My Future Husband

My Future Husband
BAB 18


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, langit mulai kelabu mentari sebentar lagi juga akan terbenanm. Terlihat juga suasana kampus yang sudah hampir sepi. Hanya ada beberapa orag yang berlalu-lalang disana.


Arkan menuruni tangga, langkah kakinya berhenti melihat Febri berdiri di depan gedung seperti sedang menunggu seseorang. Rahang Arkan mengeras, apa Febri akan janjian dengan Dikau, Arkan tidak menyukai fakta itu. Cukup tadi pagi Arkan sabar melihat Febri bersama laki-laki lain. Arkan melangkah cepat menghampiri Febri. Arkan menarik tangan Febri keras, ia membawa Febri menuju kembali ke tangga. Arkan tidak peduli dengan suara ringisan Febri ataupun keenganan Febri bersamanya.


“Lepaskan pak,” Ringis Febri, langkah kaki mereka tiba di lantai teratas.


Febri meringis merasakan kaki dan tangannya yang terseret paksa oleh Arkan. Ia menatap sekeliling melihat pemandangan yang berada di depannya. Arkan membawanya ke rooftop, ini kali pertama Febri ke tempat ini. udara sejuk menyapanya, namun semuanya langsung berubah dengan tatapan mata Arkan yang tajam memandangnya. Febri menelan ludah, apa yang telah ia perbuat, apa ia melakukan kesalahan.


Febri mundur beberapa langkah, ternyata Arkan mengikuti jejak langkahnya. Hingga ia terhenti di pagar pembatas gedung itu. Febri merasakan belakang kakinya menyentuh dinding. Bola mata Febri menatap Arkan waspada, karena Arkan menatapnya seakan-akan ingin memakannya.


“Pak Arkan, mau apa,” ucap Febri.


“Saya hanya ingin mengklaim istriku, sebagai milikku. Sekarang.” Arkan mencium Febri tiba-tiba, mata Febri membulat tak percaya mendapat ciuman mendadak, namun Arkan tak berusaha melepaskannya ketika Febri memberontak. Febri menerimanya dengan pasrah hinggal lututnya lemas.


Arkan menangkap tubuh Febri memenjaranya dalam pelukan. Lalu melepaskan ciumannya pelan namun tangannya mengenggam tangan Febri erat.


“Aku pria egois. Aku menginginkan dirimu, hatimu, jiwamu, senyummu, perhatianmu. Semuanya Febri! Hanya untukku bukan laki-laki lain termasuk Dikau.”


Febri menatap Arkan tak kalah tajam, nafasnya memburu.


“Aku tidak menyukaimu, Pak Arkan.” Ujar Febri marah. Ia marah karena merasa di lecehkan oleh Arkan pria itu menciumnya tanpa ijin, walaupun ia berstatus suami tapi tetap saja Febri tidak suka di paksa. Ia tidak ingin di paksa oleh siapapun termasuk Arkan.

__ADS_1


Wajah Arkan memerah, kedua lengan Febri di cengkramnya keras. Febri meringis kesakitan menahan sakit, ia baru tahu sifat Arkan yang sekarang terlihat sangat menakutkan, tapi ia tidak boleh kalah oleh Arkan, jika ia terlihat lemah maka Arkan mendominasi hidupnya, Febri tidak meginginkan itu.


“Kenapa Febri? Bukannya dulu kamu suka menyimpan foto saya. Apa kamu menyukai anak ingusan itu?! suara Arkan berdesis naik, Emosi Febri tersulut ia tidak ingin diperlakukan seperti ini, seumur hidup ayahnya tidak pernah berbuat kasar padanya. Namun Arkan pria ini menyakitinya.


“Katakan tidak, Febri. Kamu milikku.” Arkan menatap Febri tajam, menunggu jawaban dari Febri.


“Aku menyukainya,” ujar Febri ia hanya tidak ingin Arkan memaksanya, ia ingin Arkan tahu jika ia bukan gadis yang bisa diperlakukan seenaknya. Lagi pula Febri juga bingung siapa yang ia cintai, karena jantungnya sangat ini berdebar kencang untuk Arkan perasaan yang sepertinya pernah ia rasakan dulu, entahlah Febri bingung, ia seperti pernah merasakan hal seperti ini. rasanya DEJAVU.


Ia seperti sudah mengenal Arkan lama, dan sudah tidak asing dengan pria ini. Bukankah mereka baru saling mengenal ketika kuliah.


