
"bagaimana? Apa semua korban bisa selamat?." Tanya Sanjaya yang baru saja sampai di rumah sakit.
Dirinya segera berlari tadi mendorong tubuh Dimas agar segera diobati.
Sekarang Sanjaya harus mengurus semuanya dengan adil. Karena memang begitu banyak korban yang terluka parah.
Dimas sudah dimasukan ke dalam ruangan bedah. Hari ini langsung mendapatkan operasi bedah pengangkatan peluru tembak.
Sanjaya tak perlu khawatir pasti semuanya berjalan lancar. Apalagi melihat kondisi Dimas tadi dia menjadi terharu atas pengorbanan-nya.
Tadi setelah memastikan jika Dimas sudah masuk ke ruang operasi. Dan aman tidak ada kebutuhan lainnya ia pun pergi ke ruang Dokter Danu.
Tak perlu khawatir siapa yang akan menunggu tentu saja itu Delima.
"Bisa pak. Tapi ya melihat dari lukanya, butuh proses yang panjang." Balas dokter Danu tersenyum.
Sanjaya saat ini sedang duduk di ruangan khusus dokter Danu. Dia harus mendatangi ruangan itu saat tiba disini.
Begitu banyak korban membuat Sanjaya pusing dan frustasi. Tapi sebisa mungkin dia bersikap profesional.
Bukan hanya mengurus korban saja. Pikiran Sanjaya harus terpecah ke beberapa titik. Mulai dari pekerjaan, keluarga dan juga kasus hilangnya Kinara.
"Berapa korban yang meninggal? Luka parah serta luka ringan?." Tanya Sanjaya melihat dokter Danu. Setelah beberapa saat tadi dia hanya menunduk.
Dokter Danu mengambil selembar kertas berisikan data pasien lengkap. Dia menyerahkan ke arah Sanjaya agar dapat membaca secara langsung.
Sanjaya membaca total jiwa yang meninggal. Ternyata cukup banyak. Dari 200 orang yang dikerahkan Dimas kala itu. Total korban yang meninggal 75 orang.
Sanjaya tak bisa bayangkan betapa kagetnya keluarga mereka saat tau ini.
Setelah itu Sanjaya membaca korban yang terluka ada 125. Yang dimana masih dibagi di korban luka parah dan korban luka ringan.
Yang terluka parah sebanyak 50 orang. Tadi Sanjaya sudah mengecek seperti apa lukanya itu. Seperti sayatan di tangan serta punggung.
Sedangkan di bagian korban luka ringan ada 75 orang yang terluka. Luka ringan itu seperti beseran kecil atau bekas habis saling pukul.
"Baiklah urus semua dengan baik. Masalah administrasi saya akan bayar sampai mereka sembuh." Ujar Sanjaya lemah.
Danu tersenyum ke arah Sanjaya. Tanganya mengambil selembar kertas itu lalu menaruhnya di tempat aman.
"Tentu pak. Kalau boleh tau apa bapak ketua mafia?." Tanya Danu masih dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Bukan!."
"Lantas kenapa saya melihat seperti habis diserang pasukan mafia?." Tanya Danu heran. Tidak biasanya jika dirinya mendapatkan pasien yang kebanyakan luka sayatan dan juga tembak jika bukan dari mafia.
"Putriku diculik anggota mafia. Kami berusaha melawan, tapi rupanya tetap saja kalah." Ucap Sanjaya menatap sendu. Dia benar-benar kecewa dengan tindakannya.
"Beurusan dengan mafia memang tidak mudah pak. Bahkan polisi saja mereka tidak takut. Semangat ya pak Sanjaya, saya yakin putri anda segera ditemukan." Ucap Danu tersenyum. Rasa empatinya memang sangat tinggi.
"Hmm. Terimakasih pak. Kalau gitu saya permisi dahulu." Pamit Sanjaya. Rasanya semua urusannya sudah selesai.
Danu berdiri menyalami Sanjaya. Ia tahu Sanjaya ini Orang penting. Akan ada banyak orang yang menghormatinya
*
*
*
Kenzo dan Delima duduk di kursi tunggu depan ruangan operasi bedah Dimas. Lampu masih menyala dengan terang. Warna merah yang selalu mendebarkan hati.
Delima pasrahkan semua kepada Tuhan. Ia yakin operasi itu bisa berjalan dengan lancar.
