
Febri terbangun, ia terkejut mendapati dirinya dalam pelukan Arkan. Pipinya bersemu membayangkan apa yang telah ia lakukan semalam. Dia memeluk Arkan sangat erat bahkan menangis di dalam pelukan pria itu. Padahal ia masih marah pada Arkan. Tapi efek ucapan Alwan semalam membuatnya sedih.
Ia tidak menyangka jika Arkan tidak akan menyerah untuk mendapatkan maafnya. Sebenarnya hatinya sudah luluh tapi egonya masih membuatnya bertahan untuk tidak memaafkan Arkan semudah itu. Ia hanya ingin memberikan sedikit efek jera. Agar Arkan mau mendengarkan kata-katanya.
Dilihatnya wajah Arkan. Tangannya tanpa sadar bergerak mengelus rahang Arkan. Pria itu masih tampan walau umurnya sudah tua. Jujur ia sudah lelah bermain seolah-olah tidak peduli dengan suaminya tapi ia hanya ingin melampiaskan rasa cemburunya.
Ketika jemarinya menyentuh bibir Arkan. Ia jadi teringat bibir itu yang dulu sering menciumnya. Ia jadi merindukan saat-saat itu. Dimana mereka saling mengecup penuh cinta. Namun tiba-tiba mata Arkan terbuka, menatapnya lekat-lekat. Ia terkejut baru saja ia ingin menarik tangannya Arkan lebih dahulu menggenggamnya.
"Mengagumi ketampanan suami sayang." Ujar Arkan dengan nada serak.
Febri kelagapan, ia berusaha menormalkan debaran jantungnya saat ini.
"Enggak kok."
"Kalau iya nggak papa sayang. Ngak dosa kok."
"PD." setelah mengatakan itu Febri membalikan diri memunggungi Arkan. Sedangkan pria itu terkekeh melihat kelakuan Febri. Dengan sekali sentakan ia menarik tubuh wanita itu memeluknya erat. Arkan mendekap wanitanya itu dari belakang.
Febri menelan ludah gugup. Sudah lama sekali mereka tidak seperti ini. Seharusnya ia memberontak dan melepaskan diri tapi bodohnya ia malah membiarkan diri masuk ke dalam dekapan pria ini.
__ADS_1
"Jangan gengsi kalau rindu." bisik Arkan sambil membisikkan hal itu di telinga Febri. Baru saja ia ingin menghirup aroma istrinya tiba-tiba perutnya terasa mual. Sialan! Arkan mengumpat untuk kesekian kalinya. Kenapa ia harus merasakan hal-hal seperti ini. Disaat-saat seperti ini. Arkan bangkit sambil menutup mulutnya menahan muntah.
"Mas kenapa?" Tanya Febri melihat Arkan menuju kamar mandi. Dia mengernyit melihat Arkan yang mual-mual. Apa suaminya itu sakit? Ia jadi teringat sesuatu ia jarang mual-mual sekarang.
Terdengar suara air kran di matikan. Muka Arkan terlihat sangat pucat. Febri mendekat karena khawatir. Ia iba melihat Arkan seperti itu.
"Nggak tahu sayang. Akhir-akhir ini mas sering mual udah kayak orang hamil aja. Kamu beneran tidak hamil?" Febri tercekat mendengar pertanyaan terakhir Arkan. Ia belum ingin memberi tahu kehamilannya.
"Kenapa kok kamu diam sayang?"
"Mas mau minum teh hangat?" Febri berusaha mengalihkan perhatian. Ia tidak ingin membahas hal kehamilan lagi. Ia akan memberitahu Arkan sekaligus memberi pria itu kejutan.
"Mas sudah makan?" tanya Febri teringat Arkan semalam menemaninya di saat ia menangis pasti Pria itu tidak akan sempat makan.
"Belum."
"Febri buatkan mie rebus paket telur mau?"
Arkan mengangguk senang. Setelah menaruh tehnya, Febri menyalakan kompor untuk membuat mie rebus.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Febri datang membawa mie tersebut. Arkan berpikir sejenak tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Arkan memijat pelipisnya, ia menatap Febri sayu seolah-olah sedang sakit. Padahal ia sudah agak baikan. Tapi ia ingin disuapi Febri. Ia ingin bermanja-manja dengan istrinya.
"Mas masih sakit?" Arkan mengangguk menjawab itu.
"Febri suapin ya. Kayaknya mas pusing gara-gara tidak makan semalam." Febri mendekatkan kursinya di samping Arkan. Ia menyendokkan mie ke mulut Arkan. Pria itu dengan senang hati menerima suapan Febri. Ia suka sekali bermanja-manja dengan istri cantiknya ini.
"Mas laper banget ya?" Tanya Febri melihat Arkan dengan cepat menghabiskan kunyahannya.
Lalu Febri menyuapi lagi. Setelah beberapa sendok, Febri melihat sisa makanan menempel di sudut bibir Arkan. Febri tersenyum melihat itu. Arkan seperti anak kecil saja. Tangannya bergerak membersihkan kotoran itu.
Hal itu membuat Arkan terpaku. Ia terdiam mendapati Febri dengan telaten membersihkan noda di wajahnya dengan senyum yang begitu mengembang. Ia jadi teringat masa-masa dulu.
"Mas kenapa bengong?" tanya Febri.
"Kamu cantik." Ujar Arkan tiba-tiba hal itu membuat Febri bersemu. Ia tidak menyangka Arkan akan mengatakan itu.
"Sekarang mas boleh cium?" Jantung Febri berdebar mendengar itu. Ia tidak menyangka Arkan akan mengatakan hal-hal seperti itu. Ia hanya diam menatap Arkan. Ia bingung harus apa. Entah siapa yang memulai duluan bibir mereka sudah terpaut satu sama lain menyalurkan rasa rindu.
Arkan mencium Febri tidak mempedulikan keterkejutan wanita itu. Bahkan suara sendok jatuh yang bergema di lantai. Febri menjatuhkan sendoknya karena ciuman itu. Ia hanya diam menikmati. Rasanya sudah lama sekali, dan sekarang rasa rindunya terobati.
__ADS_1