
Febri memasukkan flashdisk untuk menyetel K-Pop. Arkan sudah berdiri di hadapan televisi dengan pasrah di dampingi Cessa dan Alwan yang sudah membawa kamera untuk merekam suaminya itu. Arkan masih menggunakan setelan kerjanya. Kemeja putih dan celana hitam.
Lalu Febri menyetel video dance Korea Super junior yang judulnya Mr. Simple. Maklum dia adalah fans veteran super junior yang terkenal pada zamannya. Suara musik berbunyi menampilkan boy band itu menari.
"Papa itu udah mulai." Seru Cessa.
"Iya sayang."
Arkan bergerak kaku, sedangkan Febri terkikik melihat itu. Kapan lagi bisa mengerjai Arkan seperti ini. Biasanya kan dia yang arogan setengah mati dan selalu mengaturnya sesuka hati. Rasakan itu pak tua! semoga saja pinggang mu encok semua! batin Febri menyeringai.
"Ayo pa! Ayo!" Mau tak mau Arkan mengikuti video itu. Alwan dan Cessa juga merekam semua itu. Pria itu menggerakan badannya seirama dengan lagu. Entah kenapa tubuh Febri jadi panas dingin melihat itu. Gerakan Arkan terlihat seksi di matanya. Apalagi tubuh Arkan yang masih bagus dan tegap di umurnya hampir pertengahan abad. Menambah seksi setiap pergerakan Arkan. Mungkin ini hormon bawaan bayi. Jadi ia tidak bisa menahannya ada dorongan ingin menyentuh Arkan namun Febri menahannya. Sialan! ia malah kena karma dari ulah nya.
__ADS_1
****
"Sudah puas?" Tanya Arkan ketika Febri sudah selesai menidurkan ke dua anaknya.
Febri menelan ludah melihat Arkan berdiri di ambang pintu mengurungnya. Padahal baru saja ia ingin masuk ke dalam kamar. Tapi Arkan menahannya, pria itu masih di sini.
"Pulang sana!!" Usir Febri.
"Aku tidur di sini bersama mu." Ujar Arkan dengan suara tegas.
"Dengan atau tanpa persetujuan mu aku akan tidur di sini!"
__ADS_1
"Aku mau mandi." lanjut Arkan.
"Terserah." Febri langsung tertidur di kasur tidak memperdulikan Arkan. Pria itu sibuk membuka lemari mencari sesuatu.
"Ternyata kau membawa baju favoritku." Ujar Arkan menemukan kaos dan celana boxer nya di lemari Febri. Pantas saja ia cari di rumah tidak ada. Ini adalah baju yang pertama kali Febri pilihkan untuknya.
Mendengar itu pipi Febri bersemu. Ia memang sengaja membawanya. dan akan memakai nya ketika ia begitu merindukan Arkan. Rasanya ketika memakai baju itu ia seperti sedang di peluk dengan hangat. Febri menyukai hal itu. Ia malu sekali. Pasti Arkan berpikir yang tidak-tidak padanya. Namun ucapan Arkan selanjutnya tidak membahas apapun. Febri menghela napas lega.
"Aku mandi dulu. Tidur lah nanti aku akan menyusul mu."
"Aku tidak menungggu mu." balas Febri.
__ADS_1
"Aku tahu kamu begitu merindukan ku sayang. sampai-sampai baju ku kamu bawa." Skak Matt Febri langsung terdiam mendengar itu. Ia menutup mata berharap ia akan tidur lebih cepat. Semoga saja Arkan lama di kamar mandi jadi ia tidak perlu canggung tidur berdua bersama Arkan. Padahal dulu mereka tidur bersama tapi kenapa rasanya seperti pengantin baru yang mau malam pertama.
Febri menghembuskan napas. Menaruh bantal di atas kepalanya. Fokus ia harus tidur dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Ia harus jual mahal kepada Arkan.