Beberapa kali delima melihat ke arah lampu. Dan operasi bekum juga selesai. Jika lampu mati barti operasi sudah dilakukan. Tapi ini? Masih menyala saja.
Delima terdiam melihat suaminya berjalan ke arahnya. Senyumnya merekah menyambut Sanjaya dengan baik.
"Gimana mas? Apa semua sudah selesai?." Tanya Delima. Dia menarik Sanjaya agar duduk di dekatnya.
Sanjaya menurut. Dia langsung duduk di dekatnya Delima.
Ia langsung memeluk tubuh Delima. Tapi dirinya hanya diam tak menjawab. Sekarang yang ia butuhkan hanya waktu untuk tenang bersama istrinya.
Delima mengusap kepala Sanjaya. Tahu jika Sanjaya sedang banyak masalah. Beberapa kali delima mengecup kening Sanjaya. Memberikan rasa nyaman yang sangat besar.
Kenzo menatap kedua orangtuanya itu dengan perasaan sedih. Dia mengamati wajah ayahnya yang sedih. Sepertinya beban papanya itu berat.
"Ada apa mas?." Tanya Delima. Ia tidak berhenti mengelus kepala Sanjaya.
"Tidak ada sayang. Hanya ingin seperti ini saja." Balad Sanjaya tersenyum.
"Sungguh?."
__ADS_1
"Iya sayang. Mas capek aja, setelah ini pasti baik-baik aja." Saut Sanjaya.
"Apa semua administrasi sudah selesai mas?."
"Sudah sayang. Semua lunas." Jawab Sanjaya tersenyum.
"Apa operasinya bekum selesai?." Tanya Sanjaya melirik ke arah lampu di atas ruangan itu. Rupanya masih belum selesai.
"Belum mas. Lama sekali bukan? Aku takut jika Dimas terjadi sesuatu." Ujar Delima menceritakan kecemasan.
"Tidak masalah. Mungkin peluru itu sudah masuk terlalu dalam sehingga para dokter kesulitan mengeluarkan." Jelas Sanjaya. Dia melihat wajah Delima khawatir.
"Iya mas." Jawab Delima. Matanya melirik Kenzo. Putranya itu ternyata sibuk dengan ponselnya.
Sanjaya menatap Delima. Matanya tak sengaja melihat lampu ruang operasi sudah padam. Itu artinya operasi sudah selesai. Tinggal menunggu hasil dari dokter yang menangani.
Ceklek!
Sanjaya dan Delima segera mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruangan. Mereka tampak berseri-seri. Mungkin senang sekali melihat sahabatnya bisa diselamatkan.
Kenzo juga ikut berdiri. Ingin lebih tau tentang kabar om Dimas.
"Bagiamana keadaan Dimas dokter?." Tanya Sanjaya langsung menyerbu dokter Darma.
Darma menyipitkan matanya. Mungkin dia tersenyum kearah Sanjaya. Setelah itu dia melepaskan masker di wajahnya.
"Dua peluru sudah diangkat." Jawabnya tenang.
"DUA?!!!." Jawab mereka kaget tak percaya.
"Ya! Dua tuan, satu di dekat bagian ulu hati dan yang satu lagi di dekat kakinya." Saut dokter Darma.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang dok? Apa kami sudah boleh menjenguk." Tanya Delima.
"Untung saat ini jangan dulu. Paduan sedang beristirahat karena pengaruh obat bius. Lukanya sangat parah. Saudara Dimas kehilangan banyak darah tadi, jika tidak dibawa segera pasti ia akan mati." Jelas dokter Darma.
Sanjaya menitikan air matanya haru. Ternyata usahanya tidak terlambat. Karena pada akhirnya Dimas bisa selamat. Walaupun sebenarnya dia harus berjuang menahan rasa sakit.
"Terimakasih dokter Darma." Jawab Sanjaya pelan. "Daya bersyukur karena Dimas bisa selamat sekarang."
"Sama-sama tuan Sanjaya. Itu semua sudah menjadi tugas saya." Balas dokter Darma tersenyum. "Kalai begitu saya pamit dulu."
__ADS_1
Sanjaya mengangguk. Dia memberi jalan dokter Darma untuk keluar. Untuk saat ini perasaannya cukup tenang karena Dimas sudah ditangani. orang yang berharga dihidup-nya sudah selamat.