
Febri terisak, ia bingung harus melakukan apa. Sejujurnya Febri ingin pergi dari rumah ini meninggalkan Arkan. Tapi ada satu hal yang membuatnya mengurungkan hal itu Iya masih penasaran dengan masalalunya, Febri juga merasa ia tidak ingin kehilangan Arkan ia belum siap walau egonya terus berkata untuk menjauh dari Arkan. Karena pria itu begitu tertutup padanya.
Febri tidur menghadap samping kanan. Ia memeluk erat gulingnya, tidak ada lagi suara ketukan pintu. Apa Arkan menyerah untuk membujuknya? Febri semakin terisak, ia membenci situasi ini. Pastilah pria itu lebih memilih bersama anaknya dari pada dirinya. Ingin sekali Febri mencekik Arkan.
"Burkh... Bukh"
Tiba-tiba terdengar suara gedoran, Febri terlonjak kaget. Pintu kamarnya seperti di paksa seseorang untuk di dobrak.
Apakah itu ulah Arkan? Febri bergidik ngeri membayangkannya.
Febri menarik nafas, menghapus airmatanya dan pura-pura tidur. Ia tidak ingin berhadapan dengan Arkan. Suara langkah kaki mendekati ranjang, Febri menarik napas mencoba mengatur nafasnya agar teratur. Suara decitan kasur menandakan jika ada orang yang ikut berbaring di sampingnya. Lalu Febri merasakan lengan kokoh memeluk tubuhnya erat. Febri sangat merindukan dekapan ini walau hatinya masih marah terhadap Arkan namun jujur Febri tidak bisa menjaga jarak dari Arkan.
"Maafkan saya Febri," bisik Arkan.
Arkan mengerti jika Febri belum tidur. Ia memeluk Febri erat tubuh Febri terasa kaku dipelukannya. Arkan menghela napas semua ini salahnya seandainya ia mengatakan tentang kehidupannya pada Febri pasti tidak akan seperti ini. Terlebih mantan istrinya datang tanpa diduga padahal sudah lebih dari 2 tahun mereka tak bertemu dan seenak udelnya meninggalkan anaknya disini.
"Febri, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Indri mantan istri saya. Saya tidak pernah mencintainya cuma kamu satu-satunya wanita yang berada di hati saya baik dulu maupun sekarang. Jikalau saya bohong untuk apa saya menikahi kamu dan memilih berpisah dengan Indri, lagi pula apakah kamu tau kenapa pernikahan saya gagal," Ujar Arkan.
Febri berbalik menghadap Arkan ditatapnya mata Arkan. Ucapan Aran menarik perhatiannya. Febri ingin tahu kelanjutan ucapan Arkan. Kapan lagi bisa mendengar Arkan bercerita tentang masalalunya.
"Dulu saya menikah karena saya ingin melupakanmu. Saya sudah pergi menjauh dari dirimu tapi sulit sekali melupakanmu padahal saya sudah berjanji untuk tidak lag berurusan denganmu. Lalu Indri datang dia menunjukkan ketertarikan bersama saya, saya mencoba membuka hati saya untuk mencintainya, saya kira saya bisa namun nyatanya tidak. Rasa bersalah saya kepadamu membuat saya tidak sanggup melupakan kamu. Indri kesal dengan saya, ia lalu memutuskan untuk selingkuh, awalnya saya tidak mempermasalahkan itu, namun semakin hari dia semakin tidak wajar bahkan berani membentak ibu saya. Saat itu saya memutuskan untuk bercerai. Jujur saya merasa bersalah pada Indri karena tidak pernah bisa mencintainya."
Febri mengusap wajah Arkan diperhatikan seperti itu membuat Arkan ingin mencium Febri, lalu Arkan mencium bibir Febri, Febri langsung melepaskan ciuman tersebut ia mendorong dada Arkan keras, ia Masih marah dengan pria ini tapi pria ini Masih bisa-bisanya menyosor terlebih dahulu. Ada sedikit perasaan lega mengetahui Arkan begitu mencintainya namun juga ada rasa bersalah mengetahui Arkan bercerai ada sangkut paut dengan dirinya.
__ADS_1
"Mas boleh Febri bertanya?"
Arkan mengangguk tidak yakin. Jujur Arkan takut Febri akan bertanya lebih padanya.
"Kenapa mas merasa bersalah pada Febri? Apa yang telah mas lakukan pada Febri?"
Arkan menghela napas itu adalah pertanyaan tersulit yang tak pernah bisa ia jawab tidak mungkinkan Arkan akan berkata jika ia yang membuat Febri kecelakaan sampai kehilangan ingatan bahkan hampir membuat Febri kehilangan nyawanya. Arkan terdiam ini bukan waktu yang tepat tapi ia juga tidak bisa menghindar.
