My Future Husband

My Future Husband
Bab 42


__ADS_3

Febri berdiri berkacak pinggang di depan pintu rumah. Disaat mendengar suara mobil berhenti. Pasti itu Arkan. Ternyata dugaannya benar. Pria itu dengan raut wajah tidak bersalah menggandeng ke dua anaknya dan baru membawa anaknya pulang jam 6 sore. Habis dari mana mereka hingga selama ini.


"Bunda." Teriak Cessa sambil memeluk Febri.


"Lihat ada papa! Papa udah pulang dan mau sama kita lagi Bun." Ujar Cessa Antusias. Sedangkan Febri meringis mendengar itu. Bagaimana ia bisa menghapus senyum indah malaikat kecilnya ini? dengan menjauhkannya dari ayahnya sendiri.


"Alwan dan Cessa mandi dulu ya. Bunda mau bicara sama Papa." kedua anak itu mengangguk mematuhi perintah Febri.


"Kamu bawa kemana mereka?" Selidik Febri. Ia tidak suka dengan Arkan yang menculik ke dua anaknya di sekolah.


"Jalan-jalan, tidak ada yang salah bukan seorang ayah mengajak anak nya jalan. Kami hanya makan dan bermain di tempat bermain dan membeli beberapa mainan." Jawab Arkan santai.

__ADS_1


"Lain kali jangan lakukan itu lagi." Febri mendelik tajam pada Arkan. Ia tidak suka sifat Arogan yang dimiliki Arkan. Ia tidak suka Arkan berbuat seenaknya.


"Lebih baik Anda pulang." Usir Febri.


"Wah sekarang sudah memanggil saya Anda." Febri tidak menanggapi itu. Ia langsung masuk ke dalam rumah. Namun baru saja ia ingin menutup pintu. Kaki Arkan mengganjel pintu itu. Hingga tidak dapat tertutup. Febri bersedia tidak suka di saat-saat seperti ini.


Sekali sentakan pria itu berhasil masuk. Lalu membuang jasnya di sofa. Dan dengan santai tidur di sofa. Foto kesal setengah mati karena hal itu. Arkan bertindak seenaknya sendiri.


"Buatkan suami mu ini minum." Balas Arkan.


"Tidak Sudi! terserah kamu mau apa wong gendeng." Febri akhirnya meninggalkan Arkan. Namun baru beberapa langkah, pria itu menarik tangannya hingga Febri terjatuh bersama dia di sofa itu. lengan kekar itu memeluk perut Febri Erat. Arkan terkekeh mendengar kalimat terakhir Febri. Ia jadi semakin rindu saat-saat Febri merajuk padanya. Rasanya menyenangkan seperti ini. Ia sepeti terhibur.

__ADS_1


"Masih marah?" Febri diam tak menjawab. Ia benci berada di posisi ini. Karena ini adalah posisi dimana ia akan kalah dengan Arkan. Pada Akhirnya Febri memilih diam. Jantungnya berdebar berada di dekapan Arkan. Sudah lama sekali mereka tidak saling memeluk satu sama lain seperti ini.


"Dari dulu sampai sekarang kamu kalau marah terlihat sangat cantik dek di mata mas." Tubuh Febri menegang mendengar itu. Pipinya bersemu tanpa sadar. Rasanya seperti hidup kembali mendengar itu. Apalagi beberapa sentuhan Arkan di tubuhnya membuatnya panas dingin.


"Maaf, saya minta maaf." bisik Arkan dengan lembut.


"Mari kita mulai semua dari awal sama-sama."


"Bunda!!! Bantuin Cessa pakai baju!!" Panggilan itu membuat Cessa melepaskan pelukan Arkan dengan cepat. Ia langsung pergi meninggalkan Arkan. Hampir saja ia terlena dengan Arkan.


Arkan terkekeh melihat Febri yang langsung berlari. Ia memejamkan mata seiring kepergian Febri. Ia lelah sekali. Berada di sini ia merasa nyaman karena berada dekat dengan keluarga. Kalau di rumah ia merasa hampa dan sepi. Semoga setelah ini Febri akan luluh dengan nya. Ia berharap itu. Karena ia merindukan saat-saat seperti ini. Febri terlihat sangat berisi saat ini. Banyak sekali perubahan yang Arkan lihat.

__ADS_1


__ADS_2