
Joe berdiri dengan tegap menatap nyalang ke arah Sean. Dia memberi perintah kepada pasukannya untuk melanjutkan rencana yang sudah Joe susun.
"Lo jahat Sean!!." Bentak Joe dengan air mata terus mengalir. Rasa perih disekitar pipinya masih terasa sakit.
Sean tersenyum miring tak mempedulikan ucapan Joe sama sekali. Dia ingin sekali merengkuh tubuh Kinara yang masih setia melihat dia. Rasa rindu itu ingin segera di hilangkan.
"Lepasin Kinara. Maka Lo akan selamat." Ucap Kenzo . Aura Kenzo jauh lebih menakutkan daripada lainnya.
"Jangan pernah mimpi!! Sebelum gue dapetin Sean." Seru Joe.
"Baiklah kalau begitu bersiaplah untuk mati, Joe." Senyum smirk Kenzo dengan kejamnya.
"Gue bawa pasukan. Gue bawa orang suruhan yang selama ini bantuin gue. Tidak ada seorangpun yang bisa membunuh gue." Bangga Joe.
Tampak sekali tidak ada guratan ketakutan dari wajah Joe. Wanita itu sombong dibawah kekuatan pasukannya. Kenzo yakin Joe tidak bisa berkelahi sama seperti ketua mafia lainnya.
Jika sesuai dengan informasi yang Kenzo dapatkan Joe itu hanya diangkat sebagai putri mafia karena pernah menolong tuan Arga, ketua mafia sebernanya. Dan ternyata banyak dari pasukan yang tidak suka berada di bawah kekuasaan Joe. Karena gadis itu suka bertindak seenaknya sendiri. Dan juga membunuh atau menyakiti pasukannya tanpa ampun.
"Kita buktikan. Gadis seperti mu memang pantas hukuman yang setimpal!!." Ucap Kenzo penuh peringatan.
Kenzo berjalan dengan aura tegasnya. Dia akan menyusul Sanjaya yang sudah ikut turun ke Medan perang. Sedangkan delima sudah diamankan tadi karena sangat berbahaya.
*
*
*
"Gawat!! Kita dikepung oleh anak buah dari keluarga Sanjaya!. Mereka sudah berhasil mengendalikan semuanya. Bahkan pasukan kita hampir tak tersisa diserang oleh pasukannya." Ucap Bimo dengan gemetaran. Dia takut jika Red Blood akan kalah. Jika kalah maka Bimo akan ikut terseret ke kantor polisi atau bisa saja mati sama seperti pasukan lainnya.
Dito mengepalkan tangannya mendengar itu semua. Dia melihat ke arah Sean dan Joe yang masih senantiasa berdua.
"Gara-gara dia!!." Tuding Dito ke arah Joe. "Kita harus rela dengan nyawa kita."
Bimo menggeleng kepalanya dengan kuat. Masih bisa juga Dito memikirkan hal itu padahal ada hal yang bisa yang harus dihadapi.
__ADS_1
"Jangan pikirkan itu! Ayo kita bantu serang, agar tidak mati sia-sia."
"Siapkan senjata api!!. Kita serang mereka sampai ke akarnya." Perintah Dito dengan keras.
"Baik tuan. Kita akan membunuh mereka?."
"Cepat laksanakan!!!." Tegas Dito tidak ingin lagi berbasa-basi. Rasanya ingin marah melihat pasukan Red Blood banyak yang tumbang. Sedangkan Joe sama sekali tidak membantu.
Mafia itu harusnya kuat tidak lemah. Dimana kekuatan para pasukannya yang dulu? Padahal seharusnya Red Blood menang. Karena banyak latihan fisik dan juga latihan mental. Tapi sekarang, dengan mudah pasukan dari Sanjaya mengalahkan Red Blood.
Dito mengambil senjata api. Dia memasang pakaian anti peluru dan sekarang menggunakan sarungan tangan dan juga kacamata. Bimo juga melakukan hal yang sama dengan Dito. Mereka sudah siap untuk bertempur.
Kedua pria itu berjalan mendekati arena pertempuran itu dengan aura gelapnya. Mata Dito melihat gerakan Sanjaya dan Kenzo yang dengan lihai menghabisi nyawa pasukannya.
Dito dengan senyum miring langsung mengarahkan pistolnya ke Sanjaya. Lebih tepatnya ke kepala Sanjaya agar pria itu bisa mati dengan cepat.
