
Sesuai perintah tadi Bimo segera masuk di ruangannya. Sepertinya ia harus berkutat menggunakan komputer lagi.
Tanganya mengetikan beberapa huruf hingga tersusun menjadi kalimat. Dia ingin mencari dokter bedak terbaik di Indonesia saja.
Tidak perlu jauh. Jika sampai ke China pasti akan lama perjalanannya. Di Indonesia pasti ada dokter yang baik.
Barisan foto beserta identitas para dokter di salah satu rumah sakit Bimo baca satu persatu.
Ceklek!
Dito masuk dengan langkah tegapnya. Ia melihat ke arah komputer.
"Apa ini di Indonesia?." Tanya Dito.
"Ya! Gue rada ini baik dan hebat. Tidak ada salahnya jika mencoba." Ucap Bimo santai.
"Segera hubungi!!." Pinta Dito tak ingin buang-buang waktu.
Tadi seinggatnya Joe meminta agar cepat. Dan kalau bisa itu dilakukan besok operasinya.
"Sudah. Semua sudah siap dia akan datang di alamat ini."
"Pastikan semua aman." Tegas Dito.
"Aman. Sebelum masuk pasti udah di cek penjaga di luar."
"Hmm." Dehem Dito cuek. Ia berbalik meninggalkan Bimo tanpa sepatah kata. Bimo juga tidak terlalu peduli dengan itu.
Matanya kembali menatap layar di komputernya. Ia harus memastikan jika dokter itu bukan gadungan.
*
*
*
Kinara bangun saat tubuhnya terasa sakit. Matanya melihat sekeliling. Dia sudah mirip mayat hidup.
Pandangan matanya melihat alas tidur berbentuk batu.
"Ruangan apa ini?." Ucap lirih Kinara.
Dia melihat ada banyak juga pasukan menjaga Kinara. Tangan Kinara masih diborgol. Sumut sekali jika berdiri. Dia harus berdiri dengan cara pull up.
"Awhhhh." Rintih Kinara.
Secara reflek memegang disekitar lehernya. Dia sedikit memijat kulit itu. Tenyata sakit.
"Apa ini terluka?." Tanya Kinara. Tapi percuma saja tidak ada yang menjawab.
Dia akhirnya berusaha duduk dengan sendiri. Meskipun banyak pasukan di dekatnya mereka seperti buta. Tidak melihat keberadaan Kinara.
Suara rintihan itu saja bekum tentu didengarkan. Memang di Red Blood yang peduli terhadap Kinara hanya Dito.
Dito mengutus beberapa pasukanya untuk menyulap salah satu ruang yang ada di bawah. Rencananya itu akan dibuat ruangan bedah nantinya.
__ADS_1
Semua sudah dipersiapkan dengan baik oleh Dito. Ruangan itu tertata dengan rapi dan penuh dengan alat-alat bedah. Sangat mirip dengan rumah sakit.
Setelah semua sudah selesai. Dito mengecek alat itu dari persatu. Siapa tau ada yang rusak jika besok dipakai.
Ia bernafas lega karena tidak ada yang rusak sedikit pun.
"Urus semua sampai selesai! Gue pergi dulu." Pinta Dito sebelum meninggalkan ruangan itu.
Begitu banyak perkejaan Dito sekarang. Ia sangat lelah untuk hari-hari ini. Joe terlalu banyak memberikan pekerjaan.
Entah itu dari rencananya tentang Kinara. Atau bisa juga dengan bisnis Joe yang ilegal itu.
Semua itu Joe pasrahkan pada Dito secara mentah-mentah. Kadang jika lelah Dito ingin sekali keluar dari pasukan Red Blood.
Berhubung ia tidak punya keluarga. Akhirnya berusaha menetap meskipun itu sakit.
Ia berdiri dari ambang pintu. Ia bingung harus kemana lagi. Apakah isitrihat atau menghampiri Joe.
"Lebih baik gue cek keadaan Kinara." Gumam Dito pelan. Dia memutuskan untuk datang ke ruang bawah lagi.
Banyak pasukan yang melihat Dito dengan wajah tanpa ekspresi. Aura Dito tak kalah jauh dari mereka. Bagaimana lun masih tetap keren Dito.
Dari jauh Dito bisa melihat Kinara sudah sadar. Tubuhnya bersandar pada dinding.
Dito segera menghampiri Kinara dengan merekahkan senyum manisnya.
"Apa sudah baikan?." Tanya Dito.
Kinara mengangguk kepalanya cepat.
"Tentu saja! Joe hampir saja membunuh gue tadi " sungut Kinara.
