
Setelah aksi Febri yang menghabiskan uangnya. Arkan jadi badmood, sebenarnya tidak masalah uangnya habis. hanya ia tidak suka dengan barang yang dibeli Febri, karena wanita itu membeli dengan berlebihan semua mereka di beli padahal kegunaannya sama. Gilanya lagi istrinya itu mau mencoba make up make up itu padanya.
"Jangan dong sayang. Nanti mas nggak ganteng lagi."
"Kepala udah botak gini masih mau disiksa pakai make up, kejam sekali kamu." Arkan memelas menatap istrinya memohon.
"Hehehehe... Febri cuma bercanda kok mas. Makannya mas jangan cemberut gitu liat istrinya belanja banyak. mas kan cari uang buat Febri jadi wajarlah kalau Febri yang ngabisin emang mau siapa lagi yang ngabisin kalau bukan Febri mas."
"atau jangan-jangan mas selingkuh?" tuduh Febri.
"Uangnya mas buat cewe lain ya mas!"
"Aishhh... buang pikiran macem-macem kamu itu sayang. Punya istri satu aja mas udah pusing apalagi kalau punya satu lagi. Pecah kepala mas." Ujar Arkan dengan wajah pasrah. Ia tidak bisa membayangkan jika punya dua istri mau jadi apa nanti badannya di uyel sana di uyel sini. Punya satu Febri aja kepalanya botak apalagi ditambah satu Febri lagi.
astaghfirullah..
__ADS_1
"Ya udah mas cuci muka aja sana!"
"Ngapain cuci muka?"
"Febri mau maskerin wajah mas, muka mas kusem."
"Ngak usah masker-maskeran sayang. Mas cukup wudhu aja."
"Ayolah mas, Febrikan cuma mau maskeran doang sama mas. Anak kita loh yang minta. Mau ya mas?" Febri menatap Arkan dengan wajah memelas.
Arkan menghela napas berat. Namun melihat tingkah istrinya yang makin gila membuat Arkan pusing.
"Mas mau pergi, tega banget. Masa diajak maskeran bareng aja nggak mau! Udah nggak sayang Febri lagi kan mas."
"Mas mau cuci muka kok. katanya disuruh maskeran." Wajah Febri berubah cerah mendengar itu. Senyumnya mengembang senang.
__ADS_1
Selang beberapa menit Arkan kembali dengan wajah basah. "Sini mas Febri bersihin..." Arkan menurut ketika wajahnya di lap dengan tisu oleh istrinya.
"Kepala mas sini tidur di pangkuan Febri." Arkan menurut membaringkan kepalanya disana.
"Tutup matanya ya mas. Jangan nangis pokoknya. Ini cuma pakai masker jadi ngak akan sakit." Arkan hanya terkekeh mendengar ucapan ngawur istrinya. Febri dengan lembut memakai kan masker ke wajah Arkan. "Nah udah selesai, enak kan mas.. Disuruh make Masker aja susah. Tunggu dua puluh menit ya mas. Sekarang gantian aku yang Makai." Arkan bangkit dari pangkuan istrinya itu lalu melihat dirinya di kaca. Arkan terkejut ketika mendapati dirinya memakai masker berbentuk sapy. Astaga istrinya itu ada-ada saja. lagipula darimana istrinya bisa mendapatkan masker ini.
"Lucu kan mas.. Aku nyariinya susah loh.. Liat punya aku gambarnya Kucing. Imutkan kayak aku."
"iya imut." balas Arkan mencari Aman dari pada nanti Febri menangis lagi.
Kemudian Febri naik ke pangkuan Arkan. mereka saat ini berada di depan ruang televisi duduk di atas karpet. "Makasih ya mas udah nurutin semua keinginan Febri."
"Kebahagiaan kamu adalah tanggung jawab mas, sayang. Jadi mas akan melakukan apapun itu agar tidak kehilangan senyummu lagi. Melihat kamu sedih dalam trauma masalalu membuat mas merasa gagal sebagai seorang suami. Mas nggak mau kehilangan Febri yang ceria seperti ini lagi." Febri memeluk Arkan sayang. Ia merasa beruntung memiliki suami seperti Arkan.
"Semoga kita sama-sama terus ya mas."
__ADS_1
"I love you. Mas Arkan."