My Future Husband

My Future Husband
Kinara Meninggal


__ADS_3

Ceklek!


Sanjaya dan Kenzo masuk ke dalam kamar hotel yang ditempati Delima.


Tanpa pamit Kenzo langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selain itu mandi juga bisa membuat tubuh menjadi rileks.


Delima tersenyum menyambut Sanjaya. Setelah itu mereka berpelukan untuk melepaskan keluh dan kesah.


Delima memperhatikan wajah suaminya itu dengan seksama. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi menyebabkan Sanjaya menangis. Delima jeli sekali tentang perasaan Sanjaya yang tidak baik-baik saja.


"Ada apa?." Lirih Delima menatap Sanjaya untuk mendapat jawaban. Ia yakin pasti terjadi sesuatu dengan Kinara, sekarang perasaannya jadi tak menentu.


Sanjaya tersenyum, dia mengusap lembut kepala Delima dengan pelan. Dia sangat beruntung memiliki Delima, istri yang kuat selalu menemani Sanjaya ketika susah maupun senang. Yang selalu senantiasa ada di samping Sanjaya.


Jika tidak ada Delima mungkin Sanjaya tidak akan melihat Kinara dan Kenzo. Dan sekarang, Sanjaya sudah kehilangan anaknya kedua. Bagaimana pun resikonya Delima memang harus tau. Kinara anak mereka berdua.


Tapi dalam hati kecil Sanjaya tak tega melihat Delima semakin rapuh akibat kabar itu. Padahal baru tadi Delima bisa tersenyum melihat Kinara, walau Kinara penuh luka.


Pasti Delima sudah berharap bisa memeluk Kinara lagi. Takdir berkata lain, sekarang Kinara tidak ada di sisinya.


"Tidak ada sayang. Apa kamu merasa sepi berada disini sendirian?." Tanya Sanjaya dengan lembut. Sebisa mungkin dia tersenyum walau hatinya begitu sedih.


"Tentu saja! Aku mau ketemu Kinara mas, apa dia sudah ada di hotel ini?."


"Kinara........" Jawab Sanjaya terjeda.


"Ada apa mas?"


"Tidak ada sayang."


Delima merasa aneh dengan tingkah anak dan suaminya itu. Seperti ada yang disembunyikan dari Delima.


"Apa ini ada kaitannya dengan ledakan bom itu?!." Celetuk Delima secara spontan.


"Apa kamu mendengarnya?." Tanya Sanjaya pelan.


Dengan cepat Delima menggangguk mantab. Ledakan itu cukup keras sehingga tadi hampir semua penghuni hotel keluar karena mereka pikir sedang terjadi letusan gunung berapi.


"Tentu saja. Suaranya keras sekali. Tadi hampir semua orang keluar untuk berlindung ke tempat aman. Ternyata ada ledakan bom di tengah laut. Kira-kira siapa yang bunuh diri? Apa dia tidak punya tujuan hidup." Jelas Delima sembari menggerutu.

__ADS_1


Nafas Sanjaya terhembus dengan berat. Sanjaya merasakan dadanya sesak dan kini perlahan matanya berlinang dengan air mata.


Delima melihat setiap perubahan dari Sanjaya. Memang benar jika Sanjaya sedang menyembunyikan sesuatu dari Delima.


Dengan pelan tangan Sanjaya ia ambil lalu diusap ringan.


"Jujur saja mas. Delima janji akan kuat mendengarkan nya." Jelas Delima denga senyum manisnya.


Tapi mas nggak yakin sayang. Jika setelah mas cerita apa kamu masih bisa tersenyum seperti ini lagi. Bathin Sanjaya sedih.


"Ayo mas." Rengek Delima.


"Semua kembali seperti semula, sayang. Hanya tinggal kita dan Kenzo."


Delima tercengang dengan ucapan Sanjaya. Dia tidak bisa mendefinisikan dengan benar apa arti ucapan itu.


"Apa maksudnya?."


Sanjaya tersenyum getir. Air matanya terus mengalir, dan sekarang tanganya menyeka air mata itu.


"Kinara meninggal."


Jawaban yang tidak pernah Delima duga. Seketika dadanya merasa sesak menahan rasa sakit yang begitu dalam. Hati ibu mana yang tidak merasakan sedih ketika anaknya lebih dulu meninggal dunia daripada orang tuanya.


Sekarang semuanya terasa seperti Dejavu. Berliku-liku dan terasa seperti kejutan tak terduga. Bedanya ini kejutan yang sangat menyakitkan.


