My Future Husband

My Future Husband
BAB 73


__ADS_3

Febri termenung menatap langit malam. Pengakuan Alwan tadi membuatnya sock sekaligus bingung. Ia sudah memperkirakan semua ini akan terjadi. Tapi ia belum siap. Membayangkan kedua anaknya itu akan menikah membuatnya gila. Karena Alwan sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Ialah yang merawat Alwan sedari kecil.


Arkan membuka pintu kamar. Ia menatap Febri bingung. Istrinya itu nampak kalut. Apalagi yang terjadi? apa ada suatu hal yang menganggu istrinya? Arkan menaruh tas laptopnya di meja. Nampak Febri tidak sadar akan kehadirannya. Wanita itu masih mengamati langit malam dari jendela.


Arkan melangkah mendekat memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Hal itu membuat Febri terlonjak kaget. Ia mendelik menatap Arkan sebal. Apalagi Arkan yang nampak santai malah bermanja-manja padanya.


"Mas kok pulang nggak salam." ujar Febri kesal karena tidak menyadari kapan suaminya itu tiba.


"Udah kok kamu nya aja yang nggak tahu. Sibuk sendiri ngelamunin apa hayo? jangan-jangan cowok ganteng korea?" tuduh Alwan karena istrinya itu walaupun sudah berusia 40 tahun masih saja suka mengoleksi Oppa-oppa Korea. Bahkan ia pernah di jadikan objek fantasi istrinya tersebut sampai mengecat rambutnya menjadi warna ungu. Bayangkan betapa malunya dia pria berumur hampir lima puluh tahun berdandan ala Jungkook BTS.


"enggak kok ngawur!" hardik Febri tidak terima. Ia hanya pasrah ketika Arkan membawanya duduk di pangkuan pria tersebut.


"Terus mikirin apa?"


"Mikirin mas mu yang ganteng Dewe ini kan?"

__ADS_1


"Mas Halu deh!!"


"Orang Febri mikirin Alwan." Arkan terdiam mendengar itu. Kemudian menghembuskan napas.


"Kamu masih galau karena Alwan yang belum kembali?"


"Bukan mas. Alwan malah tadi kesini." Febri sudah belajar ikhlas termasuk mengikhlaskan anaknya itu. Ia hanya tidak ingin membuat dirinya terluka lagi. Ia harus belajar tegar dan bangkit dari keterpurukan.


"Trus?"


"Mas kok biasa aja. Nggak terkejut?"


"Kemarin Alwan sudah meminta restu sama mas."


"Hah?" Febri kesal karena Arkan merahasiakan hal ini darinya. Jadi ia di anggap apa oleh pria ini. Masa ia tidak diberi tahu mengenai hal seperti ini. Ia merajuk berusaha bangkit dari pangkuan Arkan. Tapi Arkan menahannya, ia tahu pasti Febri kesal. Sifat kekanak-kanakan Febri itu selalu aja menempel meski usianya sudah tua. Bahkan anaknya sudah berusia dua puluh tahun lebih.

__ADS_1


"Kebiasaan sukanya ngambek."


"Lah mas nggak ngasih tahu Febri. Apa jangan-jangan mas selama ini selalu bertemu Alwan tanpa memberi tahu Febri." Arkan hanya menyengir seakan mengiyakan jawaban Febri. Febri menggembungkan pipinya kesal karena pria tua Bangka ini.


"Maaf.. mas bukannya nggak mau kasih tahu.. Tapi mas takut kamu akan stress lagi sayang. Jadi mas cari waktu yang tepat." Arkan merayu Febri dengan memberikan ciuman-ciuman di pipi dan wajah istrinya itu.


"Iya." Balas Febri singkat.


"Trus gimana kamu ngerestuin mereka?" Tanya Febri.


"Kalau itu bisa membuat Cessa dan Alwan bahagia kenapa tidak. Lagipula mereka bukan saudara kandung. Mas juga tidak ingin membuat banyak drama lagi di hidup kita. Biar mereka bahagia dan kita juga bahagia dengan kebersamaan ini." Apa yang Arkan katakan benar. Mungkin ia harus memberikan kesempatan pada Alwan.


"Sayang... boleh ya? Udah ngak tahan nih" tanya Arkan dengan mata bergabut gairah. Ia menginginkan bercinta dengan istrinya ini. Febri berdecak sumpah mereka sedang membicarakan masa depan anak-anak mereka tapi pria tua Bangka ini malah mengurusi nafsu liarnya.


"Emang kalau aku nolak mas bakal nurut?" Arkan tertawa kemudian membalikkan tubuh istrinya berbaring di kasur. Dan menindihinya..

__ADS_1


"Itu kamu tahu sayang..." Lalu Arkan mencium Febri dengan intim menghabiskan malam dengan penuh gairah.


__ADS_2