
"Mas," panggil Febri lembut.
"Hem." Jawab Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ia gunakan. Ia sedang memasukan nilai-nilai mahasiswanya.
"Mas." Febri memanggil lagi dengan suara yang agak keras.
"Hem."
Febri merengut kesal dengan tanggapan Arkan yang tidak menganggapnya ada. Pria itu sibuk dengan kerjaannya
"Mas Arkan." panggil Febri dengan nada sebal.
"Iya sayang." Arkan menaruh laptopnya di meja, lalu berjalan menghampiri Febri yang terbaring di tempat tidur. Arkann mengecup kening istrinya lembut, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Febri menatap Arkan sebal, bibirnya mengerucut. Ia tidak terima dengan perlakuan Arkan tadi. Pria itu mengabaikan tatapan Febri, tangannya bergerak mencubit pelan bibir istrinya yang mengerucut itu.
"Mass aappa-aapaan sisshh lleppass nggaaakkk" Febri berbicara sambil berusaha melepaskan bibirnya dari Arkan.
Arkan terkikik bukannya melepaskan ia malah mengecup bibir itu berulang-ulang. Febri terkejut mendapat kecupan itu, matanya melotot menatap suaminya.
"Mas Ar" Febri menarik tangan Arkann, agar terlepas dari bibirnya.
__ADS_1
Arkan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi istrinya itu, "Ada apa sayangku."
"Aku mau keluar. Bosen di sini terus"
Arkann terdiam, ia menatap istrinya itu mendelik. Ia tidak suka dengan ucapan Febri yang satu itu, Istrinya itu belum sembuh dan ia takut terjadi apa-apa.
"Tidak boleh." Arkan dengan tegas mengucapkan itu.
"Kenapa mas?"
"Karena kamu lagi sakit."
"Tapi mas, aku bosan di kamar terus. Aku mau keluar," Febri menegakkan punggungnya, ketika ia mau menggerakan kakinya. Kakinya terasa mati tidak bisa digerakkan. Mungkin efek kecelakaan batin Febri. Gadis itu menatap Arkan meminta bantuan untuk membantunya berdiri.
Arkan menyentuh pundak Febri lalu ia mendudukannya di kasur pelan.
"Kamu itu masih sakit sayang, mas tidak mau kamu kenapa-kenapa. Lebih baik kamu tidur," ucap Arkan.
"Tapi mas, aku mau keluar."
"Baiklah, tapi dengan kursi roda." Febri menggeleng.
__ADS_1
"Aku maunya mas nuntun sambil jalan." lanjut Febri.
"Kalau begitu lebih baik kamu tidur."
"Mas, pliss aku cuma mau jalan-jalan. Lagi pula kaki aku baik-baik saja." Febri memohon dengan wajah memelas ke arah Arkan. Dia bosan sekali di dalam.
"Sekali mas bilang tidak boleh ya tidak boleh," larang Arkan dengan keras. Ia tidak ingin Febri kenapa-kenapa.
"Kenapa mas? Kenapa mas melarang Febri," ucap Febri dengan suara lirih.
"Kamu ngak tahu betapa khawatirnya mas, mas hanya takut apa yang diucapkan dokter menjadi kenyataan. Mas ngak mau kamu kehilangan kaki kamu, mas ngak mau kamu lumpuh, tolong menge-" ucapan Arkan terpotong oleh Febri ketika tahu fakta itu.
"Kehilangan kaki? Lumpuh? Jadi kaki Febri lumpuh mas." Febri menatap Arkan sendu, lalu ia menatap kedua kakinya yang sulit digerakkan.
"Jadi selama ini mas menyembunyikan fakta jika Febri lumpuh." Ujar Febri antara kesal, sedih dan marah.
"Bukan begitu sayang." Arkan belum menjelaskan sampai selesai. Ia mengutuk dirinya sendiri yang keceplosan. Bodoh sekali dirinya. Kalau sudah begini ia bisa apa coba.
"Jadi Febri tidak akan bisa berjalan seperti dulu mas." Air mata Febri turun, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti tanpa kakinya. Apa yang akan bisa ia lakukan? Kecuali tergantung pada Arkan suaminya. Dan pada akhirnya keberadaannya hanya menjadi benalu di hidup Arkan.
Febri menangis tersedu-sedu. Ia menjauhkan badannya dari sang suami, tangan Febri mendekap mulutnya tak percaya.
__ADS_1
"Selain lumpuh fakta apa lagi yang mas sembunyikan?" Febri menatap Arkan meminta jawaban. Ia yakin masih banyak hal yang pria itu sembunyikan.