
Kinara menatap ragu untuk masuk ke dalam kamar mandi itu.
Tanganya sudah tidak diborgol lagi. Tapi entah kenapa Kinara malu jika mandi harus dijaga oleh Dito.
Tentu saja! Selama kamar mandi Kinara selalu ada di dekat kamarnya. Dan sekarang dia harus merasakan mandi di tempat bebas. Lebih tepatnya kamar mandi di luar.
Dito melihat gerak gerik dari Kinara yang aneh. Ia pun menghembuskan nafasnya.
"Ada apa?." Tanya Dito.
Kinara menatap Dito dengan senyum canggung nya. Ia takut jika ucapannya nanti akan menyinggung hati Dito.
"Katakan saja! Siapa tau gue bisa bantu Lo!." Ucap Dito tegas.
Dengan keberanian yang dimiliki. Kinara akhirnya Berkata Jujur kepada Dito. Karena apa yang ia rasakan sangat tak nyaman. Apalagi mandi harus ditungguin pria.
"Bolehkah sedikit menjauh? Gue tak biasa mandi ditungguin pria." Ucap lirih Kinara. Ia tak berani menatap Dito takut jika pria itu berpikir macam-macam.
"Lo mau kabur?!." Sargah Dito menatap tajam.
"Lo mau kabur dari kamar mandi?!." Tanyanya tegas.
Kinara menggeleng kuat kepalanya. Tanganya bergetar melihat kemurkaan wajah Dito.
"Tidak!! Gue memang tak biasa!!." Jelas Kinara.
"Gue diluar! Jangan khawatir gue nggak akan melihat tubuh Lo." Jelas Dito tersenyum.
"Masuklah!! Nanti Joe akan marah jika terlalu lama menunggu." Kata Dito datar.
Ish! Dikit-dikit Joe! Dia pikir hidup gue akan bergantung sama dia apa?! Nyebelin. Bathin Kinara sengit.
Dirinya sekarang terjebak di tengah mafia. Betapa menyebalkan bukan jika hidup harus diawasi. Bahkan mau melakukan apa saja tidak bebas.
Dengan terpaksa Kinara masuk ke kamar mandi itu. Langkahnya tegas. Bunyi keras terdengar dari lantai karena ulah Kinara. Sangat menyebalkan!.
Brak!!
Pintu tertutup dengan keras. Kinara dengan cepat membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalu segera masuk ke dalam bathtub.
Dito menghela nafas beratnya. Menghadapi perempuan itu memang sulit. Padahal dia berusaha menjaga Kinara agar tidak dilukai secara langsung oleh Joe. Bagaimana pun hati kecilnya masih ingin memberikan kebebasan.
Tapi apa? Usahanya malah di sia-siakan oleh Kinara.
"Wanita memang menyebalkan!!." Gumam Dito rendah. Matanya kembali menatap ponsel. Menghilangkan ke gabutan-nya sekarang.
Di dalam kamar mandi Kinara merasa tak tenang. Beberapa kali dirinya melihat ke arah pintu memastikan selalu tertutup.
Khawatir jika tiba-tiba Dito masuk ke dalam. Tapi untungnya itu tidak terjadi. Acara mandi sudah selesai.
Kinara melihat tubuh dan wajahnya dari kaca yang bergelantung.
"Segar sekali. Setelah beberapa hari tidak mandi akhirnya tubuh gue kembali fresh." Gumam Kinara.
__ADS_1
Tubuhnya tidak benar-benar polos sekarang. Sudah ada handuk besar yang melilit di tubuhnya. Menutupi semua aset berharga wanita.
Di tangan Kinara ada handuk kecil. Sebelum masuk semua apa yang Kinara butuhkan sudah disiapkan. Kecuali dalaman.
Dengan cepat Kinara menggosok-gosok rambutnya itu. Tentu saja sambil memperhatikan wajahnya dari kaca.
Tok
Tok
Tok
"Apa mandi Lo masih lama?." Tanya Dito dari luar.
Kinara memutar bola matanya. Belum juga selesai ritual mandi. Tapi Dito sudah mengetuk pintu. Apa Dito tidak pernah menemani wanita?.
Padahal wanita sering mandi lama. Ya karena ada bagian tubuh yang harus di bersihkan.
"Bentar lagi!!." Teriak Kinara. Dia harus menyelesaikan semuanya sekarang.
Huft!
"Sebenarnya wanita itu mandi apa yang sedang di lakukan?." Tanya Dito pelan. Tapi percuma saja Kinara tidak mendengarkan itu.
Ceklek
Kinara keluar lengkap dengan baju yang sebelumnya ia kenangkan tadi. Daripada keluar menggunakan handuk lebih baik pakai baju yang sudah kotor.