Hingga suara tembakan itu terdengar lepas dari pistolnya. Tapi rupanya Dito salah sasaran. Peluru itu malah mengenai pasukan Red Blood. Sanjaya memang lincah untuk menghindar.
Sial!
"Lo payah!." Seru Bimo.
Bimo mengarahkan pistolnya itu ke arah Kenzo. Mereka terlihat waspada. Hingga peluru tiba-tiba melesat jauh ke arah sasaran yaitu Kenzo.
Sanjaya yang tanggap akan situasi berbahaya ini. Dia menendang tubuh Kenzo sampai tubuh anaknya itu terjerap ke tanah dengan keras. Ke zo meringis merasakan sakit ditangannya. Tapi ada rasa bersyukur karena dirinya tidak jadi kena peluru.
"Sial." Geram Bimo.
"Mereka tak sama licik seperti kita." Jawab Dito.
Hingga akhirnya pertempuran itu terus terjadi. Sama seperti pertempuran yang ada di hutan saat itu. Hanya saja kini Dito harus berhadapan dengan pasukan yang lebih kuat.
Semua itu tidak berlangsung dengan lama. hingga suara tembakan melesat tepat di tanganya Dito dan Bimo. Semua itu sengaja dilakukan oleh seseorang.
"Kaparat!!. Waspada Bimo." Teriak Dito. Dia sudah kecolongan. Matanya menatap sekitar.
__ADS_1
"Masih belum puas?!." Tanya Sean yang tiba-tiba sudah ada di belakang Dito dan Bimo.
Sejak kapan pria itu ada di belakangnya. Dimana anak buah yang menjaga Dito dan Bimo.
Mata Dito kaget ketika melihat para pasukannya sudah terkapar dan tidak sadarkan diri.
"Sayang sekali gue belum menguliti pasukan ini. Tapi tenang, bagaimana Lo aja yang gue kulit i sampai daging Lo keluar?!."
Aura Sean memang keren dibandingkan dengan lainnya. Tangannya menggenggam pistol dengan erat.
Jika Sean disini lantas dimana Joe? Apa gadis itu kabur!! Bathin Dito geram.
"Bagaimana? Sudah puas dengan waktumu bermain? Sekarang saatnya kalian tidur ke tempat istirahat mu sebernanya, yaitu pemakaman!!."
Bimo dengan sigap menembak senjata apinya kepada Sean. Namun semua tembakannya melesat dan berhasil ditangkis oleh Sean. Sepertinya Sean bukan lawan yang lemah.
"Bahkan caramu menembak seperti seorang bocah yang baru belajar menembak."
Bimo melihat Sean dengan ketakutan. Seluruh tubuh Dito dan Bimo ikut bergetar dengan hebat.
Sean mendekati tubuh Dito dan Bimo. Sean langsung menyerang mereka, dengan pisau yang terselip di celananya. Sean menyerah dengan brutal. Gerakan yang Sean lakukan selalu tepat sasaran.
"Argh!!." Teriak kesakitan mereka. Ketika merasakan tubuhnya seperti dikuliti sesungguhnya. Sungguh menyakitkan!.
Dito meringis kesakitan saat Sean menyerang tanpa ampun dan jeda. Tubuh mereka mengeluarkan banyak sekali darah. Sean mengeluarkan senjata api yang dia pegang. Dia meninggalkan Dito dan Bimo yang tak berdaya.
Dor!!
Dor!!
Dua kali tembakan tepat mengenai jantung Dito dan Bimo. Dua pria itu langsung merengangkan nyawanya.
Sea tau jika Bimo dan Dito memakai pakaian anti peluru. Namun peluru Sean lebih hebat dari itu. Yang bisa dengan cepat menembus sampai ke jantung.
Sean tersenyum bangga dengan kekuatannya. Dia menatap kali ini sudah menang. Semua pasukan Red Blood sudah tergeletak tak bernyawa. Akhirnya Sean menyeka keringatnya lalu pergi menghampiri Kinara. Dengan cara ini pasti Joe tidak akan sanggup lagi untuk melawan.
__ADS_1
Sean sudah putuskan untuk memberikan hukuman sepenuhnya kepada Sanjaya. Biar papa dari Kinara yang menghukum Joe dengan caranya sendiri.
Joe sudah kelewat batas yang tega menyakiti Kinara sampai tubuh gadis itu babak belur. Sean juga merasa tidak menyangka dengan tindakan Joe. Tapi kembali lagi ke awal, cinta itu memang buta. Kadang cinta yang membuat kita tidak bisa secara jernih.