
Kasus pencarian Kinara terus berlanjut hingga tiga hari ini telah berlalu begitu cepat. Keluarga Sanjaya sangat merasa sedih dan juga kesepian karena tidak ada kehadiran Kinara, putri mereka.
Terutama untuk kakek Sanjaya yang sejak kecil menemani Kinara. Dia sangat terpukul dengan meninggalnya Kinara.
Hari ini, tepat tiga hari pencarian mayat Kinara dan Joe tidak ditemukan. Pihak polisi menyerahkan kasus itu kepada Sanjaya. Mereka memberi tahu kepada Sanjaya agar mengikhlaskan.
Saat ini di sisir pantai dekat pelabuhan di Jakarta Selatan. Terlihat keluarga Sanjaya serta teman-teman terdekat Kinara datang disana. Hari ini akan menaburkan bunga untuk mengiringi langkah Kinara.
Keluarga Sanjaya sudah mengikhlaskan kepergian Kinara. Walau masih berat, mereka mencoba pasrah kepada Tuhan. Jika itu takdir dari Tuhan mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Murid-murid dan para bapak ibu guru di SMA Dharma Bhakti juga ikut bela sungkawa. Berita duka itu sudah menyebar kemana-mana.
Tak heran, siapa yang tidak ikut sedih ketika melihat keluarga Sanjaya ada yang meninggal.
"Kinara Cucu kakek!." Kakek Sanjaya menatap lurus luasnya samudera itu.
Benturan ombak menggulung indah datang ke arah kakek Sanjaya. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
Sambil membawa semangkok bunga, tanganya bergetar.
"Maafin kakek, kenapa kamu tinggalin kakek? Kakek kangen kamu Kinara. Disini, semua orang datang untuk mengiringmu agar tenang di surga bersama Tuhan. Maafin kakek, sekarang kakek tidak akan sedih lagi. Kakek udah ikhlaskan kamu nak. Bahagia disana ya Kinara cucu kakek, surga langgeng buat kamu." Ucapnya dengan bibir bergetar. Nafasnya tercekat melihat ombak yang terus bergelombang tinggi.
Matanya seolah melihat Kinara di atas gelombang itu. Kakek Sanjaya mencoba tenang, walau rasa sakit menjalar di tubuhnya.
Tanganya tergerak untuk mengambil bunga, lalu ditaburkan ke tengah laut itu.
Ombak segera datang dan membawa bunga itu satu per satu. Sanjaya segera mendekap tubuh papanya. Lalu menuntun agar duduk di kursi roda.
"Istirahatlah dahulu pa! Sanjaya dan Delima akan mengirim doa untuk Kinara." Ucap Sanjaya.
Dia menarik tangan Delima agar maju ke depan. Semua orang berjejer rapi ke belakang untuk bergantian menyekar bunga untuk Kinara. Supaya arwah Kinara dan Joe tenang di alam surga.
"Ini papa sayang." Sanjaya menarik nafas dalam. Tangan mereka saling bertautan, memberi kekuatan satu sama lain.
"Papa yang nggak berguna untuk kamu! Papa gagal jagain putri papa."
__ADS_1
Tes!
Tes!
Tes!
"Kamu boleh benci papa, Kinara. Papa nggak bisa selamatkan kamu dengan cepat."
Semua orang disana mendengar suara Sanjaya yang begitu miris. Terlihat jelas jika Sanjaya begitu terpukul. Semoga setelah ini mereka bisa bangkit untuk mencoba ikhlas.
Bahkan orang-orang disana tidak bisa menahan air matanya. Tak terasa Kinara begitu cepat meninggalkan mereka semua.
"Bahagia lah disana bersama Tuhan! Disana kamu tidak merasa sakit maupun sedih. Melainkan hidup kekal bersama bapa di surga. Papa berharap kamu tenang disana Kinara. Papa disini akan jaga mama, dan kak Kenzo. Kami mencintaimu nak! Sampai kapanpun itu."
Delima melirik suaminya tertunduk rapuh. Tanganya terkepal erat memegang tiang sekat batas laut.
Tangannya mengelus pelan punggung Sanjaya. Walau dia sedih tapi tetap berusaha untuk menghibur suaminya itu.
"Jangan menangis! Kita harus bahagia dihadapan Kinara." Pinta Delima.
