
"Sah"
"Sah" gema suara dimana telah terjadinya pernikahan antara Arkan dan Febri memenuhi ruangan. Pernikahan mendadak yang dilaksanakan secara sederhana di rumah Febri itu hanya mengundang kerabat terdekat. Tidak ada satu sahabatnyapun yang ia undang juga ia tidak ingin ada orang yang tahu tentang pernikannya. Febri tidak menyangka jika hari ini ia menjadi istri dari pria yang akhir-akhir ini membuatnya kesal. Pria itu terlihat tampan dengan jas hitamnya, bahkan senyumnya tak pudar seiring waktu. Febri menghela napas, kenapa Pria itu ngotot ingin menikahinya.
Apa pria itu memiliki perasaan padanya? Jika ia kenapa pria itu hobi sekali menyiksanya dan membuatnya kesal? rasanya mimpinya kemarin ketika ia meminta Arkan untuk menikahinya seperti terkabul, rasanya itu memang bukan mimpi karena saat ini mimpi itu benar-benar terjadi. Kenapa hidupnya harus sial seperti ini coba?
Febri masih tidak mempercayai ini, baru kemarin ia mendengar semua pengakuan ibunya tentang hal yang tidak pernah Febri ketahui bahkan kenyataan hubungannya dengan Arkan dulu yang masih mmenjadi misteri dalam ingatan Febri. Tentang perjodohan ini, ternyata laki-laki yang dijodohkan dengannya tak lain adalah dosennya sendiri. Seharusnya Febri curiga melihat kedekatan antara ayahnya dan Arkan waktu itu, bahkan ketika Arkan diundang makan malam di rumahnya.
Febri ingin sekali menolak, ia tidak punya alasan apalagi mengetahui alasan kenapa ia harus menerima pernikahan ini membuatnya hanya bisa pasrah. Ia hanya bisa menuruti jalannya pernikahan ini berharap ada kebaikan di dalamnya.
Hanya ada akad nikah, itulah perjanjiannya. Febri meminta orangtuanya untuk menunda resepsi pernikahan ia belum sanggup menanggapi pertanyaan teman-teman kampusnya tentang pernikah ini apalagi fans Arkan yang begitu banyak pasti Febri akan kewalahan menghadapi mereka. Febri menghela napas, ia sekarang sudah menjadi istri orang lain namun hatinya masih pada Dikau. Entahlah Febri sulit menjabarkan hal itu. Ia juga yakin Dikau juga menyukainya, ia tidak bisa membayangkan reaksi Dikau mengetahui jika ia sudah menikah. Apakah pria itu masih mau mengenalnya? Terlebih Ia seperti member harapan pada pria itu di setiap perhatian yang pria itu berikan.
Semua ini terlalu cepat, sehari setelah Arkan melamarnya. Pria itu langsung meminta akad nikah untuk disegerakan. Febri jadi teringat obrolan panjangnya dengan bundanya yang membuatnya tak mampu menolak pernikahan ini. Sudah terlambat tak ada yang bisa ia sesali karena ikrar telah terucapkan.
"Kamu tahu kita punya hutang budi pada keluarga mereka. Bahkan uang saja tidak cukup untuk membayarnya." Ujar Risa, karena keluarga Arkan sejak dulu selalu menjaga keluarganya bahkan walau harus mengorbankan nyawa.
"Maksud mama?" Febri menatap Risa meminta penjelasan.
"Dulu ayah Arkan sebelum meninggal ia memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya untuk mama yang saat itu sedang sakit dan sangat membutuhkannya." Ujar Risa sedih.
"Apa? Kenapa mama tidak pernah cerita sama Febri?"
"Mama hanya belum siap,"
"Maafkan mama, ini salah mama." Risa memeluk Febri erat sambil menangis. Febri hanya terdiam mencerna semua perkataan mamanya.
