My Future Husband

My Future Husband
BAB 48


__ADS_3

Arkan pulang membawa cireng persis seperti yang di minta Febri. Walau ia harus mengantri panjang sekali. Tetapi demi istrinya ia rela melakukan apapun. Ia juga tidak ingin malam ini tidur sendiri. Arkan mematikan mesin mobilnya lalu keluar dari dalam mobil.


"Assalamualaikum." ucap Arkan sambil mengetuk pintu.


Beberapa menit kemudian pintu di bukakan. Ia kira Febri. Ternyata anak perempuan nya yang cantik. Siapa lagi kalau bukan Cessa.


"Ayah." Seru Cessa sambil memeluk kaki Arkan.


Arkan yang melihat itu langsung menggendong Cessa kecil.


"Ayah tidur di sini?"


"Iya mulai sekarang ayah tidur di sini terus."


"Hore.. jangan tinggalin Cessa lagi ya ayah."


"Siap kapten." Setelah mengatakan itu Arkan mencium kening Cessa sayang.

__ADS_1


"ayah bawa apa?"


"Bawa Cireng. Kamu mau?"


"Mau..."


"Nanti ya.. bunda sekarang dimana?"


"Ada di dapur lagi masak makan malam buat kita." bisik Cessa. Arkan terkekeh mendengar itu.


"Kak Al dimana?"


Arkan kemudian menaruh Cessa di sofa, cireng yang ia bawa di taruh di meja depan televisi. Mereka duduk di sofa sambil menonton televisi yang di nyalakan anaknya itu. Terlihat tokoh kartun Cinderella terpampang di sana.


"Sebentar ayah mau ke dapur dulu. Kamu nonton dulu ya sayang." ujar Arkan kemudian pergi ke dapur sambil membawa cireng.


Febri terlihat serius mengaduk-aduk Sop ayam kesukaanya di dapur. Arkan menaruh cireng tersebut di meja makan. Lalu memeluk tubuh Febri dari belakang. Sontak hal itu membuat Febri terkejut apalagi hampir saja ia menjatuhkan sendok sayur yang ia pegang.

__ADS_1


Ketika tahu siapa yang menganggunya. Ia berdecak sebal. Siapa lagi kalau bukan Pak Tua Arkan. Beraninya pria itu memeluknya emangnya dia sudah memberikan maaf kepada pria itu.


"Lepas." Desis Febri dengan nada tajam. Tapi Arkan tidak mempedulikan itu malah semakin erat memeluk Febri.


"Nggak mau." Febri mematikan kompornya lalu berbalik menghadap Arkan dan mendorong tubuh pria itu. Berhasil ia terlepas dari cengkraman buaya yang tidak tahu malu itu.


"Maskan cuma peluk masa ngak boleh," ujar Arkan dengan manja. Ia agak bingung dengan dirinya sendiri kenapa ia jadi manja begini.


"Sebelum Febri maafkan maka tidak boleh peluk sentuh dan cium." mendengar itu Arkan mendesah panjang. Ia tidak terima dengan pernyataan itu.


"Tapi sayang." belum sempat Arkan protes Febri lebih dulu memotongnya.


"Mana cirengnya?" tagih Febri.


"Ini mas bawa Cireng. Berarti udah di maafkan dong."


Febri menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan Arkan. Bahkan ia mengabaikan Arkan dan meletakan cireng yang Arkan beli ke piring. Arkan merajuk diabaikan. Baru saja ia akan mendekati istrinya itu. Febri lebih dahulu menghalangi.

__ADS_1


"Sana mandi! ngak mandi ngak boleh makan dan ngak boleh tidur disini." Ancam Febri. dengan langkah yang ogah-ogahan Arkan menuruti itu. Ia berusaha berpikir apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan maaf Febri. ia sungguh menderita hidup seperti ini. Tiba-tiba saja ia merasa pusing di kepala dan mual. Arkan dengan cepat berlari ke wastafel. Perutnya seperti di putar-putar, perasaan ia baik-baik saja. Tapi kenapa tiba-tiba ia muntah. Arkan memijat pelipisnya pelan mungkin dia mau masuk angin. Arkan mendesah sungguh malang sekali nasibnya saat ini.


__ADS_2