My Future Husband

My Future Husband
Menyusun Rencana


__ADS_3

Di ruangan itu......


Semua berubah jadi tegang. Tak ada yang bisa membantu Kinara. Mereka hanya melihat dengan pikiran masing-masing.


Joe memang seperti itu. Gadis yang tempramental. Ia bisa meluapkan amarahnya dengan bebas dan tanpa ampun.


Dito sendiri bingung. Seharusnya Kinara menerima tawaran itu jika ingin bebas.


Huft!


Dito mendekati Joe. Hanya dirinya saja diantara banyaknya pasukan Red Blood yang mampu membuat hati Joe tenang.


"Putri lepaskan Kinara. Dia bisa mati." Ucap Dito.


Joe melempar tatapan nyalang. "Biarkan dia mati ditanganku!!."


"Putri jangan begini. Bagaimana dengan rencana awalnya?." Bujuk Dito.


"Arghhh!!!!!." Joe mengerang kesal. Tanganya mencengkram erat leher Kinara. Hinga tak berdaya lagi.


Bugh!


Kaki Joe menendang tubuh Kinara. Bergerak berguling-guling di lantai.


Dengan sigap Dito menangkan. Lalu menggendong nya ke ruang bawah.


"Singkirkan dia! Aku muak!!." Pinta Joe dengan keras.


Matanya memerah dengan deru nafas tak menentu.


Tangan Joe meraih semua benda yang dapat ia pecahkan. Ia lempar ke arah Dito dan Kinara. Hatinya sangat panas untuk saat ini.


Maka dari itu akal sehatnya sudah hilang. Joe murka. Segala ucapan Kinara tidak pernah menandakan dia sedang takut.


Arghhh!!!!


Joe berteriak kencang. Otot-otot di tubuhnya menegang. Bahkan ada beberapa yang tampak menonjol dari kulitnya.


Brak!!! Pyar!!!


Bunyi gaduh dibuat oleh tangan Joe. Dia melampiaskan semua itu tanpa pikir panjang. Padahal ia sudah terluka begitu juga Dito.


Dengan langkah lebar Dito meninggal Joe sendirian. Setelah ia rasa Joe tidak akan berbuat lebih dari itu.


Dalam gendongannya terkulai lemas Kinara. Bibirnya pucat seperti mayat hidup.


"Andai Lo nggak membantah pasti semua tidak seperti ini Kinara." Gumam Dito pelan.


Matanya melihat luka di leher Kinara. Ada bekas kemerahan dan beberapa luka cakaran. Atau bisa juga itu terjadi karena kuku Joe.


Ceklek!


Dito menaruh Kinara pelan di sebuah batu besar. Ruangan bawah tidak ada kasur ada sebagainya.

__ADS_1


"Ambilkan gue minyak sereh." Ucap Dito. Dia sibuk mengikat rambut Kinara.


"Bertahanlah Kinara. Gue yakin Lo kuat." Support Dito pelan. Di tengah kesadaran Kinara pasti akan mendengar ucapan Dito.


"Ini tuan." Dito segera mengambil minyak itu. "Kembali ke tempat!."


Tangannya sibuk mengoles luka Kinara dengan pelan. Dia teringat kata ibunya dulu jika terluka pakai minyak sereh untukku mengurangi rasa nyeri.


Selesai itu Dito menaruh Minyak sereh disamping. Tanganya melihat detak nadi di leher dan juga pergelangan tangan Kinara.


"Syukurlah dia masih hidup." Ucap Dito.


Hampir saja ia kehilangan Kinara. Bukan masalah cinta atau apa. Tapi tiba-tiba hatinya tergugah untuk menyelamatkan gadis tak bersalah itu.


Seperti ada orang yang membisiki Dito untuk ada buat Kinara. Apa mungkin itu Tuhan?.


Dito kembali ke tempatnya untuk melihat keadaan Joe. Dia melihat Kinara sekarang cukup tenang. Biarlah beristirahat sebentar.


"Dimana putri?." Tanya Dito tak melihat keberadaan Joe.


Salah satu dari pasukan nya menjawab. "Putri sedang di obati dikamar-nya."


Dito mengangguk. Ia pergi ke kamar Joe. Melihat kondisi Joe apakah gadis itu mengalami luka yang parah.


Jika dilihat dari sisi berantakan ruangan itu. Mungkin keadaan Joe tidak parah. Dia hanya sibuk merusak dan melempari barang yang ada di dekatnya.


Jadi bisa juga Joe hanya lecet sedikit. Dengan cepat Dito membuka pintu kamar.


