My Future Husband

My Future Husband
BAB 64


__ADS_3

Dua tahun kemudian...


Febri sudah bisa berjalan, ia tidak memerlukan tongkat lagi. Saat ini ia sedang bersama anaknya Cessa membeli bahan belanjaan di supermarket. Febri bersyukur usaha kerasnya untuk sembuh berhasil. Ia juga berterima kasih pada Arkan yang selalu menyemangatinya. Cessa sudah kelas 5 SD sekarang. Ia sudah terbiasa dengan ketidak hadiran Alwan. Walau di lubuk hatinya ia sangat merindukan putranya itu. Tapi ia tidak ingin Cessa sedih. Jadi ia berusaha untuk tidak mengungkit Alwan lagi.


"Bunda mau masak apa?" Tanya Cessa membantu Febri mendorong troli belanjaan.


"Ayam Teriyaki kamu mau?" tanya Febri.


"Mau bun. Sekalian buat brownis coklat buat papa ya bun. Papakan ulang tahun..." Febri hampir melupakan hal itu. Ia melihat jam di ponsel. Sekarang jam 1 siang. Arkan pulang jam 3 sore. Sepertinya tidak akan cukup.


"Kita beli aja ya sayang kuenya takut nggak sempet. Nanti papa keburu pulang terus nggak jadi kejutan lagi deh."


"Iya bunda nggak papa." Setelah memilih beberapa bahan makanan mereka ke kasir untuk membayarnya. Namun disaat tiba mereka mengantri di kasir Febri menatap seorang pria yang sangat di kenalnya di hadapan nya. Namun ia sedikit tidak yakin dengan orang itu karena ada anak kecil di sampingnya.


"Dikau." Panggil Febri tanpa sadar. Pria itu berbalik menatap Febri terkejut. Sekian lama mereka tidak bertemu lalu di pertemukan kembali.

__ADS_1


"Febri,"


"Apa kabar?"


"Alhamdulillah. Kamu kesini sama siapa?"


"Sama anak aku. Kenalin namanya Atta."


"Atta beri salam sama Tante Febri."


"Halo Tante." ujar Atta sambil Salim.


"Iya namanya Cessa."


"Cessa kenalan dulu sama Om Dikau dan Atta." Cessa menjulurkan tangannya untuk Salim dengan Dikau. Namun ketika Cessa ingin bersalaman dengan Atta. Tiba-tiba anak laki-laki itu mengecup pipi Cessa cepat. Kedua orang tua itu takjub dan hanya menggelengkan kepalanya. Cessa terkejut ia langsung berlindung ke arah ibunya. Selama ini tidak pernah ada yang menciumnya selain kakaknya Alwan. Jadi ia merasa ini aneh.

__ADS_1


"Anak kamu ajaib banget. Kayaknya dia suka sama Cessa deh." Canda Febri pada Dikau.


Dikau tersenyum miris dalam hatinya merutuki sifat anaknya. Dulu ia suka sama Febri sekarang anaknya malah suka sama mantan gebetannya ini. Ada-ada saja. Ia jadi mengenang masa lalu. Ia bahagia ternyata jika Febri bisa bahagia. Karena ia juga menemukan kebahagiaan nya sendiri.Walau bukan dengan Febri. Semoga saja anaknya tidak bernasib sama seperti dirinya. Kan tidak lucu sekali.


"Maaf ya Febri." Balas Dikau tidak enak hati.


"Kakak lain kali jangan gitu." Atta yang di tegur malah cuek saja. Anak laki-laki itu malah menatap Cessa yang malu-malu. Sedangkan Cessa sudah sembunyi dalam pelukan Febri karena malu.


"Nggak papa namanya juga anak kecil. Ngomong-ngomong mana istri kamu." Febri celingukan mencari keberadaan istri Dikau. Karena pria itu terlihat sendirian.


"Dia sedang sakit. Jadi yang belanja aku sama Atta." ujar Dikau menjelaskan keadaan istrinya.


"Oh begitu. Sampaikan salam sama istri kamu, semoga cepat sembuh." ucap Febri dengan tulus. Dikau mengangguk lalu pamit untuk pulang ketika selesai membayar.


Kemudian ketika gilirannya selesai Febri langsung membayar dan membawa anaknya ke dalam mobil. Mobil mereka melaju menuju toko kue untuk membeli kue brownis coklat kesukaan Arkan untuk merayakan ulang tahun suaminya.

__ADS_1


Febri sudah tidak sabar menyiapkan kejutan untuk suaminya. Pasti Arkan juga lupa, jika ia hari sedang berulang tahun. Febri membayangkan reaksi terkejut Arkan nanti.


"Happy Birthday my future husband" gumam Febri.


__ADS_2