
Arkan mengangkat panggilan dari ibunya. Ia hampir lupa memberitahu ibunya tentang persoalan Febri. Pasti ibunya akan menanyakan apa ia sudah berbaikan belum dengan Febri. Ibunya suka menerornya mengenai hal itu.
"Sudah Bu jangan khawatir Arkan dan Febri sudah baikan."
"..."
"Ya nanti Arkan pasti akan bawa Febri dan anak-anak main ke rumah."
"..."
"Waalaikumsalam." Arkan langsung mematikan ponselnya. Lalu menaruhnya di saku.
"Dari siapa mas?" Tanya Febri yang duduk di samping kemudi.
"Dari ibu nanyain kapan ke rumah. Nanti habis jemput Cessa sama Alwan mau kan ke rumah?"
"Boleh mas, sekalian jenguk ibu." jawab Febri.
"Mas."
__ADS_1
"Iya."
"Febri takut."
"Kamu takut kenapa?"
"Alwan akhir-akhir ini bersikap aneh. Kalau mas lihat dia memperlakukan Cessa bukan seperti adiknya tapi lebih dari orang yang ia cintai. Aku takut Alwan jatuh cinta pada Cessa dan menganggapnya lebih dari adik."
"Sudah mungkin itu cuma firasatmu saja. Kamu tahukan mereka itu sudah dekat dari bayi. Jadi wajar saja mereka seperti itu." Febri menghela napas kemudian mengangguk menurut ketika Arkan mengelus kepalanya yang tertutupi jilbab.
Kemudian Arkan mengendarai mobilnya kembali. Tadi ia berhenti sejenak untuk mengangkat panggilan dari ibunya. Hari ini ia dan Febri berencana menjemput anak-anaknya bersama. Berhubung ia juga lagi longgar, siang ini tidak ada waktu untuk mengajar jadi bisa digunakan untuk bersama keluarga.
"Kita mampir makan dulu ya sayang." ujar Arkan pada Febri ketika perutnya berbunyi. Febri mengangguk patuh. Dia mengamati ke dua anaknya yang berjalan kearahnya.
"Bunda.. Papa..." Teriak kedua anak itu sambil memeluk Arkan dan Febri.
"Bun, Al mau beli minum sebentar ya." Alwan menunjuk sebuah warung di seberang. Anak itu sudah tidak tahan lagi menahan rasa hausnya.
"Yuk bunda Anterin, biar Cessa sama papa."
__ADS_1
"Nggak usah Bun. Al sudah besar, Al bisa sendiri." tolak Alwan. Mendengar jawaban itu Febri mengangguk menuruti. Tapi matanya tak lepas mengamati Alwan. Sedangkan Cessa sudah di dalam gendongan Arkan.
Alwan berhasil menyebrang ke warung yang tidak jauh dari mereka. Febri berdiri mengamati anak laki-lakinya itu. Ia jadi membayangkan jika ayah dari Alwan benar-benar mengambilnya dari sisinya. Pasti Febri tidak akan bisa hidup. Febri menggelengkan wajah Alwan akan selalu bersamanya. Arkan sudah berjanji untuk menjaga anak itu.
Alwan sudah selesai membeli anak itu siap untuk menyebrang. Tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan cepat ke arah Alwan. Febri berlari menerjang untuk menyelamatkan Alwan. Namun yang terjadi selanjutnya adalah ia merasakan badannya terpental akibat mobil itu. Suara berdecit serta jeritan Alwan dan Arkan bisa ia dengar. Sebelum matanya tertutup ia masih bisa melihat Alwan anak laki-lakinya selamat.
"Febri." Teriak Arkan panik.
Ia langsung menaruh Cessa di dalam mobil.
"Jangan keluar dari mobil sebelum papa kesini." ucap Arkan.
Pria itu berlari ke jalan raya yang sudah dipenuhi orang-orang sedangkan mobil yang menabrak sudah melarikan diri. Arkan mengumpat dan menyumpahi mobil itu. Lalu ia menuju istrinya yang terbaring tidak berdaya disana. Air mata Arkan menetes melihat itu. Apalagi darah yang keluar dari kaki Febri. Jantungnya berdebar melihat itu. Darah itu sepeti pendarahan.
"Bertahan sayang..." ujar Arkan saat tidak mendapat balasan apapun dari Febri. Mata wanita itu tertutup tapi untunglah denyut nadinya masih ada. Arkan bersyukur istrinya masih hidup. Namun darah yang keluar dari kaki Febri membuatnya takut. Darah apa itu? apa tebakannya selama ini benar Febri hamil. Jika benar ia tidak bisa membayangkan hal itu. Ada nyawa lain yang berada di sana.
"Bunda.. bangun... hikss.. maafin Al... hiks... Al pembunuh.." Alwan mendekati ke dua orang itu. Arkan yang mendengar ucapan Alwan langsung terpaku. Ia tidak menyangka anak laki-laki nya itu akan mengatakan itu.
"Kamu bukan pembunuh nak, ayo kita bawa bunda ke rumah sakit." Arkan berusaha untuk tetap tenang walau tidak berhasil. Ia menggotong Febri diikuti Alwan anaknya ke dalam mobil.
__ADS_1
"Hiks... bunda... hiks..." kedua anaknya menangis bersamaan di dalam mobil. Arkan melajukan mobilnya sambil menghubungi ibu dan adiknya untuk mengambil Cessa dan Alwan agar tidak menimbulkan masalah lain. Arkan dengan cepat membawa mobilnya ke rumah sakit. Dalam hatinya ia berdoa semoga istrinya itu selamat. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa pada istrinya dan juga calon anaknya. Entah dorongan dari mana ia berpikir seperti itu. Tapi ia sangat yakin jika Febri hamil. Firasat seorang ayah.