"Karena saya meninggalkan kamu tanpa pamit sama kamu, padahal kamu sangat menyayangi saya sampai tak ingin kehilangan saya," jawab Arkan.
"Bohong, buktinya Febri tidak pernah mengingat semuanya. Mas pasti sengaja berbohong," ujar Febri.
"Saya Belum bisa menjelaskan itu sekarang Febri. Saya sudah berjanji pada ayah Kamu untuk tidak mengatakannya, kecuali Kamu sudah mengingatnya." Febri terdiam, Arkan ternyata begitu egois tidak membiarkan dirinya tahu tentang kehidupan masalalu mereka.
"Apa?" Ujar Febri ketus.
"Tolong anggap Al sepertii anak Kamu sendiri." Febri mendengus mendengar ucapan Arkan. Dasar Pria tidak peka. Sudah tau Febri sedang marah karena anak Kecil itu sekarang dia dengan santainya memintanya untuk menjaga anaknya itu seperti anak sendiri. Enak saja, Febri langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Arkan.
"Tidak mau,"
"Febri, tolong satu Kali ini saja. Apa Kamu tidak kasihan dengan anak itu. Orangtuanya saja tidak mau merawatnya, Kamu tega melihat anak itu tumbuh tanpa kasih sayang orangtua."
"Saya tidak tega, dia masih sangat kecil untuk tahu urusan orang dewasa, Al juga tidak bersalah kehadirannya bukan berarti masalah dia tidak tahu apa-apa Febri tentang masalah kita."
__ADS_1
"Bukan urusan Febri, mas urus saja sendiri." Sejujurnya Hati Febri agak tersentuh membayangkan anak itu tak diharapkan orangtuanya sedang dia tumbuh dari keluarga yang utuh yang memberinya kasih sayang yang penuh walau ibunya suka sekali memarahinya. Anak kecil itu juga tidak bersalah Tapi Febri sedang kesal. Ia Masih marah dengan Arkan ia tidak suka Arkan memerlakukannya seperti ini seolah-olah pria itu tidak bersalah.
Febri memejamkan matanya tak memperdulikan Arkan yang masih menanti jawaban nya. Febri lelah dengan semua ini. Ia merasa dibohongi. Febri juga menahan getaran ditubuhnya ketika Arkan mengecupi bahunya lembut, sempat Febri tergoda tapi akal sehatnya, ia tidak ingin terbuai sebelum rasa penasarannya hilang dan tentu saja anak itu. Febri tertidur hingga ia merasakan berada di Alam mimpi.
*****
Febri memandang sinis ke Arkan yang sedang menggendong Al ke kampus. Pria itu membawa anaknya ke kampus. Tentu saja hal itu menjadi perhatian banyak orang, karena Arkan selama ini tidak pernah menunjukkan anaknya pada siapapun, bahkan disaat mengajar pria itu juga menjaga anaknya termasuk di kelas Febri, Febri sempat kesal karena banyak yang terpesona dengan anak Arkan yang memang terlihat tampan walau masih berusia 3 tahun.
Febri merasa mual melihatnya mahluk kecil itu merebut semua perhatian Arkan darinya.
Febri terdiam hingga ia tidak menyadari pundaknya di tepuk seseorang. Ia berbalik ternyata orang tersebut Adalah Dikau. Febri terperanjat kaget, mengingat kemarin Febri meninggalkan pria itu dan memilih Arkan.
"Boleh Kita bicara?" Ujar Dikau.
Febri mengangguk mengiyakan, ia sedang kesal dengan Arkan mungkin berbincang dengan Dikau akan membuatnya lega mengingat Dikau orang yang humoris. Tapi mengingat kejadian kemarin apakah Dikau membencinya?
Wajah Febri berubah menjadi murung, lalu Dikau menuntun Febri menuju mobilnya ternyata hal itu tidak lepas dari pengamatan Arkan tanpa mereka sadari. Arkan mengepalkan tangannya kencang bahkan menatap marah ke Arah keduanya. Inilah yang Arkan takutkan kelabilan Febri, Arkan takut Febri marah padanya dan emosinya yang meledak-ledak membuat gadis itu berniat untuk selingkuh darinya.
"Daddy," ujar Al.
Arkan mengalihkan pandangannya, lalu merubah ekspresinya menjadi tersenyum lembut pada Al.
"Kamu lapar?" Al mengangguk senang menjawabnya. Kemudian Arkan mengajak Al untuk makan bersama walau dihatinya merasa tidak tenang membayangkan Febri bersama pria lain.
__ADS_1