"Maaf sudah buat Lo nunggu lama." Ucap Kinara tersenyum.
Ia mengambil borgol yang tergeletak di meja. Dan memasangkan ke dua tangan Kinara.
"Ayok!." Ajak Dito.
Kinara menuruti kemana Dito pergi. Pasti dia kan dihadapkan lagi dengan Joe.
"Dito..." Panggil pelan Kinara.
"Ada apa?."
"Kapan gue bisa bebas?." Tanya Kinara pelan. Tentu saja ia menunduk takut.
"Tidak akan! Dan jangan itu akan terjadi!!." Tegas Dito. Ia tak ingin memberikan kesempatan Kinara untuk bebas ataupun keluar dari sini.
"Baiklah. Gue hanya tanya saja." Jawab Kinara tersenyum. Dia berusaha kuat dengan segalanya. Toh tidak mungkin nyawanya mati sia-sia di tangan Joe.
Pasti Sanjaya akan bergerak cepat sebelum itu semua terjadi.
Waktu semakin berjalan. Joe rupanya sudah duduk di kursi kebesarannya.
Kinara datang bersama dengan Dito. Tubuhnya sudah fresh.
Pandangan Joe menatap Kinara. Dangan cantik! Ternyata Joe semakin cantik setelah dia mandi. Padahal dengan wajah kusamnya saja Kinara sudah cantik. Joe iri dengan itu semua.
__ADS_1
Hatinya memanas lagi. Entah kenapa dia itu dengan semua yang ada di tubuh Kinara. Seperti Tuhan tidak adil dengan semua itu.
Kukunya tertancap keras di tangan Joe. Dia meremat keras saking emosinya.
Kinara duduk bersimpuh di tempat yang tadi ia duduk i.
Ia tersenyum cerah menatap Joe. Sedangkan Joe membuang mukanya. Ia sebal melihat senyuman itu.
Tak ingin buang waktu Joe langsung bicara pada intinya saja. Ia sudah muak dengan sandiwara semua ini.
Kinara semakin membuat Joe marah. Jika saja ia tidak melampiaskan tadi maka sekarang Joe sudah membunuh Kinara.
"Gue punya sebuah penawaran yang menarik." Ucap Joe dengan senyum liciknya. Menatap Kinara dengan tatapan tak suka.
Kinara bisa melihat itu dengan jelas. Perasaanya semakin tak enak. Apa ini detik dimana dia akan mati.
"Apa itu?." Tanya Kinara tenang.
"Operasi wajah." Saut Joe cepat. Bahkan ekspresi wajah Joe sudah menyeramkan.
Degh!
Kinara menatap Joe tajam. Dia sampai kapanpun tidak akan memberikan wajah ini ke Joe.
"Tidak!! Gue nggak mau itu." Tegas Kinara.
"Lo mau bebaskan?! Sebelum Lo bebas lebih baik Lo serahkan wajah Lo itu ke gue." Ucap Joe.
"Penawaran macam apa itu!."
"Gue cuma minta Lo mau operasi wajah. Wajah Lo akan berganti dengan wajah gue. Bukankah itu menarik?!." Seringai licik keluar dari bibir Joe.
Kinara menatap itu dengan tajam.
"Gue nggak mau!!." Seru lantang Kinara. Ia menolak mentah-mentah penawaran Joe.
"Terserah kalau Lo nggak mau. Itu artinya Lo harus mau mati ditangan gue." Ucap Joe. Dia turun lalu mencengkram erat leher Kinara.
Nafasnya tercekat. Kinara melotot sambil mulut terbuka lebar. Ia bisa kehabisan nafas.
Mereka bertatapan penuh kesengitan. Tatapan mata Kinara mengintai pergerakan Joe.
Cengkraman itu semakin kuat. Kinara merintih kesakitan. Rasanya sangat linu dan nafasnya habis. Joe memang wanita gila.
Tangan Kinara menangkap kedua tangan Joe di depannya. Kuku panjang itu mencakar pergelangan tangan Joe. Joe mengerang.
"Lepasin!!." Seru Joe dengan mata berkabut. Amarahnya sudah meledak.
"Lepasin gue juga!!" Tantang Kinara.
"Gue nggak akan lepasin Lo Kinara. Sebelum Lo terima tawaran gue." Pinta Joe. "Gue bis bunuh Lo sekarang."
Kinara mendesis. Matanya terpejam erat. Ia berusaha mengambil nafas di saat Joe lemah.
__ADS_1
"Gue nggak takut!!." Seru Kinara terbata-bata. Matanya mulai meredup. Dia sudah kehabisan nafas.