"Apa maksudmu mas...?" Tanya Delima dengan gagap.


Sanjaya tersenyum dan sekarang menyeka air mata yang mengalir di wajah Delima.


"Joe membawa Kinara pergi."


"Pergi kemana?." Tanya Delima mendesak suaminya itu.


"Mereka sudah bahagia, sayang hiks hiks hiks. Mereka sudah Meninggalkan kita untuk selamanya."


Bagai tersambar petir yang keras di kepala Delima. Demi apa sekarang perasaannya jadi campur aduk.


Kinara Meninggal Delima, ibu kandungnya. Rasanya tak percaya dengan situasi ini, kenapa takdir begitu rumit.

__ADS_1


Kinara pergi secepat itu. Apa mungkin arwahnya akan tenang jika meninggal di lautan.


"Ba-bagaimana bisa?." Tanya Delima tak percaya. Air matanya ikut turun bercampur perasaan sakit di hatinya


Seorang ibu pasti akan tahu gimana sedihnya ketika ditinggal oleh sang anak kandung. Padahal ibunya masih sehat di dunia. Memang umur tidak ada yang tau.


Huft!


Sanjaya mulai menceritakan kejadian yang menimpa Kinara. Mulai dari awal peperangan hingga sampai ke situasi menegangkan, yaitu Kinara Meninggal bersama dengan bom meletus.


Rasa sesak itu semakin menjadi. Ketika mendengar Kinara Meninggal secara tidak lazim. Dia meninggalkan dunia dengan cara mengenaskan.


Perasaan Delima tak karuan. Ia meraung menangis, rasanya tak rela jika Kinara harus pergi. Belum ikhlas, karena Kinara Meninggal bukan dari takdir Tuhan melainkan takdir dari Joe. Yang membawa pergi Kinara.


"Kinara hiks hiks. Kenapa secepat ini kamu ninggalin mamah nak." Raung Delima penuh air mata.


Sanjaya dengan lembut merangkul lembut tubuh Delima agar lebih dekat dengannya. Tangannya terulur agar Delima lebih tenang. Menangis bersama adalah salah satu cara untuk meredakan rasa kesal di hati. Selain itu menangis dengan pasangan akan jauh membuat kita menjadi tenang.


Semua itu ditangkap oleh Kenzo yang baru saja mandi. Dia melihat betapa sedihnya orang tua Kenzo Sanjaya. Hilangnya Kinara sudah membuat Sanjaya dan Delima hancur, lalu bagaimana dengan kematiannya yang sekarang?.


Rasanya Kenzo masih belum sadar dengan hal ini. Padahal jelas sekali Kenzo melihat kematian dengan jelas.


Waktu Kinara meluncur dari atas bersama dengan Joe. Dan setelah itu Kinara tenggelam, lalu terjadi ledakan besar.


Semua itu terputar jelas di otak Kenzo. Air matanya ikut luluh, Kenzo gagal menjadi kakak yang baik untuk Kinara. Sekarang, semua tinggal kenangan.


Hanya rasa sesal saja yang kecewa. Kenzo harus kuat. Dia anak pertama yang akan membantu keluarganya untuk bangkit.


Kasian jika Kinara terus ditangisi. Akan menganggu jalanya untuk bertemu dengan Tuhan.


Dengan cepat Kenzo mengusap air matanya itu. Lalu melengkungkan senyum manisnya.


"Jika ini takdir yang sudah direncanakan Tuhan...maka pergilah dengan tenang sayang! Tuhan jauh sayang Lo, maka dari itu secepat ini Tuhan memanggil Lo adiku sayang. Lewat Joe, Lo bisa hidup tenang sekarang. Gue sayang Lo Kinara, Lo adik gue satu-satunya." Ucap Kenzo menutup matanya rapat-rapat.


Ia tau Tuhan dan Kinara yang ada diatas bisa mendengar dan melihat isi ucapan dari Kenzo. Semoga ucapan Kenzo mampu membawa Kinara ke surga dengan tenang.


"Baik-baik disana Kinara! Sekarang tugas Lo udah selesai apa yang Tuhan rencanakan sudah usai. Semoga Lo bahagia terus! Gue disini bakal jaga mama dan papa."


"Selamat tinggal adiku sayang." Ucap Kenzo dengan lemah. Hanya Isak tangis saja yang bisa di dengar di ruangan itu. Semua menjadi sunyi, seakan kesedihan masih terus berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2