
Ceklek!
Pintu ruangan operasi terbuka. Keluarlah Joe dengan wajah tegasnya.
Dito yang duduk tenang bersama dengan Bimo langsung berdiri menghampiri bos mudanya itu.
"Ada apa? Apa operasinya tidak lancar?." Tanya Dito khawatir.
Pikirannya sudah kemana-mana membayangkan jika operasi itu akan gagal. Karena banyak orang yang berkata jika rencana jahat akan selalu gagal.
"Putri jangan diam saja!." Desak Bimo khawatir juga. Mendesak Joe itu tidak mudah, bikin suasana semakin menjadi.
Joe melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Dito dan Bimo. Dia harus mencari ketenangan sekarang. Apalagi jantung Joe sedari tadi berdetak kencang.
Joe meraih kursi tunggu untuk menduduki bokong. Punggungnya ia sandarkan di kursi begitu lemas.
Dito juga duduk di dekat Joe mengawasi raut wajah Joe. Sepertinya wanita itu tidak mood cerita.
Bimo tersenyum menyodorkan air putih ke arah Joe.
"Aqua dulu." Ucapnya tersenyum. Dia tertawa dalam hatinya karena sangat mirip seperti iklan di televisi.
Joe meraih botol Aqua itu. Diminumnya sampai habis tak bersisa. Setelah itu ia lempar ke tempat sampah yang jaraknya lumayan.
Dugh.
Botol itu berhasil ke tempat sampah dengan sempurna. Dirinya tersenyum miring dengan hal itu.
"Putri, apa operasinya sudah dimulai?." Tanya Bimo.
"Ya! Kaya dokter itu satu per satu dulu. Karena Darma akan kualahan." Jawab Joe singkat.
"Apa anda ingin makan terlebih dahulu?." Tanya Dito. Siapa tau dengan makan akan memberikan rasa tenang dan nyaman.
Joe menggeleng "gue nggak mau makan. Takutnya gula dan darah gue bakal naik!."
"Lo itu gimana sih." Seru Bimo.
"Maaf putri, gue Ndak tau."
"Tak apa. Sekarang jangan ganggu gue! Gue sedikit gugup sekarang." Keluh Joe jujur. Rasanya itu tegang sekali seluruh tubuh Joe. Sepertinya operasi plastik itu sangat mengerikan.
"Tenang! Semua akan baik-baik saja, putri." Saut Dito. Dia memang khawatir dengan operasi ini. Selain takut gagal, Dito juga takut jika Joe dan Kinara tak selamat.
Karena operasi plastik ini sangat berisiko. Sedikit kesalahan saja akan merebut nyawa..
"Gue sudah mencoba. Tapi tubuh gue sedari tadi bergetar dan mengeluarkan banyak keringat dingin. Lihat." Tunjuk Joe memperlihatkan bagian tubuhnya yang berkeringat dingin.
Bimo dan Dito paham sekali. Jika Joe sedang dalam ke gugupan.
"Istirahat saja. Nanti jika sudah selesai gue akan bangunin." Pinta Bimo.
__ADS_1
"Iya benar. Paling operasi masih lama." Saut Dito.
"Baiklah. Jika sudah selesai operasi nya bangunkan gue!." Pinta Joe tegas.
Bimo dan Dito menggangguk bersama. Menyakinkan ke Joe bahwa mereka berdua yang akan menjaga Joe di luar.
Joe mulai memejamkan matanya untuk istirahat sejenak. Dia memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di kursi.
*
*
*
Di dalam ruangan operasi Kinara menarik nafas beberapa kali. Dia nampak gusar untuk menghadapi semua ini.
"Apa masalahmu? Kenapa mau bertukar wajah?." Tanya Darma tiba-tiba.
Dia merasa ada yang ganjal dari pasien ini. Padahal wajah Kinara yang bersih tanpa luka. Sedangkan wajah Joe juga tanpa luka sama sekali.
Entah kenapa mulut Darma begitu gatal unik menanyakan itu. Melihat Kinara yang baik dan lemah lembut Darma memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Tidak! Gue hanya terpaksa." Jawab Kinara pelan. Rasanya dia tak rela memberanikan wajah ini.
"Apa anda di paksa?."
"Ya." Jawab Kinara singkat.
"Tidak perlu! Nanti dia akan marah, anda tau jika dia itu tangan kanan mafia." Tegas Kinara. Sudah cukup korbannya adalah Kinara saja. Yang lainnya tidak perlu.