Joe menatap Dito dengan datar.


"Ada apa?."


Joe menatap Dito dengan penuh kepercayaan. Apa yang a ingin harus bisa terwujud.


"Gue ingin operasi plastik." Tutur Joe.


"Lantas? Apa yang putri inginkan? Apa ingin ke China." Tanya Dito. Padahal jelas sekali Dito tau rencana busuk dari Joe. Tapi lebih baik pura-pura tidak tau.


"Cih! Gue ingin wajah Kinara ada di wajah gue sekarang." Saut Joe.


"Apa tugas saya?." Tanya Dito penasaran.


Joe tidak menjawab cepat. Ia malah senyum cerah. Mungkin dia sedang membayangkan bagaimana rencananya akan berhasil.


"Panggilkan gue dokter bedah ternama di China. Gue mau yang terbaik!!."


"Apa tidak terlalu bahaya?."


Joe memicingkan matanya. "Bahaya apanya?!." Kesalnya.


"Jika Lo manggil dokter bedah kesini. Tentu saja akan melihat jejak luka di lehernya." Jelas Dito.


"Benar juga! Apa lukanya terlalu parah?." Tanya Joe dengan iba. Tidak seharusnya dia melakukan itu sebelum semua rencana berhasil.

__ADS_1


Dito menggeleng kepalanya "Lukanya tidak parah. Tapi cukup merah dan membekas."


"Ternyata dia tidak sekuat yang gue kira." Cibir Joe dengan sinis.


"Dia mungkin kuat jika putri berkelahi dengannya." Ucap Dito tersenyum.


"Apa maksudnya?!." Gertak Joe menatap tajam.


"Berkelahi satu lawan satu."


"Gue tidak bisa berkelahi!! Singkirkan omong kosong Lo. Lebih baik kasih saran yang baik." Ujar Joe sebal.


"Lebih baik tidak perlu operasi plastik putri." Ucap Dito beberapa detik kemudian.


"Alasannya?!."


"Lebih baik buang Kinara di laut bersama bom yang terpasang di tubuhnya. Beri tahu Sean juga keluarganya agar melihat itu dengan jelas. Maka setelah itu mereka akan menangis darah." Saran Dito tersenyum licik.


"Bagiamana nanti jika Sean benci gue?! Bodoh!! Gue mau dia mencintai gue." Ucap jujur Joe.


Huh! Bahkan itu tidak akan pernah terjadi Joe, sejak Lo culik Kinara rasa cinta dan peduli Sean hilang. Bathin Dito berkata dalam hatinya.


"Kalau begitu jalankan sesuka hati putri." Balas Dito singkat. Tak ingin berdebat.


"Baiklah! Gue ingin operasi plastik segera dilaksanakan. Tidak perlu khawatir masalah luka." Ucap Joe.


Dito menggangguk. Dia akan melakukan itu. Dan jika sampai tertangkap oleh polisi maka biar Joe yang dipenjara hidup-hidup.


"Baiklah. Kapan itu?."


"Besok." Ucap Joe disertai seringai licik.


"Tidak masalah biar nanti diurus lainnya." Saut Dito.


"Lakukan dan keluarlah!."


Dito berdehem singkat. Meninggalkan kamar Joe. Dia menutup pintu itu dengan pelan.


Pandangan matanya menatap satu persatu pasukan yang ada di ruang kebesaran Joe. Tak ingin ambil pusing Dito mengumpulkan mereka dan memberikan informasi tentang rencana Joe.


"Baiklah biar saya saja yang menghubungi dokter bedah itu." Usul Bimo.


"Cari yang terbaik dan jangan sampai gagal!!." Tegas Dito. Dia tak ingin Joe marah lagi karena tidak becus.


"Tentu saja. Lalu rencana kita kapan? Gue udah capek."


"Tunggu sampai situasi tenang. Biar semua mengalir seperti air." Balas Dito.


"Baiklah! Segera kembali ke tempat masingmasing!! Dan Lo Bimo jangan lupa dengan tugas Lo." Pinta Dito. Bimo menggangguk lalu meninggalkan Dito.


Dito berjalan menuju ruang bawah. Seketika pikiranya teringat keadaan Kinara. Apakah gadis itu sudah siuman.


Ternyata Kinara masih belum sadarkan diri. Tubuhnya yang ramping masih lemas. Dito memperlihatkan itu secara seksama.

__ADS_1


"Cepatlah bangun. Apa Lo nggak mau makan?." Bisik Dito tepat di telinga Kinara.


__ADS_2