My Future Husband

My Future Husband
Kinara Bukan Wanita Lemah


__ADS_3

Tak lama kemudian Bimo datang membawa sekantong makanan yang sudah dibungkus rapi.


Kinara melihat pria itu berjalan kearahnya. Kinara langsung bangkit dari tidurnya. Senyumnya merekah mencium aroma makanan itu.


Selama hilang Kinara belum lagi makan nasi dan makanan yang bergizi. Ia hanya memanfaatkan yang ada di sekitarnya untuk bertahan hidup.


Seperti memakan buah dan sayur-sayuran yang ia temui. Kinara bersyukur sekarang bisa menikmatinya lagi. Ternyata disekap oleh Joe itu tidak buruk.


Walau ia berada di rumah yang begitu mengerikan. Sering terjadi penyiksaan dan penindasan. Kinara tak masalah dengan itu semua. Cukup tau saja itu sudah cukup.


Malah dia disini bisa melatih rasa takut Kinara dahulu. Setelah kepergian Kevin Kinara sangat takut dengan darah.


Tapi selama disekap di ruang bawah. Disitu banyak sekali orang penuh luka, orang disiksa dan juga darah dimana-mana. Kinara mulai terbiasa disitu.


Padahal satu hari belum usai. Tapi Kinara cukup puas berada di dekat Joe. Hidupnya sebentar lagi akan ditentukan Joe.


Bimo mendekati Kinara laku menaruh makanan itu di dekat Kinara.


"Makanlah. Setelah itu Lo boleh istirahat." Ucap Bimo singkat dan dengan wajah datarnya. Ia berbalik hendak pergi keluar.


Kinara tak masalahkan sikap pasukan disini mau cuek atau baik. Tapi dengan sikap sopan-nya Kinara selalu mengucapkan terimakasih saat dia ditolong.


"Terimakasih." Jawab Kinara tersenyum lebar. Dia segera membuka makanan itu.


Sedangkan Bimo hanya menatap datar Kinara. Dia tidak akrab dengan Kinara sejak pertama kali gadis itu datang. Pikirannya terlalu sibuk. Hingga tak ada waktu bercanda seperti Dito.


Kinara menatap makanan itu dengan takjub. Dia makan nasi goreng lengkap dengan ayam goreng, sambal dan juga lalapan.


Makanan yang simpel tapi ngangenin. Kinara akhirnya bisa merasakan makanan itu walau harus menahan rasa bauk disekelilingnya.


Nomor satu itu makan! Masalah lain pikir aja nanti. Bathin Kinara tersenyum jemawa.


Dengan cepat dan rakus Kinara makan nasi goreng itu. Porsinya menambah dua kali lipat. Dia seperti orang tidak makan berhari-hari. Tapi memang benar jika Kinara sudah lama tidak makan nasi. Jadi wajar saja.

__ADS_1


Suasana yang sepi di ruangan itu sekarang terdengar bunyi orang makan. Siapa lagi jika bukan Kinara?.


Bahkan orang disekap lainnya nampak hanya meringis memegangi perutnya. Kinara memang beruntung diperhatikan Joe. Tapi dibalik itu semua Kinara punya tanggung jawab besar. Ia harus relakan wajahnya untuk Joe. Tidak sementara tapi selama-lamanya.


Kinara menutup kertas yang digunakan untuk membungkus itu. Lalu membuangnya ke tempat sampah. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat duduk Kinara.


Dia bernafas lega bisa jalan ke sana kemari tanpa ada ikatan. Dan juga perutnya sudah disini sampai kenyang.


Mata Kinara menatap beberapa pasukan yang terlelap. Apa hari sudah malam? Bahkan di ruang bawah sama sekali digantungkan jam dinding.


"Bagaimana dengan om Dimas? Apa papa dan mama sudah menemukan dia?." Ucap Kinara.


Dia teringat Dimas yang tergeletak sendirian di hutan itu. Tidak ada lagi pasukan yang tak sadarkan diri saat itu. Kinara merasa kasian jika Dimas tidak terselamatkan karena Kinara yang memilih ikut dengan Dito.


Jika tidak ikut Dito maka Dimas mati dihadapan Kinara langsung. Ia tak mau hal kedua kali terjadi. Dipenuhi rasa bersalah itu tidak enak. Selalu saja tergiang-ngiang dalam pikirannya.


