
Arkan nampak segar sehabis mandi. Walau badannya merasa letih. Ia melangkah menuju dapur terlihat di sana anak dan istri tercintanya sedang duduk di ruang makan. Arkan tersenyum senang, akhirnya kehidupan nya kembali. Ia duduk di sebelah Alwan.
"Kamu sudah selesai belajar?" tanya Arkan.
"Sudah pa." Jawab Alwan sambil mencium tangan Ayahnya. Febri sedang menyiapkan makanan untuk Cessa anaknya.
"Makan yang banyak ya anak papa biar pinter." canda Arkan. Alwan hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya.
Ketika Arkan mengambil makanan. Ia menatap Febri. ia ingin menyapa istrinya itu. Tapi Febri seperti biasanya menatap dirinya seolah-olah kuman yang harus di hindari. Arkan mendesah. padahal ia ingin sekali makanannya di ambilkan oleh istrinya. Namun ada hal yang membuat Arkan tertarik yaitu disaat Febri tidak makan nasi namun hanya makan cireng yang di belinya tadi.
"Kamu tidak makan sayang?"
"ngak laper," jawab Febri singkat.
Arkan menaikan alisnya, apalagi Febri yang bisa dengan cepat menghabiskan cireng-cireng itu.
__ADS_1
"Ambilin mas dong sayang."
"Kamu udah tua mas, udah mau punya anak tiga masih aja manja kayak anak kecil."
"Anak tiga? satunya siapa sayang kamu hamil?" Febri mengutuk dirinya yang keceplosan. Bagaimana ini ia tidak ingin Arkan tahu jika ia sedang hamil anaknya sekarang. Febri memikirkan cara agar Arkan tidak tahu.
"Maksud Febri dua mas, siapa yang ngomong tiga."
"Tadi kamu ngomong tiga?" Arkan menatap Febri curiga. Febri menelan ludah gugup. Namun tiba-tiba ucapan Alwan membuat perhatian teralihkan.
"Arkan anak papakan?" Alwan tahu walaupun ia bukan anak bunda Febri tapi ia yakin jika ia anak Arkan.
"Kamu anak papa sampai kapanpun sayang."
"Sejak kapan pria itu mendekatimu?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Kemarin. Tapi Alwan menghindar, karena Alwan tahu papa Arkan ayah Alwan." ucapan Alwan membuat Febri sedih. Ia sedikit khawatir jika Alwan akan pergi dari hidupnya. Ia sudah menganggap Alwan sebagai anaknya sendiri. Febri jadi tidak nafsu untuk makan. Ia meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamar. Arkan yang melihat itu berpikir sejenak. Ia bisa menangkap raut wajah kesedihan di mata Febri.
"Kak Al, kamu jaga Cessa dulu. Papa mau nyusul mama dulu." Alwan mengangguk anak laki-laki itu pindah duduk di sebelah Cessa membantu Cessa makan bahkan menyuapi adiknya penuh kasih sayang.
Arkan menghampiri Febri yang duduk di pinggir kasur. Gadis itu ternyata sedang menangis. Arkan mendekat dan memeluk Febri. untungnya gadis itu tidak menolak pelukannya malah merapatkan pelukannya sambil terisak.
"Mas aku takut hikss.. aku takut hikss.. jika Al akan di ambil dariku.. aku takut Al meninggalkan kita." Arkan mengelus punggung Febri mencoba menenangkan.
"Bagiamana jika Al pergi... Febri ngak mau... hiks..hiks..."
"Alwan anak Febri sama mas kan?"
"Al anak kita...hikss...hiks..."
"Tenang sayang, mas tidakak akan membiarkan siapapun merebut anak-anak kita. Mas akan jaga Al di keluarga kita."
__ADS_1