My Future Husband

My Future Husband
BAB 54


__ADS_3

Febri mengerjapkan matanya tubuhnya terasa kaku, Febri merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Tapi ia tidak mempedulikan itu, ia diam menanti dokter selesai memeriksanya sampai dokter itu pergi. Dokter tidak mengatakan apapun, selain istirahat yang cukup. Ia masih ingat kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit.


Semua kejadian itu berputar di memorinya mulai dari Alwan yang meminta izin untuk membeli minum lalu sebuah mobil yang hampir menabrak Alwan dan dia yang menyelamatkan Alwan. Seketika ia ingat akan Alwan dan bayi dalam kandungannya.


"Mas, Alwan dimana?" Tanya Febri melihat sekeliling tidak menemukan anak laki-lakinya itu.


"Alwan baik-baik aja kamu tenang dia rumah sama ibu." Febri menahan napas lega. Lalu Arkan seakan tidak membahas anak berarti Arkan belum tahu kehamilannya dan bayinya berarti baik-baik aja. Dokter tadi juga tidak mengatakan apapun mengenai kondisinya. Yang terpenting adalah Alwan selamat. Lalu ia merasa ingin buang air kecil.


Febri bangkit untuk duduk, Arkan membantu Febri, "Mas Febri mau ke kamar mandi." ketika Febri ingin menurunkan kakinya untuk pergi ke kamar mandi, kakinya kaku tidak bisa ia gerakkan. Ia menjadi panik. Apa yang terjadi pada dirinya kenapa ia bisa seperti ini.


Febri menatap Arkan, "Mas kaki Febri kenapa ngak bisa digerakin," seru Febri.


Arkan diam, "Mas Arkan." panggil Febri sekali lagi.


"Kaki kamu masih sakit belum boleh buat jalan" ucap Arkan cemas, berharap Febri belum tahu kalau ia lumpuh, bukan sekarang saatnya untuk memberitahu Febri toh dokter juga berharap masih ada kesempatan untuk Febri berjalan. Dan soal kehamilan ia juga belum berani memberitahu Febri. Sepertinya perempuan itu juga belum menyadari.


"Sini mas bantu," Arkan langsung mengangkat tubuh Febri menuju kamar mandi.


"Mas malu, Febri mau buang a-" keluh Febri. Ia tidak mungkin buang air kecil di depan Arkan suaminya.


"Kamu itu sama suami sendiri malu," balas Arkan sambil terkekeh. Padahal mereka sudah menjadi sepasang suami istri dan sering melakukan hal-hal dewasa tapi Febri masih malu padanya.


"Tapi mas," bantah Febri.

__ADS_1


"Tidak ada bantahan."


Febri diam, ia menuruti perkataan Arkan. Febri berjanji jika ia sudah sembuh ia tidak akan merepotkan suaminya, ini hanya sementara efek dari kecelakaan. Mungkin beberapa hari lagi ia akan bisa berdiri bahkan berlari, Febri tersenyum membayangkan hal itu.


***


"Mas, nanti anterin Febri ketemu anak-anak." Gerakan Arkan memotong apel berhenti mendengar ucapan Febri.


"Untuk apa?" tanya Arkan.


"Febri mau tahu keadaan Alwan."


"Kamu lagi sakit. Al baik-baik aja tak perlu khawatir."


"Mas denger ngak sih yang Febri bilang." Keluh Febri merasa di cuekin Arkan.


"Nanti kita ketemu anak-anak kalau kamu sembuh." putus Arkan.


"Tapi mas." Febri merajuk, mulutnya terbuka melihat itu Arkan menutup mulut Febri dengan apel yang dipotongnya, Febri kaget. Ia menatap Arkan sebal, tapi Arkan sebaliknya malah tersenyum lebar melihat Febri menerima suapannya.


"Mas" panggil Febri sambil mengunyah.


"Iya, habiskan dulu sayang." Arkan berusaha untuk menahan Febri agar tidak semaunya sendiri. Demi Tuhan dia masih sakit dan baru sadarkan diri tapi kemauannya sudah banyak sekali.

__ADS_1


"Mas mau ngak punya anak lagi?" Tanya Febri ia ingin mengatakan kepada Arkan mengenai anaknya yang sekarang ia kandung. Ia belum sempat mengatakan tentang bayinya.


Arkan terdiam mendengar itu. Berarti Febri tahu kehamilannya. Ia jadi merasa bersalah jika Febri tahu bahwa anaknya tidak terselamatkan. Ia bingung mau menjawab Apa. Dan ia juga tidak bisa berbohong.


"Mas kenapa kok diem?" Febri menatap Arkan curiga.


"Mas apa yang kamu piki-" ucapan Febri terpotong dengan ciuman Arkan yang mendadak, Arkan melepaskan ciumannya. Matanya menatap Febri lembut, binar cinta melekat di sana. Febri menunduk malu, padahal Arkan sudah sering menciumnya tapi tetap saja pipinya akan terasa panas dan bersemu merah.


"Sebaiknya kamu tidur." Ucap Arkan pada Febri, ia belum berani memberitahu Febri tentang keadaannya yang sebenarnya. Sungguh ia ingin punya anak. Tapi kenapa takdir begitu kejam membuatnya terpisah dengan buah hati yang bahkan belum dia tahu keadaannya.


Arkan mengambil selimut lalu menutupi tubuh Febri yang terbaring di kasur. Kemudian Arkan mencium kening Febri.


"Sleeptight,"


"love you Febri."


"Love you too" guman Febri memejamkan matanya yang terlelap dalam tidur.


Arkan tersenyum kecil mendengar balasan itu, ia tidak ingat kapan terakhir kali mereka seperti itu. Arkan kembali mengecup kening Febri dan ikut berbaring di samping Febri sambil memeluknya.


"Maafkan mas, mas hanya tidak ingin gagal menjadi seorang suami untuk kedua kalinya. Apalagi aku telah gagal menjadi seorang ayah," ucap Arkan ketika ia rasa Febri sudah tertidur lelap.


Tangan Arkann bergerak mengelus perut Febri, menemani lelap tidurnya karena kelelahan. Hari ini sungguh berat dan dia tidak bisa berbuat apapun selain berharap kepada Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2