"Maka dari itu jangan pernah bantah ucapan Joe." Pinta Dito pelan.
Ia mengambil minyak sereh itu lagi. "Biar gue obati."
Kinara menurut sekarang. Membiarkan Dito mengobati lukanya.
Jika dibiarkan pasti akan semakin sakit dan sulit bergerak. Lagian luka itu sulit dijangkau oleh Kinara. Biarkan saja Dito yang mengobati.
Kenapa Joe seperti itu? Apa Joe punya depresi seperti gue? Sikapnya tadi benar-benar menyeramkan. Bathin Kinara.
Joe bisa hilang kendali rupanya ketika marah. Bukankah itu sangat bahaya.
"Sudah selesai!." Ucap Dito tersenyum. Kinara langsung menatap Dito. Takut jika Dito melihat Kinara baru melamun.
"Ada apa?." Tanya Dito.
"Apa gue jadi operasi plastik?." Tanya Kinara pelan. Berharap ini semua hanya mimpi saja.
"Tentu! Lo tenang aja. Semua akan terjadi dengan baik. Lo nggak perlu khawatir gue udah urus itu dengan detail." Jawab Dito tersenyum.
Kinara menatap langit-langit ruang bawah itu. Apa ia harus rela sekarang jika wajahnya akan dipakai oleh Joe.
Dengan begiti pasti Sean akan mencintai Joe. Bukan lagi Kinara. Karena wajah mereka tertukar.
__ADS_1
Tuhan! Apa yang harus Kinara lakukan sekarang?. Bathin Kinara tersenyum getir.
Kenapa nasibnya begitu menyakitkan. Apa ia tak pantas mendapatkan kebahagiaan.
Mau sekuat apapun Kinara jika ia hanya melawan sendiri maka akan kalah.
"Baiklah." Jawab Kinara singkat.
Dito tersenyum lebar. Ia memegang tangan Kinara. Dia sangat bahagia mendengar jawaban itu.
"Kinara......"
"Ya?."
"Gue punya rahasia. Rahasia di Red Blood, tapi gue ragu Lo mau kerja sama dengan gue." Ucap Dito serius. Memandang ke kanan dan kiri siapa tau para Joe melihat.
Kinara sendiri tak mengerti. Dia mengerutkan keningnya. Tak mungkin kan jika Dito akan berkhianat dari mafia itu.
Bukankah harus rela mati demi melindungi pasukan tertinggi?. Tapi entahlah.
"Ada apa? Apa ini berkaitan dengan Joe?." Tanya Kinara penasaran.
Dito menggangguk "iya ini tentang Joe. Tapi gue akan beri tau sampai Lo mau besok melakukan operasi plastik."
"Lo mau nyogok gue? Huh dengan cara gitu gue nggak akan tertarik!!." Ejek Kinara sinis.
"Kinara gue bakal bantu Lo keluar dengan selamat. Asal Lo mau bantu gue......"
"Entahlah Dito. Gue nggak bisa buat banyak disini. Lihatlah pasukan itu, saat gue ingin duduk saja tak ada yang mau bantu gue. Percuma jika rencana Lo hanya gue yang bantuin." Tukas Kinara. Dia menghela nafas panjang.
"Baiklah. Apa Lo mau makan?." Tanya Dito.
"Emm. Apa gue boleh makan?."
"Ahaha! Tentu saja boleh!!." Jawab Dito tertawa pelan. "Lo mau makan apa?."
Kinara menaruh jari telunjuk di bibir. Pandangannya mendongak ke atas sambil tersenyum.
Sungguh sangat imut dan menggemaskan jika seperti itu. Kinara tampak seperti gadis yang belum cukup umur.
"Apa aja Dito. Yang penting gue kenyang." Jawab Kinara.
"Baiklah biar gue suruh Bimo belikan."
Kinara menahan lengan Dito. "Tunggu! Kenapa harus beli? Apa disini tidak ada dapur?." Tanya Kinara heran.
"Ada! Tapi Joe akan marah jika Lo berani masak dengan bahan yang dia beli pakai uangnya sendiri." Jelas Dito.
Kinara langsung berdecih. Segitu pelitnya kah Joe di Red Blood?. Bahkan bahan masakan saja tidak boleh dimakan eh tawanannya.
"Baiklah. Gue tunggu." Saut Kinara.
"Gue pergi dulu." Pamit Dito berdiri. Lalu tersenyum ke arah Kinara sebelum akhirnya dia meninggalkan Kinara.
Dia baik Tuhan. Tapi Kinara merasa aneh dengan sikap Dito. Kenapa dia sangat berbeda sekali. Bathin Kinara keheranan.
__ADS_1