My Future Husband

My Future Husband
Operasi Gagal!!


__ADS_3

"Apa kerja sama ini bisa dimulai?!." Tanya Kinara tersenyum miring. Terlihat jelas jika Kinara sangat bahagia.


"Deal! Kita mulai." Jawab Darma mantab.


Kinara tersenyum sumringah. Ini mujizat Tuhan yang selalu ada saja orang baik menolong Kinara.


Tak sia-sia Kinara berdoa kepada Tuhan, karena pada akhirnya dokter Darma mau menolongnya.


"Terimakasih sudah menolong gue." Ucap Kinara.


"Tak masalah! Saya kenal pak Sanjaya, dia orang yang baik. Dulu saya pernah ditolong, mungkin beliau tidak kenal saya." Jawab Darma tersenyum.


"Mari kita mulai sandiwara kita." Saut Kinara tersenyum miring. Kali ini dia tersenyum bahagia.


"Ayo." Jawab Darma. "Berbaringlah disini, nanti saya akan bius pelan."


"Apa akan lama?."


"Tidak! Hanya sebentar. Percayalah kita sudah bekerjasama, saya tidak akan berkhianat." Ujar Darma serius.


Kinara Dima dalam posisinya. Dia percaya kepada Darma seutuhnya. Dia pikir Darma lah yang diberikan Tuhan untuk menolong Kinara.


Darma sudah siap untuk membius Kinara. Kali ini dia hanya memberikan dosis rendah. Agar Kinara segera sadar.


"Tenanglah. Jangan kaget." Pinta Darma dia sudah siap akan menusukan suntikan itu.


Kinara memalingkan wajahnya. Dia tak sanggup melihat tajamnya jarum itu. Walau kecil tapi sangat menyakitkan.


"Sudah selesai." Jawab Darma tersenyum.


Kinara menggangguk pelan. Pandangan matanya mulai kabur. Dia tidak melihat lagi apa yang ada di depannya. Semua gelap. Saat itu juga Kinara sudah tidak sadarkan diri.


Darma segera menaruh dan merapikan alat-alatnya. Sebisa mungkin Darma harus bisa menjiwai perannya kali ini.


"TOLONG!!!TOLONG!!!." Teriak Darma histeris. Dia membuka pintu ruangan operasi itu secara kasar.


Bimo dan Dito yang berada di luar kaget dengan hal itu. Mereka menatap Darma dengan tajam.


Dito segera berdiri menanyakan ada apa dengan Darma. Bimo juga segera menaruh kopinya itu di atas meja. Beruntung Joe tidak terganggu, dia masih melanjutkan tidurnya.


"Ada apa? Kenapa harus teriak-teriak!!." Tanya Dito tegas. Perasaanya belum menentu ditambah lagi Darma buat kegaduhan.


"Kinara pingsan. Saya tidak bisa melakukan operasi ini." Jawab Darma dengan wajah takutnya.


Brak!!

__ADS_1


"Bagaimana bisa?!!." Sentak Bimo keras.


Joe yang masih ingin tidur di alam bawahnya seketika terbangun. Ia mendengar suara keras, sepertinya terjadi sesuatu.


"Ada apa ini?." Tanya Joe pelan. Berusaha menyadarkan dirinya itu untuk melihat situasi.


"Operasi gagal putri. Kinara drop, darahnya naik. Maaf sayang tidak berani melakukan operasi plastik, karena terlalu beresiko." Ujar Darma.


Joe bangkit dengan kasar. Dia menatap tajam ke arah Darma. Dengan cepat gadis itu menarik kerah baju Darma.


"Kenapa tidak bisa? Jika dia mati biarkan saja!." Ketus Joe.


Dito segera melepaskan cengkraman Joe. Dia tak ingin Darma mengetahui tentang masalah ini.


Tapi Joe menolak dengan keras. Gadis itu malah mendorong tubuh Dito. Membuat Dito terhuyung ke belakang untung saja Bimo cekatan menahan tubuh Dito.


"Sekarang lakukan tugas Lo!! Kalau tidak nyawa Lo yang akan mati." Ancam Joe penuh murka. Rasanya sangat kecewa sekali dia, mendengar semua rencananya gagal.


"Sesuai prosedur tidak bisa putri. Mengertilah! Ini sangat bahaya." Jelas Darma. Nafasnya tercekat karena Joe menekan lehernya kuat.


"Jika bahaya hanya untuk Kinara, maka lakukan saja!! Gadis itu memang layak mati." Celetuk Joe dengan keras. Aura mengerikan langsung terpancar dari wajahnya.


