
Hari ini Febri sudah boleh pulang. Arkan mendorong kursi roda Febri menyusuri lorong rumah sakit. Anak-anaknya sekarang sudah ada di rumah untuk menyambut ke pulangan nya.
Arkan dengan sabar menuntunnya bahkan membantunya untuk naik ke dalam mobil. Ia sungguh beruntung memiliki Arkan. Pria itu seharusnya istirahat karena lelah mengajar. Tapi pria itu memilih di sini untuk bersama dirinya.
Febri mencengkram tangan Arkan kuat berusaha untuk berdiri masuk ke dalam mobil.
"Makasih mas." Arkan mengecup kening Febri sebagai balasan. Pria itu juga mengelus kepala Febri. Lalu pria itu memutar jalan ke pintu kemudi. Febri mengamati Setiap pergerakan Arkan.
"Kamu mau beli sesuatu?" Febri menggeleng namun teringat anak-anaknya ia jadi ingin membelikan sesuatu.
"Mas nanti mampir super market ya. Belikan anak-anak es krim." ucap Febri.
"Siap komandan." Lalu Arkan melajukan mobilnya membelah jalan raya.
***
Ketika Febri masuk ke dalam rumah. Mereka langsung di sambut oleh anak-anak dan orang tua Febri. Cessa dan Alwan langsung memeluk Febri. Mereka menangis melihat keadaan bundanya.
__ADS_1
"Bunda kenapa hiks... bunda sakit.." ujar Cessa.
"Bunda baik-baik aja kok sayang."
"Ini gara-gara Al, andai aja bunda ngak nolongin Al pasti bukan ngak akan kayak gini.. hiks.. Al salah... Al yang salah.." Alwan menangis sesenggukan. Febri tertegun melihat itu. Ia tidak menyangka jika Alwan akan menunjukkan reaksi seperti itu.
"Tidak Al tidak salah. Bunda nolong Al karena bunda sayang Al." Febri memeluk Alwan mencoba menenangkan anak laki-laki nya itu.
"Maafkan Al.. hiks.. Al minta maaf. Al janji ngak akan nakal lagi."
"Sudah jangan menangis lagi. coba lihat bunda bawa apa?" Febri mengeluarkan es krim lalu memberikannya pada kedua anaknya. Tentu saja ke dua anaknya itu senang. Febri tersenyum melihat anak-anaknya sudah tidak menangis lagi. Termasuk Al, walau wajahnya masih menyimpan kesedihan. Dari sana Febri tahu bahwa Al sangat menyayanginya walau ia bukan ibu kandung anak itu.
Febri terduduk di kursi roda sambil melihat bintang dari jendela. Ia masih belum siap menerima semua ini. Bahkan ia sampai terharu melihat Arkan menggantikan posisinya sebagai seorang ibu rumah tangga. Pria itu benar-benar baik dan tak mengeluh. Arkan pantas mendapatkan hidup yang lebih baik dari pada harus merawat orang cacat sepertinya. Bahkan ia tidak bisa melindungi anak dalam kandungannya.
"Apa yang kamu lamunkan?" Tanya Arkan setelah selesai mencuci piring.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh Febri. Aku tahu kamu pasti sedang merendahkan diri lalu membujuk ku untuk pergi meninggalkan mu."
__ADS_1
"Sesuai apa yang aku bilang kemarin. Aku akan tetap disini bersamamu dan bersama anak-anak kita."
"Makasih mas." Arkan kemudian mengambil kursi ikut duduk di sebelah Febri.
"Mas."
"Andai saja aku lebih cepat memberitahu tentang kehamilanku pasti bayi kita masih ada disini."
"Sudahlah sayang, kita manusia hanya bisa berandai. Kecelakaan itu bukan salahmu ataupun Alwan. Anak kita pergi karena Tuhan menyayanginya."
"Mas.."
"Apa lagi sayang?"
"Febri takut jika ayah kandung Alwan kesini dan mengambil Alwan dari kita. Cukup kemarin aku kehilangan bayi dalam kandungan aku mas. Aku tidak mau jika harus kehilangan Alwan. Aku tidak ingin kehilangan anak kita lagi... hiks...hiks...hiks.." Arkan menarik Febri dalam pelukannya. Ia mengelus punggung dan rambut Febri dengan sayang berusaha menenangkan.
"Mas akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan Alwan anak kita. Mas janji..." gumam Arkan.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Alwan disana berdiri di depan pintu kamar mendengar semua yang mereka katakan. Anak kecil itu menangis tentang betapa buruknya dia. Dia yang ternyata bukan anak dari Arkan yang selama ini anggap ayah dan dia yang merupakan seorang pembunuh dan membuat bunda Febri yang telah merawatnya harus kehilangan kakinya. Ternyata karenanya Bunda Febri harus kehilangan anak dalam kandungannya. Alwan menangis dalam diamnya. Tidak ternyata hadirnya hanya membawa beban dan membuat keluarga ini semakin mmenderita... Dia seorang pembunuh...