My Future Husband

My Future Husband
BAB 60


__ADS_3

Febri menatap kepergian Alwan dengan sedih. Ia melihat anaknya itu masuk ke dalam mobil bersama pria yang tidak lain adalah ayah kandung Alwan. Febri menangis tersedu-sedu.


"Mas ambil Alwan lagi mas.. jangan. biarkan dia pergi. hiks...hikss...."


"Kita harus ikhlas Sayang. mungkin Thomas benar hanya bersama dia Alwan akan selamat. Bisa di prediksi jika Alwan bersama kita pasti Alwan akan di celakakan lagi." Tadi Arkan sempat berbincang dengan Thomas. Ia jadi tahu apa yang Thomas rasakan. Jadi ia tidak bisa mencegah. Apalagi Alwan juga menginginkan hal itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak punya kekuasaan yang besar seperti yang Thomas miliki.

__ADS_1


"Tapi mas.. hiks..hiks... aku tidak bisa. Aku tidak mau Alwan pergi." Febri menangis, sebelum nya Febri sudah menidurkan Cessa sebelum Alwan pergi. Karena ia tahu pasti anak perempuannya itu yang akan paling histeria melihat kepergian Alwan.


"Kamu sudah berjanji mas.. akan mempertahankan Al.. hiks.. kamu bohong..." ucap Febri sambil terisak.


Ketika melihat mobil yang membawa Alwan itu pergi. Febri mengejarnya, ia menggerakkan kursi rodanya Dengan cepat. Bahkan ia nekat untuk berdiri bangkit dari kursi roda mencoba untuk berlari mengejar mobil itu. Tapi kakinya tidak sanggup melakukan hal seperti itu. Febri terjatuh di jalanan menatapi kepergian mobil yang membawa anak laki-lakinya itu. Kakinya sakit terkena aspal. Ia berusaha untuk bangkit mengejar. Walaupun itu tidak berhasil. Febri menangis tersedu merutuki diri nya tak mampu berbuat apapun selain menangis. Ia hanya bisa menangis.

__ADS_1


Arkan berlari menghampiri Febri. Ia ikut menangis melihat betapa gigihnya istrinya itu. Ia malu menjadi seorang ayah yang tidak bisa melindungi anak-anak nya. Ia malu dengan dirinya sendiri. Yang bahkan tidak melakukan apapun untuk mencegah kepergian Alwan. Ia hanya mencium kening anak laki-laki nya itu dan mengatakan untuk terus tumbuh menjadi anak yang pintar dan hebat. Sesungguhnya di dalam hati Arkan ia juga kehilangan. Namun ia juga tidak mau memisahkan Alwan dari ayah kandungnya. Alwan berhak bahagia dengan keluarganya. Arkan tidak menyangka jika ini akan menjadi hari terakhir nya bersama Alwan. Dia jadi menyesal melewatkan waktu-waktu nya begitu saja dengan anak-anaknya. Ia baru tahu betapa berharganya seseorang. Ketika orang itu pergi.


"Mas.. hiks... Al pergi meninggalkan kita... dia pergi.. hiks...." Febri tersedu-sedu. Tidak mempedulikan luka di kakinya. Ia memeluk Alwan erat seakan memberi tahu betapa terlukanya dia saat ini.


"Al pergi..." Arkan ikut menangis. Ia benar-benar merasa kehilangan. Baru kali ini ia melihat Febri menangis histeris kehilangan sesuatu yang berharga.

__ADS_1


"Kita harus apa mas... mas jangan biarkan Al pergi hiks..hiks... Al punya kita... bukan pria itu.. Al anak kita mas.. Anak yang kita rawat dari kecil. Al anak kita... hiks..hiks... jangan biarkan dia pergi." Arkan menarik Febri ke dalam pelukannya. Mengelus punggung wanita itu dengan lembut berusaha menenangkan.


"Al.. jangan pergi ... hiks.. jangan tinggalin bunda..hiks.."


__ADS_2