__ADS_1
"Bukan Cuma itu saja Febri. Arkan pernah menyelamatkan nyawa kamu waktu kamu kecil."
"Mama bohong, pasti bohong." Febri menatap Risa tidak percaya, ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya bahkan ia tidak pernah merasa ia pernah mengenal Arkan sebelumnya.
"Febri tidak mengenal siapa Pak Arkan, kita baru bertemu ketika Febri kuliah. Mana mungkin mama bisa menjabarkan jika Kami memiliki hubungan dekat. Kalau kami dekat kenapa kita tidak menikah dari dulu dan kenapa pak Arkan dulu malah menikah dengan oranglain ma" Febri berusaha menyangkal semua perkataan ibunya.
"Ada hal rumit di antara kalian waktu itu," Risa terdiam ia masih ingat hari sebelum Arkan memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar kota.
"Waktu itu kamu masih kecil, masih berusia 12 tahun. Sedang Arkan sudah 18 tahun. Apalagi setelah itu kalian jarang berinteraksi itulah yang membuat kalian tidak mengenal satu sama lain, wajah kamu yang berubah dewasa begitupun Arkan."
Risa memegang bahu Febri, lalu mengelap air matanya. "Mama tidak ingin menjelaskan, biar Arkan saja yang memberitahumu. Agar kamu tahu berapa penting arti kamu dimatanya. Agar kalian sama-sama menyadari jika kalian sudah saling menyayangi sejak kecil."
Risa tahu Arkan dan Febri dapat melupakan dengan mudah masa kecil mereka tapi Risa yakin berjalannya waktu akan mengingatkan kembali betapa dekatnya keduanya bahkan sampai tak ingin dipisahkan. Risa menghela napas, ia yakin ini yang terbaik.
"Terimakasih," bisik Arkan pada Febri.
"Saya janji akan membahagiankan kamu Febri."
Febri hanya mengangguk, hari ini akan menjadi hari yang panjang untuknya.
"Jadilah gadis penurut, karena sekarang kamu sudah menjadi nyonya Arkan."
"Akan ada konsekuensi dari setiap penghiantan," Ujar Arkan pada Febri mengingat gadis itu masih memiliki hubungan dengan Dikau.
"Kamu tidak berhak mengaturku." Febri membalas, cukup kesabarannya sudah habis. Ia tidak suka diatur-atur terlebih melakukan hal yang tidak disukanya dan pria tua itu melewati batasannya.
__ADS_1
"Ingat pernikahan ini tidak ada cinta sama sekali di dalamnya," kenapa Arkan harus bercerai dengan istrinya, andai saja Arkan masih menikah pasti ia tidak menikah dengan pria menyebalkan itu. Tapi entah kenapa ada rasa tidak rela jika Arkan dimiliki oranglain, Febri menggelengkan kepalanya itu tidak benar, yang dia cinta itu Dikau bukan Arkan..
"Aku benci kamu," Febri menjauh dengan kesal, setelah itu ia langsung pergi ke kamar meninggalkan Arkan yang bersama keluargnya.
Pihak keluarga hanya memaklumi, bagaimanapun Febri masih tergolong muda untuk menikah. Arkan menghela napas, ia membiarkan Febri, tapi ia nanti akan menasehati Febri. Yang terpenting Febri telah menjadi miliknya. Arkan mengamati langkah Febri yang memasuki kamarnya, ia yakin Febri pasti akan menerimanya entah kapan itu..
***
Suara Hati Arkan untuk Febri...
Kau tahu Febri apa yang paling menyakitkan di dalam hidupku..
Ketika kau mengatakan betapa kau membenci ku..
Hati ku terasa sakit tapi aku hanya bisa pasrah dan tersenyum..
yang terpenting dari semua itu adalah kau menjadi milikku seorang..
Tak ada lagi yang bisa mendekati mu lagi Febri...
Hanya aku seorang...
love your husband
Arkan ♥️
__ADS_1