My Future Husband

My Future Husband
Keluar dengan Selamat


__ADS_3

Suasana semakin menegang apalagi ketika operasi plastik yang diinginkan Joe gagal total.


Para pengawal dan pasukan lainnya semakin mengetatkan penjagaan baik di dalam maupun di luar rumah.


Bimo menghampiri Darma dengan wajah datarnya.


"Pergilah. Sebelum kekacauan semakin menjadi." Ucap Bimo tegas.


Darma menggeleng kepalanya. Ia tidak bisa meninggalkan Kinara sendirian disini. Jika Kinara disini pasti akan terluka.


"Bagaimana dengan Kinara?." Tanya Darma mendongak.


Bimo tersenyum miring dengan segala pesona yang melekat di wajahnya.


"Peduli apa anda dengan Kinara? Apa anda sudah bosan hidup, anda ingin mati ditangan kami!!." Introgasi Bimo dengan tegas.


Darma menelan slavinanya kasar. Benar juga apa yang dikatakan Bimo. Jika keluar dengan Kinara itu bukan jalan yang terbaik. Akan sangat bahaya dan pasti mengundang perhatian lainnya.


Padahal Darma hanya dokter biasa. Yang menjelma sebagai dokter operasi plastik. Tapi kenapa begitu akrab dan peduli dengan Kinara?. Darma menggeleng kepalanya pelan. Bisa gawat jika rencananya bisa terbongkar ataupun tercium oleh mafia kejam ini.


Sepertinya saya harus memikirkan cara yang lain!! Bathin Darma.


"Woy!." Sentak Bimo.


"Ah iya?." Tanya Darma gagap.


"Cepat kemasi barang anda!! Waktu terus berjalan." Sungut Bimo.


Darma akhirnya berdiri dengan tegak. Memasuki ruangan itu. Matanya melihat Kinara masih belum sadar.


Darma segera mengemasi alat-alat medis yang dia bawa. Semua itu dia masukan ke dalam tas kotak mirip seperti koper.


Mata Darma melihat sekeliling ruangan itu memastikan jika barang yang dia bawa tidak sama sekali tertinggal. Setelah semua selesai, Darma mendekati tubuh Kinara.


Helaan nafas panjang Darma lakukan sejak tadi. Dia harus meninggalkan Kinara.


"Maafin saya! Saya tidak bisa membawa kamu sampai pergi. Tapi saya janji! Saya akan memberi tahu kepada tuan Sanjaya untuk lebih cepat mengrebek rumah ini." Jelas Darma dengan wajah sendu. Dia harus memutar otaknya lagi untuk bisa menyelamatkan Kinara.


"Satu jam lagi kamu akan sadar. Dan saya harap kamu tidak kecewa dengan saya. Ini buat kamu." Ucap Darma. Dirinya mengeluarkan gelang yang bisa mendeteksi keberadaan Kinara.

__ADS_1


Gelang yang dirancang untuk melacak Kinara nanti. Darma sudah merancang gelang itu hingga tidak ada satupun yang tahu jika itu gelang pelacak.


Darma memasangkan itu di pergelangan tangan Kinara.


"Saya pamit dulu. Tolong jangan lepas gelang ini. Saya tau jika anda tengah tidak sadar, tapi anda pasti akan mendengar suara saya." Ucap Darma tersenyum lembut.


Dia segera pergi meninggalkan Kinara. Tapi belum juga pergi matanya tak sengaja melihat Kinara menitikan air mata.


Darma segera menggenggam tangan Kinara kuat.


"Jangan khawatir. Saya akan kembali bersama papa kamu! Jangan menangis! Saya akan membebaskan kamu dari sini." Ucap Darma.


"Saya harus pergi. Joe sudah mengamuk! Tolong jaga dirimu Kinara. Saya akan segera menemui Sanjaya secepatnya."


Kinara seperti mendengar perkataan Darma. Air matanya memang terus mengalir dengan deras. Sedetik kemudian cengkraman erat tangan Kinara segera mengendor.


Darma tersenyum manis. Kinara bisa merespon apa yang dikatan Darma dengan baik.


"Saya pergi dulu, Nona Kinara." Ucap Darma meninggalkan Kinara.


Kinara terbaring lemah di brangkar. Tapi pikiranya sudah aktif dengan baik. Obat bius itu tidak lama lagi akan pudar. Darma memperkirakan kurang lebih satu jam. Itu bisa kurang ataupun lebih.


