My Future Husband

My Future Husband
BAB 38


__ADS_3

*****


Febri terdiam mengamati kedua anaknya yang terlelap. Alwan dan Princessa, ia sangat bersyukur walau mereka bukan saudara kandung tapi mereka bisa akur bahkan Alwan selalu melindungi putri kecil-nya itu. Alwan seumuran dengan adiknya Abimanyu. Umur kedua anaknya berjarak 5 tahun, Cessa duduk di kelas satu sekolah dasar sedang Alwan kelas enam. Andai saja Alwan tahu jika dia bukan anak kandung-nya dan Arkan. Apa anak laki-laki itu masih bisa tersenyum seperti itu? dan Sudi menjadi pelindung Cessa.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi Arkan belum tiba. Febri mendesah tidak seperti biasanya. Pria itu juga tidak menghubungi-nya sama sekali. Febri memiliki perasaan yang tidak enak. Ia keluar dari kamar anak-anaknya berjalan menuju ruang tamu. Ia mencoba menghubungi Arkan ponselnya tidak bisa di hubungi. Ia duduk di sofa dengan gelisah. Berjam-jam menunggu pria itu tak kunjung datang. Ia ingin memberikan kejutan pada Arkan, bahwa ia mengandung. Ada buah cinta mereka lagi yang tumbuh. Tapi pria itu tidak ada disini. Febri terlarut hingga memasuki alam mimpi.


Suara adzan subuh membangunkan Febri. Melihat ia masih di ruang tamu, dan tidak menemukan keberadaan Arkan membuat Febri berspekulasi bahwa pria itu tidak pulang. Kalaupun pulang Arkan pasti akan memindahkannya ke kasur. Febri mendesah pasti terjadi sesuatu. Hatinya merasa tidak enak.


Ia berusaha untuk tenang. Sekarang ia akan membangunkan ke dua anaknya untuk sholat. Sekaligus mengurus mereka untuk berangkat sekolah. Ia berjanji setelah mengantar ke dua anaknya itu ia akan pergi ke kampus untuk melihat keadaan Arkan. Apa yang terjadi pada pria itu hingga tidak pulang semalaman?


***


Febri berjalan ke ruangan Arkan. Suaminya itu menduduki jabatan sebagai Wakil Dekan Kemahasiswaan. Ia mengernyit mendengar bisikan-bisikan mahasiswa yang mengatakan jika ada dosen yang di sidang di ruang dekanat. Febri berusaha untuk tidak menghiraukan itu. Ia tetap masuk ke ruangan Arkan. Kosong, pria itu tidak ada disana.


Febri keluar dengan rasa resah. Ketika tak menemukan siapapun. Hingga ia tak sengaja mendengar bisikan mahasiswa yang menyebut nama suaminya. Jantung Febri berdetak mendengar berita itu. Ia menutup mulut tak percaya. Bahkan ia juga melihat foto-foto yang tersebar dimana Arkan dan mahasiswanya tidur bersama di dalam selimut di sebuah hotel. Ia berusaha untuk menahan tangis-nya. Ia melangkah menuju ruang dekanat.


Ketika ia sampai disana, ia melihat Arkan keluar dari ruang dekanat. Pria itu tampak kacau balau. Febri menatap nanar Arkan, berarti berita itu benar. Pantas saja semalaman Arkan tidak pulang. Jadi pria itu tidur bersama mahasiswanya. Febri menelan suaranya agar tangis-nya tak keluar. Ia harus kuat. Dengan langkah tegap ia mendekati Arkan.

__ADS_1


"Sayang." Panggil Arkan melihat Febri berdiri di hadapannya.


"Kita bicara." ujar Febri singkat dan padat ia tidak ingin berlama-lama disini ia sudah jengah dengan Arkan.


Arkan mendesah pasti Febri tahu apa masalahnya. Dalam diam mereka berjalan menuju tempat yang sepi. Ia sudah pasrah jika Febri marah pada-nya. Namun ia ingin Febri percaya jika ia tidak mungkin tega melakukan itu.