Darma menggeleng kepalanya pelan. Dia kejam! Bahkan dia wanita yang tidak mempunyai hati! Bagaimana bisa nona Kinara bertemu dengan dia? Bathin Darma tak percaya.


"Tidak bisa putri. Di dalam kedokteran tidak ada prinsip seperti itu." Tukas Darma pelan. Menatap Joe dengan teliti.


"Apa?!!." Desak Joe dengan tatapan tajam.


"Kecuali jika saya dokter gadungan." Jawab Darma enteng.


Joe melepaskan cengkraman erat di leher Darma dengan keras. Untung Darma bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi. Jika tidak, maka ia akan jatuh terjerumus ke lantai yang keras.


Joe meremas tangannya sendiri dengan keras. Bahkan kukunya sampai menancap di kulit putihnya. Urat-urat di leher Joe sudah tampak.


Darma menelan susah payah slavinanya. Dia tak kuat melihat tatapan Joe yang tajam dan mengerikan itu di hadapan Joe.


Tapi dia sudah janji untuk membantu menyelamatkan Kinara. Meski nyawa taruhannya.


"Saya harus pulang " jawab Darma terbata-bata.


Joe tersenyum miring. Tatapannya seolah mengejek ke arah Darma.


"Pulang?! Setelah Lo disini dibayar besar!! Lo nggak dapetin apa-apa!! Sekarang, Lo mau pulang ha?!." Bentak Joe dengan keras.


Dito dan Bimo masih diam saja. Melihat seberapa besar Joe akan melampiaskan amarahnya ke dokter muda itu.

__ADS_1


"Saya tak sanggup putri. Masalah uang saya akan kembalikan, soal Kinara saya tidak bisa melakukan apapun! Kondisinya drop." Tegas Darma.


Brak!!! Pyar!!


Joe melempar vas yang ada di sampingnya itu dengan keras. Untung saja Darma bisa menghindari benda itu. Jika tidak maka dia akan mengeluarkan banyak darah.


"Gue mau wajah dia!!! Gue mau jadi Kinara......" Teriak Joe dengan lantangnya.


"Gue mau dia mati!! Dia nggak berhak dapetin Sean. SEAN MILIK GUE!!" Tegas Joe dengan amukan.


Darma menatap kasian dengan keadaan Joe. Dia seperti gadis yang punya depresi. Kapan pun dia mau dia bisa saja marah melukai orang lain.


Joe terus meluapkan amarahnya pada barang di sekitarnya. Hingga barang itu sudah hancur dan tidak terbentuk.


Dito dan Bimo hanya bisa mengelus dadanya pelan. Melihat sikap Joe yang menurutnya itu sangat mengerikan.


Joe mendekati ke arah Darma. Tangannya memegang pisau yang sangat tajam.


Mata Dito dan Bimo membola dengan tajam. Dengan gerakan cepat Bimo menahan tubuh Joe dan Dito menahan tangannya. Mereka berusaha melepaskan pisau yang ada di tangan Joe.


Tapi Joe murka. Beberapa kali dia berusaha menghempaskan tubuh Bimo dan Dito. Tapi sayang semua itu tidak mudah untuk dilakukan.


"Cepat pergi!! Sebelum dia murka lagi!!." Seru Bimo dengan mata tajamnya.


"Pergi jauh!!." Bentark Dito. "Cepat!!." Gertak Dito dengan amarahnya. Dia sudah kewalahan menahan Joe agar tidak melukai Darma. Bisa gawat jika itu semua terjadi. Maka dengan mudah akan menemukan Kinara dan Darma. Markas itu akan di grebek.


Darma menggeleng kepalanya. "Tidak!! Saya harus bawa nona Kinara, dia butuh pengobatan lebih lanjut!!." Seru Darma.


Joe semakin meraung menatap kematian dari wajah Darma. Rasanya begitu kesal dan sebal oleh tingkah Darma.


"Kau harus mati Darma!!!." Seru Joe keras.


"BUNUH DIA!!."


Dito segera menarik Joe ke dalam kamarnya. Setelah itu mengunci dengan cepat. Joe menggebrak pintu itu dengan keras.


"BUKA!!." Teriak Joe beberapa kali.


"Sebaiknya Darma segera pulang. Antarkan dia!." Pinta Dito.


"Bagaimana dengan Kinara?."


"Nanti biar gue yang panggilkan dokter untuk merawatnya."


"Apa tidak bahaya? Bahkan Darma sudah curiga." Ucap Bimo khawatir.

__ADS_1


"Gue usahakan tidak." Saut Dito cepat. "Biar gue yang nunggu putri disini.


"Baiklah." Jawab Bimo terus pergi.


__ADS_2