Sekarang lega karena depresi sudah mulai tidak kambuh. Ini berkat usaha keras Kinara.


"Apa gue harus tanya Dito?" Ucap Kinara pelan. Dia menatap ke arah pintu siapa tau melihat keberadaan Dito.


"Dia tidak ada. Huft! Tuhan tolong selamatkan om Dimas. Kasian dia masih muda, pasti belum punya istri." Celetuk Kinara.


Dimas memang muda saat itu. Dia gagah dan juga memiliki paras yang sangat tampan. Perasaan Kinara kembali diliputi rasa bersalah yang besar.


"Maafin Kinara om. Jika buat om Dimas dan semuanya terluka. Semoga keputusan Kinara tidak salah, Kinara janji akan selalu bahagia." Ucap Kinara sedih.


Dia tertidur di atas batu yang sangat keras dan dingin. Tidak ada yang membuat Kinara merasa nyaman, tapi sebisa mungkin dia memejamkan matanya.


Dari arah sudut mata Kinara menetes buliran air mata. Kinara menangis dalam diam. Mengingat jika dia akan berpisah kepada semua orang yang dia sayangi.


"Jika takdir Tuhan seperti ini, maka Kinara ikhlas Tuhan melakukan semua dengan baik. Besok Kinara akan melakukan operasi plastik. Berikan jalan yang terbaik Tuhan." Gumam Kinara pelan.


Menatap sedih dengan kehidupannya sekarang. Dulu Kinara serba tenang dan merasa terlindungi. Tapi sekarang semua berubah secara drastis. Kinara jauh dari orang tua dan juga para sahabatnya.

__ADS_1


Kinara rindu sahabatnya. Rindu Sean. Ia merindukan waktu yang kemarin mereka lalui di Tawangmangu bersama.


Di tengah kesunyian itu Kinara tertawa sendiri. Mengingat kenangan bersama para sahabatnya. Candaan dan tawa yang selalu bikin Kinara bahagia.


Jalan bareng kemanapun mereka inginkan. Dan juga selalu membantu ketika lagi susah. Kinara ingat betul wajah bahagia sahabatnya ketika mengetahui Kinara jadian dengan Sean.


"Gue kangen Lo......." Isak tangis Kinara rendah. Air matanya mengalir dengan deras. Mengingat perhatian Sean ke Kinara yang selalu membuat jantungnya tak menentu.


Semua itu ia rindukan. Mungkin hanya akan menjadi angan dalam Kinara. Ia tidak akan mudah untuk menyakinkan jika Kinara akan melakukan operasi plastik. Apalagi jika wajahnya sudah tertukar.


"Sean, apa Lo rasain rindu gue? Kenapa takdir tak ingin kita bersatu hiks. Kenapa semau jadi begini hiks hiks." Tangis Kinara pelan. Menahan semua rasa sesak yang ada di dadanya.


Tiba-tiba pandangan Kinara menggelap. Dia mendongak menatap sosok pria gempal yang menghalangi cahaya lampu.


Pria itu mencambuk tubuh Kinara dengan keras.


Cetarrr!!!


Kinara meringis nyeri. Bagian punggungnya merasa perih dan sakit tak bisa diucapkan. Ada apa semua ini.


"Awsh!!."


"Bisa diam tidak?! Malam-malam nangis, jangan ganggu orang tidur!!." Teriak pria itu dengan lantang.


Kinara menunduk dengan derai air mata yang terus mengalir. Memegangi lututnya itu dengan bergetar.


Cetarrr!!!


"Usap air mata Lo!! Jadi cewek jangan cengeng, baru segini saja udah nyerah!!." Ucap pria itu meninggalkan Kinara. Sepertinya kembali ke tempat semula.


Kinara meringkuk di atas batu itu. Mengelap semua sisa-sisa air matanya.


"Benar juga kata dia, gue bukan cewek lemah!! Gue kuat!! Masa baru segini saja sudah nyerah Kinara? Lo harus tunjukkan ke Joe kalau Lo itu kuat bukan pecundang!!." Tegas Kinara. Walau punggungnya merasa sakit selepas dicambuk.

__ADS_1


Tapi dia sadar jika pria itu baru saja memberikan semangat untuk Kinara meskipun dengan cara kekerasan.


__ADS_2