My Future Husband

My Future Husband
BAB 22


__ADS_3

Arkan pulang ke rumah ibunya, hatinya terasa sakit melihat pemandangan Febri bersama Dikau. Hanya ibunya satu-satu tempat dia mencurahkan hatinya saat ini, ia ingin terlelap di pangkuan Ibunya. Langkah Arkan terhenti ketika melihat adiknya Raina keluar dari rumah pergi terburu-buru.


"Ada apa?" Tanya Arkan melihat wajah khawatir milik Raina.


"Ibu kak, masuk rumah sakit." Raina mengatakan itu dengan cepat, sambil menarik Arkan menuju mobil. Ia langsung bergerak menuju rumah sakit yang dibicarakan oleh Raina adik perempuannya.


"Apa?" Arkan tersentak kaget, bukannya ibunya baik-baik saja.


"Kamu tidak sedang bercandakan?" ujar Arkan pada Raina, namun melihat wajah sendu Raina membuat Arkan meyakini jika itu benar. Hatinya merasa sakit, ia tidak ingin menginginkan hal itu.


"Jantung ibu kambuh," Ujar Raina pada kakak nya.


"Jantung? Sejak kapan Ibu punya sakit jantung?" arkan bingung ibunya tidak pernah memberitahunya tentang masalah ini.

__ADS_1


"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," ujar Raina tidak ingin mengatakan lebih lanjut.


Arkan menyuruh Raina masuk ke dalam mobilnya untuk ke rumah sakit. Arkan merapalkan doa dalam hati berharap Ibunya tidak apa-apa, kenapa tuhan memberikan cobaan begitu berat kepadanya? Ia tidak ingan kehilangan ibunya, Arkan menghela napas. Baru saja ia memergoki Febri dengan Dikau dan sekarang ia harus menghadapi kenyataan bahwa ibuya sakit.


Ketika Arkan sampai di rumah sakit, ia langsung menghampiri ke ruangan ibunya. Ibunya terbaring di kamar tidur terlihat lemah, Arkan langsung mengenggam tangan ibunya menciuminya penuh cinta. Iren membalas genggaman itu, meski wajahnya terasa lelah, ia begitu senang melihat wajah Arkan. Namun senyumnya memudar ketika tidak melihat Febri di samping Arkan.


"Febri kemana?" tanya Ibunya, Iren merasa aneh tidak melihat Febri di samping Arkan.


Tubuh Arkan menegang mendengar itu, tidak mungkin ia mengatakan jika Febri pergi bersama Dikau. Ia takut jantung ibunya kembali kumat, Arkan menghela napas, ia harus berbohong demi kebaikan ibunya.


"Ibu merasakan perasaan yang tidak enak terhadap hubungan kalian berdua," Arkan menelan ludahnya, ibunya mengetahui permasalahan rumah tangganya.


"Rumah tangga kami baik-baik saja bu," Ujar Arkan membunyikan sesuatu yang tidak ingin ibunya ketahui. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dan ibunya akan semakin sakit. Karena memikirkannya.

__ADS_1


"Ibu tenang saja, kemarin Arkan malah menyiapkan makan malam yang istimewa untuk Febri." Ujar Arkan mencoba merubah rawut pucat milik Iren, Iren tersenyum kecil mendengarnya.


"Arkan berjanjilah pada Ibu, Ibu ingin kamu selalu membimbing Febri. Ibu tahu pasti kamu memiliki masalah dengan Febri, jangan berbohong pada Ibu. Hanya dengan melihat sinar mata kamu saja ibu tahu kamu pasti memiliki masalah. Ibu tadi melihat Febri bersama laki-laki lain," Arkan menghela napas, ibunya dari dulu selalu tahu tentang masalahnya. Bahkan ibunya tau jika Febri selingkuh. Arkan hanya diam. Janga-jangan ibunya masuk rumah sakit karena itu, Arkan merasa bersalah.


"Febri anak baik, ia hanya belum mampu menata hatinya. Ibu meyakini jika Febri itu masih labil, ia masih mencari-cari, tapi ibu percaya cintanya untuk kamu masih ada. Kamu ingat bukan, waktu kecil Febri selalu mengikuti kamu kemana-mana bahkan dia selalu menginginkan kamu menikahinya," Iren tersenyum kecil membayangkan masa-masa itu namun karena satu peristiwa membuat Arkan memilih meninggalkan Febri, ia takut Febri terluka karenanya.


"Arkan," panggil sang ibu dengan lembut.


"Iya bu," jawab Arkan seakan siap disidang oleh ibunya. Ibunya itu seperti tahu jika ia berbohong memang naluri ibu tidak bisa di bohongi.


"Jaga Febri untuk Ibu, cintailah dia. Bimbing dia jika dia salah, tuntun dia hingga benar. Kalian sudah menikah, kamu juga sudah menikah dua kali. Ibu tidak ingin kamu gagal lagi, suaminya yang baik itu bisa menuntun istrinya bukan, ibu harap kamu mau bertahan dan memenangkan hati Febri kembali." Ibunya menasehati-nya.


"Kamu hanya perlu bersabar menghadapinya,"

__ADS_1


******


__ADS_2