"Apa itu benar?" Tanya Febri to the points.


"Percayalah jika itu tidak benar, aku tidak mungkin mengkhianatimu sayang." Ujar Arkan mencoba menahan Febri di tengah kampus.


"Tapi kamu benar bersamanya kan kemarin." Arkan terdiam tidak bisa menjawab. Mereka kemarin semalam bersama. Awalnya ia bimbingan lalu minum setelah itu ia lupa dan bangun-bangun ia sudah disergap polisi karena ketahuan tidur bersama dan menyebalkannya ia tidak apa-apa yang sebenarnya terjadi. Untung saja ia dilindungi Reno mertuanya sehingga permasalahan ini tidak luas. Karena gadis itu yang merasa tidur dengannya meminta imbalan uang sebagai ganti rugi. Jadi masalah ini tidak di perpanjang, hanya saja ia mendapat surat pemecatan di universitas negeri ini. Namanya juga tercemar akibat berita ini.


"Aku akan membuktikan itu semua, tapi bukan sekarang." Jawab Arkan mencoba menenangkan Febri. Ia berjanji akan membuktikan jika ia benar tidak melakukan hal itu.


"Sulit bagiku untuk percaya sedang bukti menunjukkan padamu." ujar Febri melihat foto-foto Arkan bergelung bersama wanita yang tidak lain mahasiswanya di kampus. semuanya terasa nyata.


"Tapi itu belum tentu aku melakukan itu sayang. Bahkan aku tidak merasakan apapun. Aku tidak ingat apapun. Aku tidak sadar." Jelas Arkan merasa ini tidak beres. Malam itu ia tidak ingat apa yang terjadi. Seharusnya ia tidak menerima minuman dari mahasiswinya itu. Ia di jebak. Pasti ada yang ingin membuat namanya jelek, padahal ia menjadi salah satu kandidat yang akan menjadi rektor. Kalau sudah begini, namanya tercemar dan hilang sudah kesempatan jadi rektor di universitas yang dia ajar. Pasti ada yang sengaja ingin membuat-nya mundur.

__ADS_1


"Berarti kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan, bisa saja kamu melakukan itu tanpa sadar. Tetap saja kamu melakukan itu dengan wanita lain." ucap Febri jengah dengan alasan Arkan. Pria itu memang mudah sekali ngelesnya.


"Dan bukti menjelaskan kalau kamu yang tidur dengannya." bantah Febri mendengar apa yang tadi mahasiswa katakan.


"Demi Allah Febri bisakah kamu percaya padaku." Ucap Arkan mencoba meyakinkan Febri. Ia sudah tidak peduli banyak orang yang memperhatikan mereka saat ini.


"Aku akan pergi dengan Cessa dan Alwan. Jangan cari kami sebelum kamu bisa membuktikan kebenarannya." Febri seakan tak peduli gadis itu meninggalkan Arkan dalam keadaan Frustasi. Bahkan ia belum sempat mengatakan pada Arkan jika ia mengandung anak mereka yang baru berusia beberapa bulan.


Febri tersenyum pahit sambil mengelus perutnya tanpa sadar. Mengingat anak-anaknya ia jadi teringat adiknya Abimanyu yang usianya tidak beda jauh dengan Alwan. Adiknya itu begitu beruntung bisa hidup dengan orang tua yang lengkap dan memberinya segalanya baik kasih sayang dan harta. berbeda dengan Alwan yang ditelantarkan orang tuanya. Walau ia membenci Arkan ia tidak bisa membenci Alwan. Maka dari itu ia tidak ingin Alwan hidup bersama Arkan, lebih baik membawa anak itu bersama-nya dari pada bersama Arkan yang ucapannya tidak bisa di pegang.


****


jangan lupa follow Instagram author ya @wgulla_ ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


semoga kita terlindungi dari wabah corona..


love you ♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


author ♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2