
Arkan tersenyum senang. Ketika Febri tidak menolak ciuman-nya. Ia menatap istri-nya itu lekat-lekat. Akhirnya dari sekian lama istri-nya luluh juga. Bisa dikatakan ini adalah anugrah terindah bisa mendapat maaf dari sang istri.
"Mas ngapain lihatin Febri kayak gitu?" tegur Febri melihat Arkan yang senyum-senyum nggak jelas. Ia jadi curiga Arkan memikirkan hal yang aneh-aneh.
Arkan tersadar dari lamunannya, lalu berdehem sebentar. Tangan-nya menggaruk rambut-nya yang tidak gatal. Ia jadi salah tingkah.
"Jadi mas udah di maafin?" Tanya Arkan berusaha mengalihkan perhatian.
"Udah." Jawab Febri cepat.
"Beneran?" Tanya Arkan sekali lagi, ia tidak ingin jika Febri hanya membohongi nya.
"Mau dimaafin apa enggak, yaudah kalau ngak mau." delik Febri kesal.
"Jangan gitu dong sayang. Jangan ngambek lagi maulah dimaafin." Rayu Arkan ketika tahu ucapannya salah. Seperti nya ia harus hati-hati bicara.
"Ngomong-ngomong mas penasaran alasan kamu marah sama mas itu apa sih sayang?" Tanya Arkan kemudian mengalihkan perhatian Febri. Ia juga penasaran apa sih yang membuat istri-nya sampai marah dan tidak mau menemui nya.
"Mas ngak tau atau pura-pura ****?" ujar Febri sinis. Ia sedikit kesal karena Arkan tidak peka dan tidak tahu apa kesalahannya. Padahal ia dulu seiring kali menegur Arkan masalah ini. Sebelum kejadian suami nya itu di jebak dengan tuntunan pelecehan seksual terhadap mahasiswa nya sendiri.
"Mas ngak tau sumpah!" Jawab Arkan. Ia mengangkat kedua tangan nya. Ia benar-benar tidak tahu. Padahal setiap hari ia sudah berpikir dan merenung apa salahnya tapi ia tidak pernah menemukan jawaban nya. Hingga ia berpikir istri nya itu aneh memarahi nya tanpa sebab.
"Mas yang kegenitan sama mahasiswa seharusnya mas itu tegas kalau ada murid mas yang chat keganjenan sama mas." Arkan hampir saja tertawa mendengar itu. Tapi ia menahannya takut Febri memarahi nya lagi. Ia tidak kepikiran kalau Febri akan marah padanya gara-gara hal itu. Ini juga salah nya yang terlalu ramah dengan mahasiswanya. Karena ia tidak berpikir sejauh itu. Ia hanya menjalankan tugas nya sebagai dosen ia hanya tidak ingin di cap mahasiswa nya sebagai dosen yang suka menyulitkan mahasiswa.
"Oh jadi karena itu. Kalau begitu mas akan perbaiki sifat mas. Mas janji ngak akan kayak gitu lagi. Jadi kita udah baikankan? Kamu udah ngak marah lagi kan sama mas?" Ujar Arkan sambil memegang tangan Febri. Ia tidak habis pikir dengan Febri yang cemburuan. Tapi ia suka dengan itu.
"Kata siapa Febri belum sepenuhnya maafin mas?" balas Febri sengit. Karena ia kesal dengan jawaban Arkan yang seperti menyepelekan hal itu.
__ADS_1
"Loh kok gitu." Arkan tidak terima. Ia menatap Febri memohon untuk memaafkan nya.
"Gendong dulu." pinta Febri dengan nada manja.
"Apa???" Arkan terpaku mendengar kata itu. Ia menatap Febri bingung.
"Gendong dulu baru Febri maafin." Arkan terkekeh ketika tahu keinginan Febri. Ia langsung mencium bibir Febri cepat.
"Kalau cuma gendong mah kecil sayang."
Ia langsung bangkit dan hendak mengangkat gadis itu ke dalam gendongan nya.
"Awas aja kalau nggak kuat. Febri ngak jadi maafin." ucap Febri dengan marah.
"Jangan gitu dong sayang." ujar Arkan dengan memohon.
"Ih bukan Gendong depan mas, Febri mau nya di punggung." protes Febri ketika Arkan hendak mengangkat kakinya.
"Sayang." panggil arkan kepada Febri dengan sayang.
"Iya."
"Kamu kok tambah berat?" Tanya Arkan merasa berat badan Febri bertambah.
"Jadi kamu bilang aku gendut gitu?" Ujar Febri kesal sambil mencubit tangan Arkan. Arkan mengaduh kesakitan sepertinya ia salah bicara.
"Bukan itu maksud mas, sayang." ujar Arkan dengan lembut.
__ADS_1
"Terus apa!! Mas bilang aja mau ngatain Febri gendut." Febri membrengut kesal sedangkan Arkan meringis untuk kesekian kalinya merasa bersalah. Istrinya itu sensitif sekali seperti ibu hamil.
"Kamu nggak gendut kok sayang. Kamu ngak berat buktinya mas kuat gendong kamu. Kamu kurus kok kayak Yona SNSD." Rayu Arkan, ia jadi tahu kalau cewek itu ngak suka dibilang gendut. Padahal kan nyatanya gendut. Arkan mendesah semoga saja Febri tidak marah lagi padanya gara-gara kata gendut tadi.
"Mas." panggil Febri.
"Iya." jawab Arkan.
"Beliin Febri Martabak keju ya mas." pinta Febri tiba-tiba.
"Sekarang dek?" tanya Arkan meyakinkan Febri. Ini masih jam tiga pagi bahkan adzan subuh saja belum berkumandang. Ia yakin jalanan di luar masih gelap.
"Iya." ujar Febri.
"Mana ada yang jual martabak jam tiga pagi dek." keluh Arkan melihat jam.
"Febri maunya sekarang." Arkan menghela napas panjang. Lalu menurunkan Febri dari gendongannya ke tepi kasur.
"Kamu kayak orang ngidam aja dek. kamu beneran ngak hamil?" tanya Arkan penasaran. Ia khawatir jika istri nya itu benar-benar hamil. karena tidak biasa.
"Mas jadi mau nggak beliin kalau nggak mau Yasudah, mas tidur di luar seminggu!" Arkan terdiam mendengar kalimat terakhir Febri yang menyeramkan itu. Ia menelan ludah kemudian mengangguk dan pamit untuk mencari martabak. Lebih baik mencari dari pada ia harus tidur di luar.
*****
jangan lupa follow Instagram author @wgulla_ dan @gullastory_ ♥️♥️♥️♥️
love you ♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
semoga kita semua terlindungi dari wabah corona...
aaamiinnn....