
Arkan naik ke kasur setelah mandi. Ia memeluk Febri dari belakang. Mendekap wanita yang tertidur ini dengan erat. Ia tidak peduli jika nanti Febri terbangun dan akan memakinya seperti biasa. Ia tidak peduli lagi.
Bau harum tubuh Febri masih sama seperti dulu. Tidak berubah padahal belum ada tiga Minggu mereka berpisah tapi rasanya seperti tahunan. Disaat tidur seperti ini Febri terlihat seperti malaikat tapi jika sudah bangun seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Dengan mulut berisiknya itu. Arkan terkekeh, semoga saja ia tidak di amuk oleh Febri. Kemudian Arkan memeluk erat Febri sambil menyanyikan sebuah lagu.
***Hanya dirimu yang ku cinta
Takkan membuat aku jatuh cinta lagi
Aku merasa kau yang terbaik untuk diriku
Walau ku tahu kau tak sempurna
Takkan membuat aku jauh darimu
Apa adanya ku kan tetap setia kepadmau
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku?kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi setulus hatiku
Walau ku tahu kau takkan sempurna
Takkan membuat aku jauh darimu
Apa adanya ku kan tetap setia kepadmau
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku? kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
__ADS_1
Sungguh menyayangi setulus hatiku
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku? kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi setulus hatiku
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku? kan tetap milikku
Aku sungguh sungguh mencintai
Sungguh menyayangi setulus hatiku***
Setelah menyanyikan itu Arkan terlelap dalam alam mimpi dengan Febri dalam pelukannya. Tidurnya terasa lelap sekali.
Febri merasa badannya tertindih sesuatu yang berat. Kakinya tidak bisa di gerakkan, dan ia sulit bernapas. Mau tidak mau ia membuka mata. Ia terkejut mendapati wajah Arkan di hadapannya. Mereka tidur berdua saling memeluk dan sialnya kenapa ia merasa nyaman. Jantung Febri berdetak lebih kencang dari biasanya. Namun ia tidak boleh larut oleh perasaan ini. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Arkan hingga pria itu jatuh dari tempat tidur.
"Burgh" Arkan terbangun merasakan tubuhnya jatuh dan kepalanya terkena lantai. Sial! pasti ini ulah Febri.
Ia bangkit dan menatap perempuan itu yang nampak biasa.
"Maaf tidak sengaja." ujar Febri lalu kembali tidur. Ini masih pukul tiga pagi dan Arkan sudah mendapat penganiayaan seperti ini
Arkan berdecak sebal mendengar itu. Ia hampir saja gagar otak gara-gara istrinya itu.
"Tidak berniat minta maaf?"
"Maaf."
"Kalau itu mau kamu Febri saya tidak akan tinggal diam." Febri merinding mendengar ancaman itu. Lalu detik kemudian ia merasakan Arkan mengurungnya.
__ADS_1
"Mas mau apa!! Pergi sana! Mau aku usir!!"
"Kamu tidak rindu sama saya."
"Ngapain kangen sama buaya ngak peka kayak mas."
Arkan tertawa mendengar itu. Ia baru tahu selain pria tua ia juga mendapat julukan lain dari Febri. Yaitu buaya... hahahahah batin Arkan tertawa merasa konyol.
"Kita baikan."
"Ngak mau."
"Kita baikan atau aku buat kamu hamil lagi." Febri menelan ludah gugup! ia tidak suka di posisi ini. Lagipula apa kata pria itu mau membuatnya hamil lagi. Yang di dalam perut saja belum keluar masa mau di tambah lagi. Oh iya pria gila ini belum tahu jika ia sedang hamil.
"Dasar gila!"
"Pergi sana!"
"Saya mau cium kamu."
Arkan baru saja memajukan wajahnya hendak mencium bibir Febri. Tiba-tiba perut Febri terasa mual, dan detik berikutnya Febri mendorong Arkan. Tapi pria itu malah menahannya.
"Kamu mau lari."
"Minggir." Febri menahan mualnya tapi Arkan malah menahan pergerakan nya. Sialan sekali pak tua ini.
"Aku mau muntah."
"Bohong." kelah Arkan. Ia Tahu ini hanya akal-akalan Febri saja biar ia tidak bisa menciumnya.
"Mas." Febri berdecak kesal. Mana mungkin ia bohong.
"Tidak boleh." Dan detik selanjutnya Febri mengeluarkan muntahannya di baju Arkan.
Arkan terpana melihat itu. Sialan! bukannya dapet ciuman malah muntahan haruskah ia bertepuk tangan pada Febri. Sudah membuatnya jatuh dari tempat tidur dan ditambah muntahan.
__ADS_1