
Napas Febri tersenggal, lagi-lagi ia memimpikan seorang gadis kecil yang ditabrak mobil. Lagi-lagi Febri memimpikan hal itu, kenapa mimpi itu datang berulang-ulang di hidupnya. Mimpi terasa begitu nyata, Febri menggeleng itu tidak benar. Dia tidak pernah mengalami kecelakaan seperti itu.
Febri meraba kasur di sampingnya, tidak ada Arkan di sana, Febri menemukan kompres di dahinya ternyata Arkan semalaman merawatnya. Febri terenyum senang. Ternyata Arkan benar-benar peduli padanya, Febri menggumankan hal itu berulangkali dalam batinnya.
Matanya melirik ke arah jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Mungkin Arkan pergi ke masjid untuk sholat shubuh. Febri berusaha berpositif thingking. Tidak mungkin pria itu meninggalkannya tanpa kabar, semalam pria itu bersikap manis padanya bahkan Arkan memeluknya sepanjang malam. Febri semalam pura-pura tertidur ketika memeluk Arkan, sesekali ia juga mengintip apa saja yang Arkan lakukan untuknya. Febri tersentuh melihat Arkan yang begitu tulus merawatnya, bahkan disaat ia telah menyakiti pria itu berkali-kali. Pria itu begitu mencintainya dan Febri bertekad untuk tidak mengecewakan Arkan lagi. Febri bersyukur tuhan menciptakan Arkan untuknya.
Febri bangkit dari tidurnya, panas tubuhnya sudah turun. Ia berjalan menuju dapur perutnya lapar, ketika sampai di dapur Febri mendengar suara berisik disana. Apakah Arkan berada di dapur? Mengingat di rumah ini tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua dan satpam penjaga.
Ternyata dugaannya benar, pria itu dengan peluh keringat sedang memasak. Bahkan pria itu masih mengenakan sarung khas baru saja pergi dari masjid. Arkan seakan menyadari kehadirannya pria itu tersenyum lembut padanya kemudian mematikan kompor menghampiri dirinya.
"Bagaimana kamu sudah baikan?" ujar Arkan dengan khawatir. Febri mengangguk. Pipinya bersemu mendapatkan perhatian dari Arkan. Karena Arkan yang selama ini dikenalnya begitu galak dan sering memarahinya serta memerintahnya seenak udel pria itu.
"Kamu sudah sholat shubuh?" tanyanya.
"Belum," aku menggeleng, dia terkekeh lalu mencium kening Febri lembut.
"Sholat, mandi lalu makan,"
"Tapi aku lapar." Rengek Febri.
"Tidak boleh, atau tidak makan sama sekali." Ancam Arkan dengan mata mendelik kea rah Febri.
"Masa suami sudah rapi istrinya masih jelek," ejek Arkan.
__ADS_1
Febri cemberut sambil menghentakkan kakinya kemudian melangkah menjauhi Arkan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Perutnya sudah lapar dan tidak bisa diajak kompromi lagi.
*****
Febri menghampiri Arkan di meja makan. Pria itu Nampak terlihat segar, Arkan menata piring dengan telaten. Febri jadi malu seharusnya dialah yang melakukan hal ini, menyiapkan sarapan untuk Arkan. Pria itu menarik kursi dan mempersilahkan Febri untuk duduk di sana. Arkan masak sayur sop, tempe goreng dan telor goreng. Menu yang sangat sederhana tapi terlihat lezat di pandangan Febri.
Febri mengambil beberapa makanan ke dalam piringnya. Ternyata Arkan memang. Berbakat menjadi seorang koki, ini kesekian kalinya Arkan memasak untuknya bahkan hampir setiap saat dan masakan Arkan selalu enak di lidahnya. Menyadari hal itu membuat rasa bersalah Febri muncul, ia baru ingat ia tidak pernah menyiapkan makan untuk Arkan sama sekali. Raut wajah Febri berubah menjadi sedih, selama ini ia menjadi istri Arkan hanya bisa merepotkannya saja. Ia tidak pernah sama sekali peduli dengan keperluan Arkan, apa saja yang pria itu butuhkan tidak pernah Febri ketahui. Tapi Arkan selalu berperan menjadi suami yang baik yang mengerti apa saja yang Febri butuhkan.