Arkan menatap Febri tajam, tanpa sadar ia mencengkram erat bahu Febri. Ia tidak suka mendengar jawaban Febri.


“Kamu pasti bohong, katakana jika kamu adalah milikku Febri.”


“Tidak, kita menikah bukan karena cinta. Bapak yang memaksa saya untuk menikah dengan bapak. Bapak tidak punya hak atas saya,”


“Pak Arkan jahat, hiks”


“HIKS,,,HIKSS,,,HIKSS”


Febri menggeleng keras menolak Arkan. Febri menangis menahan rasa sakit. Melihat itu Arkan mengendurkan pegangannya, ia tidak sanggup melihat airmata itu. Arkan salah, caranya untuk membuat Febri salah, ia terlalu kasar. Ia juga terlalu cepat menjadikan Febri miliknya padahal Febri tidak menyukainya sekarang, andai Febri mengingat masalalunya dulu, pasti ia akan memilih Arkan. Arkan mendesah, ini juga salahnya kenapa sikapnya juga bisa menjadi pemaksa seperti saat ini.

__ADS_1


“Maafkan saya,” Arkan menghapus deretan airmata yang jatuh di wajah Febri. Kemudian ia memeluk tubuh Febri erat. Febri tidak menolak ia menikmati pelukan hangat itu, entahlah kenapa, padahal ia sangat marah pada Arkan tapi tubuhnya menolak dan menikmati semua perlakuan Arkan padanya. Arkan mengecup kening Febri berulang kali.


“Saya cemburu melihat kamu bersama Dikau, saya tidak menyukai kamu bisa bersikap baik pada Dikau tapi tidak bersama saya. Padahal yang saya inginkan hanya melihat kamu bahagia bersama saya. Saya mencintai kamu Febri. Hanya kamu dulu dan sekarang.”


Febri menghapus airmatanya, ia menatap lekat mata Arkan. Pria itu Nampak tulus mengatakannya. Namun ucapannya penuh misteri membuat kepalanya sakit.


“Berikan saya kesempatan untuk membuat kamu mencintai saya lagi,” ujar Arkan. Febri terdiam, ia terasa ambigu dengan ucapan Arkan yang mengatakan ingin membuatnya mencintai Arkan lagi, apakah ia pernah mencintai Arkan sebelumnya. Febri terlalu sibuk dengan pikirannya hingga ia tidak menyadari Arkan yang menciumnya lagi, bertepatan dengan adzan maghrib yang berkumandang dan matahari yang sudah lenyap hanya tinggal malam bersama mereka. Febri menikmati ciuman itu, tidak menolaknya, namun Arkan dengan cepat melepasnya kemudian mendekatkan keningnya ke kening Febri.


“Sebaiknya kita sholat terlebih dahulu,” Febri mengangguk.


Kemudian mereka berdua turun dari rootoff tersebut, gedung itu benar-benar sepi. Tanpa sadar Febri menggigil ketakutan. Arkan seakan mengerti ia menggenggam tangan Febri erat menerangkan, menuruni tangga yang beberapa cahaya lampunya sudah padam.


“Tidak apa-apa, ada saya disini,”


Arkan membawa bahu Febri mendekat dengannya.


“Pak, apakah kita tidak terkunci di gedung ini pak,” Febri menengok kanan kiri yang tidak menangkap siapapun disini. Arkan terkekeh pelan.


“Pak Arkan kok ketawa,” tiba-tiba terdengar suara barang jatuh. Febri lantas langsung memeluk tubuh Arkan. Ia menatap sekeliling dan tidak ada siapapun, suasana terasa horror, ia memeluk Arkan erat meminta perlindungan.


“Pak takut, itu suara apa,” Arkan tertawa dalam diam menertawai ketakutan Febri, ternyata gadis ini sangatlah penakut.

__ADS_1


“Tenang Febri, jika kamu takut sesuatu seharusnya saya yang kamu takuti, karena saya bisa menerkam kamu saat ini juga.” Febri cemberut mendengar itu, kemudian ia bernafas lega karena pintu gedung ini belum dikunci. Ia langsung melepaskan pelukannya pada Arkan tapi Arkan menahannya tidak ingin melepaskannya, Febri hanya pasrah.


“Kita mampir masjid sebentar yah, lalu kita makan malam.” Ujar Arkan menuntun Febri menuju mobilnya yang terletak dekat dengan gedung itu, Febri mengangguk ia sudah lelah untuk membantah, perutnya juga sudah lapar.


__ADS_2