
Febri membaca buku catatannya di taman, ia sedikit bosan menunggu Arkan selesai bekerja. Dia menyambinya sambilmembaca buku catatannya karena besok akan ada quiz di mata pelajaran syntax. Arkan menyuruhnya menunggu di taman, mereka ingin berkencan. Itulah yang diucapkan Arkan tadi pagi sebelum mereka berangkat ke kampus bersama. Namun Febri merasa bukunya di tarik kencang dan berpindah tangan.
Febri langsung mendongak, ia baru saja ingin marah namun melihat Dikau lah dalang di balik keusilan itu dia terdiam sejenak. Dikau tersenyum manis padanya.
"Kamu sendiri?"
Febri mengangguk, dia diam dalam canggung. Dikau menatap aneh Febri, menyadari itu Dikau langsung pergi dari Febri. Namun Febri teringat bukunya yang di bawa Dikau langsung mengejar Dikau.
"Kak Dikau, kembalikan bukuku." Nafas Febri tersenggal mengejar langkajh kaki Dikau yang begitu panjang.
Dikau berhenti, ia tersenyum miring, "Ambil saja kalau bisa."
"Kak ngak lucu yah," ujar Febri, ia baru tahu jika Dikau memiliki sifat jail seperti ini.
Febri berusaha menjangkau bukunya dari pengangan Dikau. Pria itu tinggi dan sangatlah sulit bagi Febri menjangkau buku tersebut. Dikau terkekeh senang mengerjai Febri, ia senang melihat Febri yang berusaha mengambil buku itu.
__ADS_1
"Kak plis, kembalikan Febri mau ulangan." Melihat Febri yang Nampak menyerah dan memohon sambil memelas, Dikau memberikannya. Kemudian Dikau tertawa lepas, ketika Febri menjangkau buku dan memeluknya ke dalam pelukan seakan-akan Dikau akan merebutnya kembali.
Febri terpana mendengar tawa itu, sedetik kemudian ia diam. Apakah tawa itu akan tetap ada? Jika Dikau tahu dirinya telah menikah. Febri benar-benar merasa jahat telah membohongi pria sebaik Dikau.
Febri mengerjapkan mata, kemudian ia merasakan usapan lembut di kepalanya. Febri terpaku merasakan hal itu. Namun yang membuatnya lebih terpaku lagi adalah melihat Arkan berdiri di belakang sana menatapnya terluka. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Febri langsung menunduk. Ia merasa tidak enak padahal semalam ia mengakui kesalahannya pada Arkan tapi sekarang ia malah mengulanginya lagi.
Suara di ponsel Dikau berdering, membuat Dikau harus meminta ijin pada Febri untuk mengangkat telpon itu. febri menganguk, ia juga mengatakan pada Dikau jika ia akan pulang ke rumah. Dikau langsung berlalu meninggalkan Febri.
Febri terdiam di tengah jalan itu, untung kampus Nampak sepi. Febri menghela napas mendengar suara langkah kaki mendekatinya, ia siap jika Arkan marah padanya. Febri malah merasakan tangannya di genggam erat, Febri mendongak. Arkan tersenyum lebar padanya, bahkan mata yang Nampak terluka tadi entah hilang kemana. Febri berusaha tersenyum walaupun itu gagal.
Febri lagi-lagi kaget, Arkan tidak marah padanya pria itu Nampak lembut di matanya.
"Ada yang salah dengan saya?" tanya Arkan, Febri menggeleng.
"Kalua kamu taya saya cemburu atau tidak , jawabnnya saya sangat cemburu dan ingin rasanya saya mencium kamu saat ini juga menunjukkan pada orang-orang bahwa kamu adalah milik saya."
__ADS_1
"Mas tidak akan berani," ujar Febri.
Arkan menghentikan langkahnya, membuat Febri juga ikut berhenti.
"Ada apa mas?"
Arkan langsung memegang pinggang Febri dan mencium bibirnya melumatnya dengan pelan mencurahakan semua perasaan. Febri terpaku, mendapatkan ciuman mendadak itu. Ia hanya bercanda tapi pria ini malah nekat menciumnya, ketika Arkan melepaskan ciumannya Febri memandang sekeliling takut ada yang melihatnya.
"Mas Arkan gila, bagaimana jika ada yang melihat?"
"Biarkan saja,"
"Lebih baik kita pergi, ukan karena keadian tadi kencan kita akan batal." Ujar Arkan pada Febri. Sessungguhnya Arkan tidak tenang, ia takut jika Febri akan memilih Dikau.
"Apa ia mengikuti cara yang Rakan usulkan padanya tadi siang?" batin Arkan bergejolak meinmbang-nimbang usul gila dari Rakan.
__ADS_1
"Buat dia hamil, maka dia tidak akan meninggalkanmu," suara Rakan memenuhi kepala Arkan. Arkan rasa ia harus mempertimbangkan solusi dari sahabatnya itu, ia sudah tidak tahan lagi melihat kemesraan Dikau dan Istrinya setiap hari yang makin lama makin mesra. Membuat Febri hamil mungkin adalah tindakan yang tepat.