My Future Husband

My Future Husband
BAB 68


__ADS_3

Febri menangis tersedu-sedu di ruangan Reno. Setelah pertemuan dengan Thomas tadi ia masih tidak terima. Ketika ayah dan suaminya menyuruhnya masuk dan mengusir Thomas dari sana. Seharusnya mereka tahu arti kehilangan anak. Ia sudah dua kali kehilangan anak. Apakah mereka tidak tahu betapa sakitnya itu?


Pertama ia harus kehilangan anak yang di kandungnya. Sekarang ia kehilangan Alwan, anak yang sudah ia besarkan dari kecil. Tidakkah mereka mengerti perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Rasanya begitu menyakitkan. Walau berulang kali mencoba untuk tegar. Tapi ia terus tidak bisa meninggalkan fakta bahwa ia pernah kehilangan anak.


"Kita percayakan pada Thomas sayang. Mas yakin dia punya cara yang tepat untuk menjaga Alwan. Kamu tahu sendiri bukan bahkan ada yang mengincar anak itu dibunuh hanya karena harta warisan." Ujar Arkan, tangannya mengelus punggung Febri. Ia tahu apa yang di rasakan Febri. Pasti ia merasa sedih karena harus terus-menerus kehilangan anaknya. Itulah yang ia rasakan juga. Tapi ia tidak bisa apa-apa. Karena ia juga tidak punya hak untuk Alwan. Sebenarnya hal yang di takutkan di hati kecilnya adalah jika Alwan bersama kami, ia takut Alwan tidak akan baik-baik aja. Dari pada kehilangan, ia memilih Thomas yang sudah berjanji akan melindungi Alwan dengan segenap tenaganya. Itu juga penuh pertimbangan, karena ia mengetahui fakta mengejutkan. Bahwa setelah ibu Alwan menitipkan anaknya ke dia, Indira meninggal tanpa bekas karena wanita yang bernama Dahlia itu. Arkan juga belum memberitahu hal ini pada Febri. Ia takut Febri marah jika ia menyinggung tentang wanita lain apalagi mantan istrinya.

__ADS_1


"Hiks...hiks... Mas apa nggak kasihan tahu Alwan di tinggal begitu saja di negeri orang."


"Ayah juga.. kenapa ayah hanya diam saja... bukannya papa janji akan bantu Febri untuk mengambil Alwan dari Thomas.. Tapi apa tadi ayah malah menyuruh orang itu pergi." Febri menatap ke dua laki-laki ini kecewa. Ia kira mereka berada di pihaknya namun tidak ada satupun dari mereka yang membelanya.


Febri tidak menjawab. Ia menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya. Ia sudah tidak menangis lagi. Namun isak nya masih ada. Ia tidak kuat merasakan perih ini. Rasanya kehilangan ini begitu menyakitkan lebih dari apapun padahal sudah dua tahun hal itu berlalu. Tapi kenapa rasa sakitnya masih ada.

__ADS_1


"Pulang yuk?" Tawar Arkan dengan lembut. Wanita dalam kondisi seperti ini jangan diperlakukan kasar. Mereka nanti akan semakin bersedih. Malah pikirannya akan bertambah ke arah yang negatif.


"Tapi hiks... gggend---dong hiks....hiks.." Arkan tersenyum mendengar itu. Febri manja sekali, tapi ia suka memanjakan istri cantiknya itu. Asal itu membuat dia bahagia. Karena ia sadar, ia bukan suami terbaik yang bisa membuat Febri bahagia. Bahkan ia tidak bisa berbuat apapun ketika kehilangan anak-anaknya. Ia ayah yang bodoh tak mampu menjaga keluarganya tetap utuh. Jadi apakah ada alasan lagi untuk membuat Febri terus terluka? Sedang dia menjadi sosok ayah yang tidak pernah berguna untuk keluarga nya.


"Anything for you, my dear." Arkan kemudian mengecup kening Febri lembut. Setelah itu mengangkatnya dalam gendongan sembari pamit pulang pada mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2