-nya karena berhasil pulang dengan Dikau.


Dikau menghentikan mobilnya, ketika Febri ingin keluar dari mobil Dikau melarangnya. Dikau turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Febri. Febri tersenyum senang menyambut itu.


"Terimakasih yah kak." ucap Febri berterima kasih pada pria itu.


"Iya sama-sama" Dikau mengusap kepala Febri pelan, tentu hal itu membuat Febri tersipu malu dengan tingkah perhatian Dikau.


"Maaf ya ngerepotin," Febri tersenyum minta maaf. Ia merasa merepotkan Dikau walau ia tidak meminta Dikau untuk mengantarnya pulang. Padahal ini inisiatif dikau sendiri.


"EHEM.." suara deheman menghentikan percakapan mereka.

__ADS_1


Febri tersenyum kikuk melihat ayahnya berdiri di hadapan mereka. sedang Dikau memasang wajah ramahnya dan langsung salim terhadap Reno. Reno menatap keduanya tajam untuk pertama kalinya anak gadisnya berani pulang bersama pria asing. Bahkan Reno tidak pernah mengetahui jika anak perempuannya itu memiliki teman pria. Pria itu juga berani sekali mengantar anaknya pulang. Anaknya benar-benar ceroboh, apa ia tidak takut jika diapa-apakan oleh pria asing yang baru dikenalnya.


"Assalamualaikum om, saya dikau kakak tingkat Febri. Maaf mengantar anak om pulang tanpa ijin." Dikau memperkenalkan diri dengan sopan.


Reno mengangguk lalu tersenyum, "Waalaikumsalam, ayo mampir ke dalam." Dikau meminta maaf dengan sopan menolak ajakan Reno. Ia sedang ada urusan mendadak, namun Dikau berjanji lain kali akan mampir ke rumah Febri. Kemudian Dikau pamit untuk pulang.


Febri masuk ke dalam rumah meninggalkan ayahnya, yang dipenuhi sikap waspada. Reno berpikir putrinya sekarang benar-benar sudah dewasa. Ia tidak boleh salah memilih pria yang kelak akan menjadi pendamping anaknya. Reno tidak ingin anaknya tersakiti.


Reno mengambil ponselnya di saku jasnya setelah Febri menghilang dari hadapannya. Diketiknya nomer milik Arkan, entah kenapa ia lebih mempercayai Arkan dari Dikau walau Dikau terlihat sangatlah sopan tapi naluri ayah pada anaknya pasti tidak akan pernah salah.


"Assalamualaikum." ucap Reno memberikan alasan ketika panggilan-nya di angkat oleh Arkan.


"Waalaikum salam Pak Reno," Jawab Arkan dengan sopan dan nada selembut mungkin. Ia kaget dihubungi mendadak oleh Pak Reno ayah dari Febri. Mahasiswa yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya siang dan malam. huft...


"Panggil saya ayah bagas." Ucap Reno geli. Kadang Reno itu memanggil Arkan dengan sebutan Bagas.


"Eh, iya ayah ada apa?" tanya Arkan berusaha setenang mungkin.


"Tolong awasi Febri lebih ketat lagi, sekarang ia sudah berani pulang sama pria asing. Apa kamu tidak takut Febri jatuh cinta pada laki-laki lain." Terdengar hening beberapa waktu Reno yakin Arkan sedang mengontrol emosinya, sejak pertama kali melihat Arkan Reno tahu bahwa pria itu mencintai putri-nya denga tulus, walau pria itu belum menyadarinya. Reno yakin suatu saat nanti Arkan akan menyadari-nya.


"Iya ayah, Arkan usahakan untuk mengawasi Febri lebih ketat lagi." Arkan mengucapkan itu dengan nada khawatir seakan ia takut tersaingi. Akibat peristiwa Febri dekat dengan pria lain ia jadi was-was.


"Buat anak ayah jatuh cinta sama kamu, jangan sampai Febri jatuh ke tangan pria lain." Terdengar helaan napas frustasi disana, Reno tahu Arkan pasti sedang dalam mode gusar melihat miliknya direbut orang lain.


"Kalau begitu sudah yah, ingat ucapan ayah. Wassalamualaikum." Reno menutup telponnya. Kemudian ia menghembuskan napas, ini juga salahnya yang terlalu memanjakan Febri hingga gadis itu menjadi manja dan tidak bisa berpikir dewasa di setiap mengambil tindakan. Sepertinya dia harus lebih ekstra menjaga Febri saat ini. sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2