Sanjaya membenarkan ucapan Delima. Dia tidak mau memperlambat jalan Kinara. Akhirnya dia mencoba tersenyum dan menghapus air matanya.
Delima maju ke depan. Dia membawa semangkok bungan. Semilir angin menerpa rambutnya ke belakang.
"Ini mama nak!." Delima tersenyum. "Mama datang membawa secuil doa untuk menemani langkah dan hidupmu disana."
"Mama bangga sama Kinara! Mama bisa merawat Kinara dan mendidik Kinara sampai umur 17 tahun ini. Takdir Kinara ternyata begitu cepat, tapi mama seneng. Kinara baik-baik disana, tugas Kinara di bumi sudah selesai. Bahagia disana nak! Hidup kekal bersama Tuhan!."
"Mama dan papa ikhlaskan Kinara. Doa mama, kamu tetap jadi yang terbaik. Tenang dialam dana nak. Semoga kedepannya mama bisa lebih baik." Lirih Delima di akhir kalimatnya.
Rasanya begitu perih di hati. Matanya memanas tak kuat menahan rasa sedih ini. Ibu mana yang kuat melihat anaknya meninggal kan dia untuk selama-lamanya. Apalagi Delima tidak melihat jasad Kinara di akhir hidup.
Sanjaya memeluk Delima. Dia merasakan hal yang sama.
"Jangan sedih! Ayo kita tabur bunga ini, habis itu berteduh." Ucap Sanjaya membelai rambut Delima.
__ADS_1
Delima pasrah saja di dalam dekapan suaminya itu. Setelah mereka selesai menabur bunga, Sanjaya mengajak delima untuk berteduh dekat papanya.
Kini giliran Kenzo yang berdiri di barisan paling depan.
Dia menatap nyalang samudera itu. Seolah merekalah yang membawa pergi Kinara untuk selama-lamanya.
Disampingnya tubuh Kenzo ada Eva yang setia menemani.
"Mari kita berdoa!." Ajak Kenzo. Eva tersenyum sambil mengangguk patuh.
Mereka diam, dan berbicara di dalam hati. Entah doa apa yang mereka doakan intinya tidak ada satupun orang yang tau.
"Taburkan dahulu." Pinta Kenzo.
"Baiklah!." Eva mengambil bunga lalu menaburkan secara perlahan. "Ini, giliranmu."
Kenzo menerima lalu menaburkan bunga itu. Setelah itu mereka pergi.
Kini giliran Tasya dan juga Kayla. Di belakang mereka ada Raynald dan Damar.
Mereka mengucapkan doa itu secara bergantian. Setelah itu mereka juga menaburkan bunga untuk mengiringi langkah Kinara. Air mata selalu ada di setiap kata selamat tinggal. Sama seperti yang dilakukan Kayla dan Tasya. Mereka menangis di pelukan Raynald dan juga.
Ingat! Hanya sekedar pelukan karena suasana hati sedang sedih.
"Gue nggak nyangka Kinara beneran pergi!." Tangis Tasya dan Kayla.
"Kinara, kenapa lo tega sama kita hiks hiks." Jawab Kayla.
"Udah! Kita ikhlas Kinara, dia sudah bahagia! Jangan buat dia sedih." Pinta Damar dengan tegas. Jujur saja ia juga tak tega melihat Kayla dan Tasya begitu sedih. Mereka pasti merasa kehilangan Kinara, padahal mereka adalah sahabat sejatinya.
Tapi kembali kepada takdir. Tidak ada yang tau takdir itu kapan. Kita sebagai manusia hanya bisa menunggu kehendak Tuhan.
Setelah menabur Bunga-bunga di lautan mereka memutuskan untuk pulang. Hati semakin terik sinar matahari semakin panas.
Satu persatu orang pulang meninggalkan tempat itu. Keluarga Sanjaya juga sudah meninggalkan tempat itu. Mereka kembali untuk beraktivitas.
__ADS_1
Pelabuhan itu menjadi sepi dan sunyi. Deru ombak terasa begitu pekat di dalam telinga. Gemericik air tak ada hentinya menemani pria itu di pelabuhan sendirian.
Matanya yang tajam menatap samudera dengan tatapan sulit dimengerti. Tiba-tiba cengkraman tanganya semakin erat di batas besi. Dia menahan rasa sakit itu sendirian dengan air mata terus berjatuhan.