"Kenapa lama?!!." Bentak Bimo.


Tapi Darma tidak marah sama sekali. Dia malah tersenyum manis ke arah Bimo. Darma tahu dia harus patuh sekarang. Setelah terbebas dari genggaman mafia ini Darma akan bergerak cepat untuk mengeluarkan Kinara.


"Sudah selesai. Mari antarkan saya pulang." Ucap Darma.


Bimo menurut pria itu mempersilahkan Darma berjalan duluan. Bimo memilih mengawal dari belakang.


Pintu utama terbuka lebar. Darma bisa melihat semua pasukan disana menyambut dengan sopan. Itu semua karena Bimo ada di belakangnya.


"Sebelum keluar, gue mau check isi tas anda!." Pinta Bimo tegas.


Darma tersenyum lalu menyerahkan tas yang dia bawa. Tubuhnya sudah diadang beberapa pasukan. Darma kesulitan bergerak tapi sebisa mungkin dia tetap tenang. Karena di tas itu hanya ada alat-alat medis.


Semua senjata mengarah ke tubuh Darma. Jika sudah terbukti Darma salah, maka benda itu akan menghancurkan tubuhnya.


Bimo sibuk mengecek tas yang dibawa Darma.

__ADS_1


Semua isinya alat-alat medis saja. Sepertinya dia memang tidak berani macam-macam! Bathin Bimo.


Akhirnya Bimo menutup tas itu dengan kasar. Lalu memberikan kepada Darma.


"Pergilah! Dani yang akan mengantarkan anda Dokter Darma." Pinta Bimo.


Semua pasukan yang menghalangi jalan Darma segera kembali ke posisi masing-masing. Darma melanjutkan langkahnya ke arah mobil sedan hitam.


Dani membukakan pintu mobil. Darma masuk da menutup pintu itu. Dia duduk dengan nafas memburu. Pikirannya sekarang tertuju pada Kinara jika dia pergi, apa Kinara akan baik-baik saja.


Dari arah kaca Darma bisa melihat, jika Bimo membisikkan sesuatu pada Dani.


"Semoga Kinara baik-baik saja Tuhan. Tolong lindungi dia sampai saya datang kemari membawa pasukan." Gumam Darma rendah.


Setelah itu Dani berjalan masuk ke arah mobil. Pakaian dia juga sama serba hitam. Mungkin memang sudah jadi ciri khas untuk mafia yang selalu berpakaian hitam.


Di mobil itu sama sekali tidak ada percakapan. Darma juga tidak berniat bertanya pada Dani yang sedang fokus mengendarai mobil


Pikirannya sekarang fokus bagaimana caranya untuk membebaskan Kinara dari genggaman mafia itu.


Sepertinya Joe ada sesuatu yang ingin di dapatkan dari Kinara, tapi apa? Bathin Darma bertanya-tanya. Pikirannya terus mengusik untuk membuka satu persatu penculikan Kinara.


Darma menjadi teringat teriakan Joe tadi. Ada satu nama yang Joe sebut. Darma memikirkan nama itu, mungkin memang pria itu yang menjadi sangkut paut oleh Kinara dan Joe.


Sean? Siapa dia? Apa dia kekasih nona Kinara? Bathin Darma.


Sebernanya masih ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Rasanya masalah ini sangat rumit.


Tapi dia yakin jika Kinara pasti akan terlepas dari genggaman mafia itu. Sanjaya tidak akan mudah melepaskan begitu saja.


Dani melihat dari center spion mobil. Terlihat jelas jika Darma melamun.


"Jangan pernah macam-macam dengan red Blood, atau hidup anda akan hancur. Bahkan beseta anggota keluarga anda, dokter Darma!!." Ucap Dani dengan senyuman liciknya.


Darma menengang seketika. Apa sedari tadi pergerakan dia diawasi oleh Dani.


"Tidak. Saya tidak tau apa-apa. Saya hanya lelah saja." Alibi Darma. Merasakan aura berbeda dari Dani.


Dirinya takut jika Darma akan membunuhnya sekarang. Maka dari itu lebih baik diam. Dan bergerak pura-pura tidak tahu. Setelah itu dia bisa bebas untuk menyusun rencana. Hal yang paling penting itu bisa menyelamatkan Kinara sekarang.

__ADS_1


__ADS_2