"Maaf seharusnya aku yang menyiapkan sarapan untukmu, bukan seperti ini. Aku terlihat seperti istri yang tidak berguna untukmu." Febri menundukkan wajahnya, tangannya mengaduk-ngaduk makanan dengan lesu. Ia jadi tidak semangat makan, padahal tadi ia sudah tergoda mencicipi masakan Arkan.
Arkan menatap Febri bingung dengan perubahan Febri yang cukup drastic, pasti gadis itu berpikiran negative tentangnya. Arkan membuang napas, bahasa wanita memang sulit dipahami.
Arkan tidak pernah mempermasalahkan hal itu yang terpenting adalah Febri bahagia bersamanya. Ia tidak peduli jika pada akhirnya ia merawat istrinya, karena dia mecintai Febri dengan tulus, ia tidak ingin menuntut apapun pada Febri.
Febri mengangkat kepalanya ragu, kedua bola matanya bertemu dengan mata Arkan yang lembut.
"Saya tidak pernah keberatan melakukan semua ini Febri, walau pada akhirnya saya harus membersihkan rumah, mencuci pakaian atau menyiapkan kamu makan. Saya tidak peduli."
"Yang terpenting itu adalah kamu mematuhi keinginan saya, saya sudah merasa senang." Ujar Arkan penuh penekanan, ia hanya tidak suka mendengar Febri yang selalu membantah keinginannya termasuk bertemu pria bernama Dikau itu. Emosinya selalu tersulut melihat kedekatan mereka berdua.
Febri mengangguk sambil mendengarkan ucapan Arkan. Ia akan mencoba berubah untuk menjadi istri yang baik untuk Arkan.
"Sekarang makan," perintah Arkan.
__ADS_1
"Mas," panggil Febri.
"Ada apa lagi?"
"Febri mau tanya," ujar Febri takut-takut.
Febri penasaran dengan mimpinya semalam, dan dulu ibunya juga pernah menjelaskan bahwa ia pernah memiliki hubungan dekat dengan Arkan waktu kecil. Febri ingin memastikan kedua hal itu apakah saling bersangkutan atau tidak, ia penasaran. Jika benar itu nyata kenapa ia tidak pernah mengingat kenangan itu sama sekali. Febri juga tersiksa selalu di hantui mimpi itu. Mimpi seorang gadis kecil dan laki-laki berseragam SMA. Febri harus menanyakannya pada Arkan.
"Apakah benar kita sudah mengenal sejak lama bahkan sebelum kita bertemu di universitas.." tanya Febri.
Arkan menghela napas, ia menaruh sendok di piringnya. Arkan mencoba menenangkan diri, ini adalah topik yang paling ingin ia hindari, tapi Febri harus tahu cepat atau lambat. Dia tidak bisa terus-terusan menyembunyikan semua hal ini, lagi pula ia harus mengakui kesalahannya pada Febri, karena dialah Febri kecelakaan. Andai saja dulu ia tidak melupakan janjinya pada Febri. Mungkin saat ini Febri akan menatapanya dengan tatapan memuja seperti dahulu.
"Nanti saya ceritakan yang terpenting kamu makan terlebih dahulu bagaimana." Ujar Arkan pada Febri.
"Setelah itu kamu boleh bertanya apapun pada saya, Demi tuhan Febri kamu sedang sakit saya hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Melihat kamu menggigil semalaman saja sudah membuat saya menggila." Arkan geram, ingin sekali ia mengikat Febri lalu menyuapi Febri untuk makan. Ia hanya tidak ingin Febri sakit kembali karena tidak makan. Cukup kemarin saja ia panik seperti orang gila, merawat Febri.
"Iya mas." Jawab Febri, ia langsung melanjutkan makannya yang tertunda sebelum Arkan marah lagi padanya.
****
jangan lupa follow Instagram author ya @wgulla_
love you ♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1