Darma diam mengoleskan kapas yang sudah dia sterilkan di wajah Kinara. Sementara Kinara diam merasakan sensasi dingin di sekitar wajah.
"Apa operasi plastik sangat menyakitkan?." Tanya Kinara pelan.
Darma tersenyum. Dia membuang sampah kapas sesudah ia pakai tadi. Kinara melihat pergerakan Darma dengan jelas. Dokter itu membuat rasa gugup Kinara menjadi hilang, sekarang menjadi lebih tenang.
"Semua operasi itu sakit Kinara, namanya juga kulit normal yang dibelah tentu akan sakit." Jelas Darma.
Kinara merinding mendengar hal itu. Entah kenapa bagaimana rasanya merasakan wajah Kinara yang tanpa luka ini akan disayat.
"Apa efek samping jika saya melakukan operasi plastik?." Tanya Kinara lagi.
Dia harus tau itu semua. Agar Kinara bisa mengundurkan diri jika dirasa terlalu berbahaya.
Darma sudah menyiapkan injuksi untuk disuntikkan di tubuh Kinara. Dia menatap mata Kinara.
"Anda akan merasakan mati rasa. Di sekujur wajah anda tidak akan merasakan sakit walau terluka. Semua syaraf di wajah anda." Jelas Darma.
"Dan yang kedua anda juga tidak akan melihat rambut yang tumbuh di wajah anda. Seperti di bagian alis dan juga kumis tipis atau sebagai lainnya." Lanjut Darma.
Kinara membola matanya. Begitu kah efek yang akan dia rasakan.
__ADS_1
"Tidak!! Gue tidak mau!! Gue mau operasi ini gagal!." Geleng Kinara cepat. Bibirnya bergetar dengan air mata yang sudah berjatuhan.
Rasanya tak rela wajah Kinara yang normal ini akan ditukar oleh wajahnya Joe.
"Tolong, gue nggak mau operasi plastik ini dok. Tolong saya hiks." Ucap lirih Kinara.
Darma terdiam melihat keadaan Kinara. Dia mencoba menenangkan Kinara.
Tapi itu gagal. Karena Kinara sudah kaget dengan efek samping dari operasi plastik.
Apa putri Joe belum menjelaskan efek sampingnya? Bathin Darma menarik nafas panjang.
"Biar saya cek dahulu kondisi anda. Tenanglah." Bujuk Darma pelan.
Tapi Kinara sudah mengamuk, mencakar tangan Darma hingga terluka.
"Gue nggak mau!! Tolong, lepaskan saya hiks hiks hiks." Ucap Kinara.
Darma mendekat ke arah Kinara. Mengelus punggung Kinara agar gadis itu lebih tenang.
"Tenang! Nanti saya akan bantu, kita buat manipulasi data, okey?." Bujuk Darma pelan. Hanya Kinara yang mendengar bisikan Darma.
Darma tau jika disisi ruangan itu akan banyak sekali perekam yang aktif. Mengingat betapa licik mafia.
Kinara masih sesunggukan dengan sisa-sisa air mata. Hidungnya memerah. Padahal Kinara baru menangis sebentar.
"Apa bisa? Bagaimana jika Joe curiga?." Tanya Kinara pelan. Rasanya tak mungkin itu dilakukan.
"Saya sudah sharelok sebelum kesini. Nanti jika saya tidak kembali, saya sudah berpesan agar polisi segera kemari." Jawab Darma. "Kita lakukan manipulasi, kita bisa kerja sama." Ajak Darma.
Kinara menggangguk sambil menatap wajah Darma. Sepertinya dokter muda itu sama sekali tidak bohong dengan rencananya.
"Bisa gue minta tolong?." Ucap Kinara.
"Apa itu?."
"Tolong kirim lokasi ke papa Sanjaya." Ucap Kinara pelan.
Degh
Darma membola tak percaya. Pantas saja jika wajahnya Kinara itu tidak begitu asing. Rupanya Kinara anak dari pengusaha kaya.
Yang sudah terkenal sampai ujung dunia. Kekayaannya sudah tidak dapat dihitung lagi.
"Anda anak dari Sanjaya? Pengusaha kaya itu?." Tanya Darma menyakinkan.
Kinara menggangguk dengan senyum manisnya " ya, gue anak kedua."
"Apa kerja sama ini bisa dimulai?!." Tanya Kinara tersenyum miring. Terlihat jelas jika Kinara sangat bahagia.
"Deal! Kita mulai." Jawab Darma mantab.
__ADS_1